Saat Perdamaian Hanya Menjadi Komoditas

11:08


Perdamaian pada saat ini hanya laku untuk dijadikan sebuah hymne. Mungkin seperti Imagine-nya John Lennon. Mengapa? Banyak organisasi yang menyanyikan perdamaian, merayakan keinginan untuk menjaga perdamaian dunia, mulai dari organisasi pertukaran pelajar, organisasi kontes kecantikan hingga organisasi perserikatan besar yang menyangkut hampir semua negara di dunia, tetapi nyanyian itu toh hanya sebatas formalitas saja. Nyatanya, mereka yang punya kewenangan tak pernah benar-benar tahu apa yang mereka lakukan.


Banyak peserta kontes kecantikan yang menjadi duta perdamaian. Tetapi tak ada gunanya melambaikan tangan di depan green-screen dengan latar peperangan, mengucapkan bela sungkawa terhadap korban-korban perang. Atau sekadar formalitas, dengan mengenakan tiara, mengunjungi rakyat kelaparan. Tindak lanjutnya toh tak akan ada lagi, karena beberapa tahun setelahnya, putri-putri cantik berhati baik itu akan menjadikan kegiatan kemanusiaan tersebut sekadar portfolio, untuk mungkin masuk ke dunia hiburan, mencari kerja dengan jabatan bergengsi, atau menjadi anggota dewan, mungkin?


Hampir tak ada bedanya dengan organisasi pertukaran pelajar. Memang, ada beberapa di antara mereka yang masih berkutat dengan masalah perdamaian dunia, make this world a better place. Berjuang untuk kesejahteraan manusia lain. Namun sisanya? Sekadar menjadikan "pengalaman pertukaran pelajar" itu hanya sebagai portfolio. Atau ada pula yang menjadikannya tangga untuk menapaki karir-karir bagus, jabatan-jabatan bergengsi, atas nama kemanusiaan atau apapun kebaikan di dunia ini, padahal toh nyatanya mereka hanya peduli dengan diri mereka. Orang-orang narsis sosiopath ini memang banyak sekali ada di sekitar kita. Soal Perang Aleppo? Bom panci? Lagi-lagi hanya dijadikan bahan bacaan saat senggang. Padahal mereka, dengan jabatan tinggi mereka, bisa melakukan hal yang lebih daripada itu.


Begitu juga organisasi perserikatan semua negara dan organisasi-organisasi lain di bawahnya. Kita tak akan bilang bahwa mereka tidak bekerja. Pasti banyak pihak di dalamnya yang betul-betul berdedikasi untuk perdamaian dunia dan kesejahteraan masyarakat. Kita harus  yakin akan hal itu. Tetapi, pihak-pihak itu toh tertutupi oleh kepentingan pihak-pihak lain yang jelas, sarat akan nuansa politik. Siapa pemegang hak veto? Siapa yang paling berpengaruh di sana? Ini tak ubahnya seperti melihat rakyat-rakyat kecil yang menginginkan perubahan, tetapi mereka tak bisa apa-apa karena tak didukung oleh orang-orang besar di negara mereka, dan tentunya tak didukung oleh pemerintahan mereka. Begitulah analoginya?


Menyedihkan saat perdamaian sekadar menjadi komoditas bagi pihak-pihak tertentu untuk melanggengkan kekuasaan dan eksistensi mereka di arena sosial ini. Menyedihkan saat berbagai kekacauan, seperti Perang Aleppo misalnya, hanya dijadikan sebagai sebuah cerita dongeng bagi mereka, yang hanya dapat diambil nilai moralnya semata, kemudian nilai-nilai moral itu diucapkan dalam mimbar-mimbar. Padahal, mereka punya kekuasaan yang lebih dan bisa melakukan lebih daripada sekadar berpidato atau sekadar rapat-rapat formal yang tak membuahkan hasil.


Bagi kita yang tak punya kekuasaan berlebih, sebetulnya tak mengapa kalau kita memang tak bisa pergi langsung ke negara-negara perang, membela masyarakat tak bersalah di Aleppo misalnya. Tetapi mungkin kita bisa membantu dengan memberikan donasi lewat pihak-pihak terkait. Terutama bagi mereka yang sejak dulu katanya cinta perdamaian, dan ingin menjaga perdamaian itu. Jangan hanya menjadikan berita perang sebagai bacaan senggang, sekadar cerita untuk membuatmu bersyukur, atau cerita yang bisa kamu jadikan sebagai wadahmu untuk bereksistensi dan sekadar berduka cita di media sosial.


Perdamaian memang tak akan pernah ada di dunia ini. Manusia, kendati adalah makhluk sosial, tak bisa terlepas dari keinginan untuk berkuasa dan menjadi lebih hebat daripada orang lain. Tetapi, bila nafsu untuk berkuasa itu sudah sangat berbahaya dan sampai pada tingkat ekstrim, sudahlah, jangan hanya jadikan perdamaian sebagai hymne saja.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe