Parade 412, Karyawan, dan Kepentingan Perusahaan

08.59


Sejatinya, pekerjaan adalah tentang motif ekonomi. Manusia bekerja supaya dia dapat memenuhi kebutuhannya. Seseorang mempekerjakan orang lain supaya kegiatan produksinya berjalan lancar. Namun nampaknya, pekerjaan pada masa kini bukan hanya sekadar tentang pertukaran kapital ekonomi, tetapi juga tentang identitas.

Banyak orang yang memutuskan bekerja di instansi tertentu bukan karena kesejahteraannya semata, tetapi juga karena kapital simbolik. Beberapa perusahaan memang memiliki reputasi baik dan bergengsi hingga ribuan orang berebut ingin bekerja di sana. Tentunya, bekerja di perusahaan bergengsi menaikkan nilai jual mereka di hadapan banyak orang. Salah satunya mungkin, calon mertua.

Tanpa mereka sadari, bahwa perusahaan dengan gengsi yang tinggi pun, memiliki cengkraman yang lebih kuat. Perusahaan besar dan bergengsi tidak akan menganggap Anda sebagai individu, tetapi hanya sebagai angka-angka. Sebagai massa yang bisa digerakkan dan dimanfaatkan untuk hal-hal tertentu. Contohnya, seperti yang terjadi pada acara Parade Budaya Kita Indonesia, yang berlangsung pada Hari Minggu, 4 Desember 2016.

Parade ini sebetulnya memiliki nuansa yang positif: menunjukkan berbagai budaya yang ada di Indonesia, dan menegaskan bahwa Indonesia, di balik berbagai perbedaan budaya yang ada, tetapi tetap bisa bersatu. Persatuan akan menciptakan kedamaian. Hanya saja, ada sebuah “persatuan” yang nampaknya dipaksakan oleh instansi, oleh cengkraman kuat perusahaan bergengsi.

“Pasukan kuning-kuning” alias karyawan dengan seragam Artha Graha, diwajibkan oleh perusahaanya untuk mengikuti parade ini. Wajib. Memang bekerja di luar hari libur adalah sesautu yang sangat wajar, lagipula telah tertera dalam peraturan bahwa pekerja bisa berkarya di luar jam kerja selama ada upah lembur. Meski begitu, pekerjaan itu toh tetap terkait dengan Standard Operating Procedure mereka sebagai karyawan.


Agak membingungkan ketika Bank Artha Graha mewajibkan para karyawannya untuk mengikuti sebuah acara, yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan pekerjaan karyawan-karyawan tersebut. Hal ini menimbulkan prasangka banyak orang, bahwa ada unsur politik dan hubungan di balik acara ini dan Artha Graha. Kita tidak akan membahas hal tersebut, mengingat tidak ada bukti yang cukup terkait prasangka itu. Namun, dengan mewajibkan para karyawan untuk melakukan sesuatu di luar standar operasi, serta di luar segala hal yang ada hubungannya dengan Artha Graha sendiri, membuat Artha Graha seperti pihak yang memanfaatkan para karyawannya untuk tujuan tertentu.

Sebetulnya, di luar pekerjaan inti, ada saat-saat di mana perusahaan acara terkait pemasaran, misalnya bazaar, pesta, perayaan ulang tahun atau apapun, yang mewajibkan karyawan untuk hadir dan meramaikan. Hal tersebut sejatinya masihlah wajar, karena pemasaran masih punya kaitan dengan kepentingan pekerjaan di perusahaan tersebut. Namun untuk acara yang sama sekali tak mengusung nama dan identitas perusahaan, tentunya akan menimbulkan tanda tanya. Untuk apa karyawan dipaksa hadir? Kata “diperalat” seolah menjadi kata yang tepat untuk menggambarkan hal tersebut. Karyawan seolah dibayar tidak hanya untuk bekerja demi keuntungan produksi perusahaan, tetapi juga untuk keuntungan lain yang tak kasat mata.


Maka tak mengherankan kalau banyak pekerja yang kemudian merasa terasing dari dirinya saat dia bekerja. Pasalnya, perusahaan tempatnya bekerja tak hanya menyerap tenaganya, tetapi juga menyerap pemikirannya sebagai seorang individu. Pekerja menjadi tak memahami siapa yang sebenarnya dia bela, untuk apa dia hidup, dan apa yang sebenarnya menjadi pegangan hidupnya. Hanya karena merasa berhasil mencengkram dan memberikan nafkah pada pekerja untuk hidup, maka mereka merasa bahwa para pekerja itu telah menjual “jiwa” kepada mereka. Ya, kalau sudah begini, apa bedanya oknum-oknum perusahaan itu dengan cerita-cerita tentang iblis yang meminta jiwa manusia? Bahkan lebih buruk, mereka tak terang-terangan memaksa manusia untuk menjual jiwa, tetapi menggunakan kedok profesionalisme dan juga kedok-kedok lain yang seolah-olah menyangkut hajat hidup pekerja dan juga bangsa ini.

Foto: 
https://web.facebook.com/alfadhl87
https://cdns.klimg.com/merdeka.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe