Pergi ke Kantor atau Tinggal di Rumah?

21.44

Pergi ke Kantor atau Tinggal di Rumah?

Jaman sekarang, banyak wanita yang memilih untuk menjadi wanita karir. Selain karena keinginan sendiri, ada beberapa alasan yang melatar belakanginya. Misalnya saja, wanita tersebut tak suka melakukan pekerjaan rumah, merasa sayang dengan gelar pendidikannya, menganggap jika wanita karir lebih tinggi derajatnya daripada yang cuma berdiam diri di rumah, mampu mendukung kebutuhan finansial keluarga, dan beberapa alasan lainnya.

Apalagi jika hidup di kota besar, taraf hidup yang begitu tinggi memaksa wanita harus bekerja agar kebutuhannya bisa terpenuhi. Selain untuk mendapatkan penghasilan sendiri, wanita juga ingin mengasah ketrampilan yang mereka punya dan juga mengembangkan ilmu yang didapat saat bersekolah dulu.

Saat ini, wanita seperti berlomba-lomba mengejar gelar dan jabatan di pekerjaannya. Seolah-olah wanita tak mau kalah dari pria. Jika tujuannya sudah tercapai, wanita tersebut akan memperoleh banyak pengakuan dan menjadi inspirasi bagi banyak orang karena bisa sejajar atau bahkan mampu mengungguli kedudukan pria.

Memang sangat sulit menghalangi keinginan wanita untuk bekerja. Wanita berhak menggejar passion dan apa yang selama ini dicita-citakannya. Kembali lagi ke masalah pendidikan, banyak yang beranggapan “untuk  apa sekolah tinggi-tinggi kalau hanya berakhir di dapur?”.

Banyak pria yang lebih menyukai wanita yang tak bekerja agar nantinya jika berkeluarga bisa fokus mengurus rumah tangga dan selalu ada waktu untuk suami dan anak-anaknya. Pria menganggap masalah mencari nafkah merupakan tanggung jawabnya sebagai suami. Tapi, sebagian pria juga berpendapat kalau wanita karir memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi dibanding wanita yang tak bekerja. Wanita karir adalah wanita yang mandiri, tak manja, dan mampu bertanggung jawab.

Bagi wanita karir yang sudah berkeluarga, jika dilihat dari segi finansial, hal ini merupakan hal yang menguntungkan. Istri bisa membantu perekonomian keluarga. Bagi keluarga modern, kedudukan suami dan istri itu sejajar. Istri bisa membantu memenuhi kebutuhan keluarga dan tidak hanya bergantung pada penghasilan suami saja.

Namun, tak selamanya mengurus rumah tangga sekaligus menjadi wanita karir itu mudah. Pasti mereka akan menemui kendala atas keputusan yang diambilnya. Wanita karir banyak mengorbankan waktu untuk urusan pekerjaan. Setelah lelah mengurus pekerjaan di kantor mereka pun tak bisa langsung beristirahat di rumah. Masih ada banyak pekerjaan rumah yang menunggu. Hal ini pun mempengaruhi tingkat kesabaran mereka, menjadi mudah marah dan stress. Tak jarang, suami atau anak yang menjadi sasaran kemarahannya.

Beberapa teman saya juga berpendapat wanita yang menikah sambil bekerja banyak menemui masalah dalam rumah tangganya. Ada sebagian wanita yang akhirnya melepas pekerjaannya dan memilih keluarga, tapi ada juga yang tetap bersikeras mempertahankan profesinya dan mebiarkan masalah rumah tangganya menjadi semakin berlarut-larut.

Sangat dilematis memang, di satu sisi ingin membantu finansial keluarga, tetapi di sisi lain perannya sebagai ibu rumah tangga jadi tak utuh karena harus membagi waktu. Setiap wanita berhak untuk bekerja, asalkan tak melupakan tanggung jawab lainnya. Tak sedikit kasus perceraian terjadi karena selisih paham antara suami dan istri yang bekerja. Mereka jadi kurang perhatian dengan keluarganya, terutama bagi anak-anak. Anak-anak lebih suka menghabiskan waktu bersama ibunya, bukan diikutkan les ini itu atau dititipkan ke neneknya.


Tak ada salahnya bagi wanita untuk bekerja, asalkan mereka sanggup untuk bisa adil akan kewajibannya di rumah dan juga di tempat kerja. Jika di tempat kerja kita dituntut untuk profesional dengan tak melibatkan urusan rumah dalam bekerjaan, hal tersebut juga berlaku ketika di rumah, jangan membawa masalah pekerjaan dalam urusan rumah tangga.

Foto: Shutterstock

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe