Menghargai Ibu, Menghargai Wanita

22:46

Menghargai Ibu, Menghargai Wanita
Pada tanggal 22 Desember 2016, hampir semua orang mengucapkan Selamat Hari Ibu, tidak terkecuali para lelaki. Dengan bangga mereka mengunggah kebersamaan dengan Ibu, dan mengatakan bahwa selamanya mereka mencintai Ibu. Kelihatan sekali dalam foto-foto tersebut, betapa besar cinta mereka pada Ibu.

Di sisi lain, beberapa lelaki tersebut di antaranya kerap kali mengunggah dan mengomentari foto-foto vulgar. Begitu girangnya mereka dengan sajian foto-foto yang menampilkan keindahan tubuh wanita. Bahkan tak jarang, ada di antara mereka yang gemar menggoda perempuan di jalan, melirik nakal, juga merayu perempuan agar mau mempertontonkan tubuhnya. Tidak percaya? Baca saja forum-forum pornografi Indonesia. Ada banyak sekali lelaki yang melakukan aktivitas SSI alias "speak-speak iblis", sebuah istilah yang digunakan para hidung belang untuk meminta perempuan menanggalkan busananya dan mengirimkan foto tak senonoh pada mereka.

Membicarakan hal ini, bagi sebagian orang terlihat kuno. "Selow aja kali, emang cowok tuh kodratnya begitu. Suka sama cewek cantik.". Tanpa mereka sadari bahwa tidak semua lelaki yang seperti itu. Lelaki dengan spesies bajingan, mungkin lebih tepatnya begitu. Bukan semua lelaki. Tetapi entahlah, banyak yang menganggap bahwa semua lelaki pada dasarnya bajingan dan tak bisa setia.


Lelaki dan Tubuh Perempuan.

Apakah semua lelaki adalah bajingan? Apakah semua lelaki sejatinya makhluk yang ingin bebas dan ingin melampiaskan hawa nafsunya? 

Belum lama ini saya melakukan "riset kecil-kecilan" pada majalah pria dewasa di Indonesia. Hampir semuanya memuat artikel tentang tubuh wanita. Dan konotasinya jelas mengarah pada birahi dan hubungan seksual. Tubuh wanita, dalam majalah pria dewasa dijadikan objek. Begitukah definisi pria dewasa? Ya, saya belum menemukan majalah pria dewasa, baik konvensional maupun online, yang sama sekali tak menjadikan tubuh wanita sebagai objek.

Dengan pilihan bacaan sepertimi itu, sudah semestinya "lelaki dewasa" identik dengan sesuatu yang mengundang birahi. Tanpa adanya tubuh wanita, lelaki tak akan tertarik. Hal ini berbeda dengan majalah dan situs tentang wanita, yang lebih berfokus pada fesyen wanita itu sendiri dan juga pada hubungan, baik dengan kolega, keluarga, pasangan, kawan, maupun anak. Lelaki pun menjadi semakin identik dengan "makhluk yang tertarik pada hal-hal bersifat fisik semata".

Bukankah sejatinya dengan menerima fakta tersebut, berarti lelaki menjelekkan citra mereka sendiri?

Sayangnya, banyak yang secara tidak sadar membanggakan hal itu. Bangga menjadi lelaki yang bisa menilai keindahan fisik wanita. Bangga menjadi lelaki yang bisa memuaskan birahi dengan tubuh wanita yang dikondisikan sebagai objek. Bagaimanakah bila wanita-wanita itu adalah Ibu mereka? Masihkah mereka dengan bangga melakukan itu semua? Sadarkah mereka bahwa wanita-wanita yang mereka jadikan objek itu, bisa jadi memiliki anak, atau suatu saat juga memiliki anak?

Hari Ibu, bukanlah sekadar tentang bagaimana kita menunjukkan kasih sayang kita kepada dunia. Merayakan Hari Ibu, berarti kita merayakan penghormatan pada perempuan. Karena seorang Ibu pastilah seorang perempuan. Setiap Ibu pastilah memiliki tubuh perempuan, yang seringkali dijadikan objek dan dilecehkan oleh para lelaki.

Jadi, jangan ucapkan Selamat Hari Ibu sebelum kalian menghormati tubuh perempuan sebagai subjek, dan bukannya objek semata.

Foto: Pixabay.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe