Maulid Nabi, dan Cara Meneladani Nabi Muhammad

21.38


Saya masih ingat betul saat masih Sekolah Dasar dulu, ada orang yang pernah berkata pada saya dan teman-teman "Kata orangtuaku, kalau nggak bisa Bahasa Arab, susah masuk surga". Pernyataan itu sontak membuat beberapa teman menjadi ketakutan dan rajin mempelajari Bahasa Arab yang sulit di sekolah. Pasalnya, semua anak takut pada neraka.

Saya merasa tergelitik sejujurnya dengan pernyataan tersebut. Waktu itu, saya merasa kalau hal tersebut tidak adil. Syarat untuk masuk Islam hanyalah membaca dua kalimat syahadat dan bukannya harus bisa berbahasa Arab. Walaupun memang kemampuan Bahasa Arab yang baik, serta tafsir yang baik membuat kita dapat memahami Al-Quran, kitab yang diturunkan pada Nabi terakhir umat Islam, Nabi Muhammad, yang notabene memang adalah orang Arab. Tetapi jelas esensi ketaqwaan bukan sekadar fasih berbahasa Arab.

Pagi ini pun, saya membaca sebuah artikel di BBC tentang pelajaran Agama Islam di banyak sekolah di Indonesia yang lebih banyak mengajarkan tentang peperangan pada masa Nabi Muhammad SAW ketimbang kisah-kisah lain. Bahkan tentang peperangan pun tak dijabarkan alasan mengapa Nabi Muhammad terpaksa mengambil langkah tersebut. Padahal, dalam perang pun Nabi Muhammad memiliki etika-etika yang patut diteladani, seperti misalnya tak boleh membunuh musuh bila musuh menyerah, tak boleh menyakiti perempuan dan anak-anak, serta etika-etika lain yang sangat manusiawi. Lagipula, kisah tentang Nabi Muhammad tak mesti tentang perang. Banyak kisah lain yang menginspirasi, dan banyak sekali hadist selain tentang perang. Sayangnya, sisi-sisi lain Rasul tidak banyak dibahas.

Kedua cerita di atas nampaknya tak berhubungan. Tetapi, ada keterkaitannya, yakni bahwa banyak di antara kita yang tak diajarkan sifat Islam yang amat ramah. Banyak sekolah yang tidak betul-betul membedah Islam dan hanya mengajarkan "kulit luar" pada anak-anak. Banyak buku paket yang seolah-olah malas menerangkan tentang esensi Islam, tentang pemikiran Nabi Muhammad, dan hanya menjelaskan tentang dosa. Dosa, dosa, dan dosa. Kata itu selalu menakutkan anak-anak. Seolah-olah, Allah dan para NabiNya begitu kejam dan otoriter.

Kita juga sering mendengar cerita tentang ayat-ayat Quran yang dikutip begitu saja oleh orang-orang hanya untuk pembenaran bagi aksi mereka. Juga sikap Nabi Muhammad, yang seolah hanya digunakan untuk mengukuhkan sikap mereka yang dipenuhi hawa nafsu. Seperti contohnya, tentang poligami. Banyak sekali pria yang melakukan pembenaran tentang hal ini: Nabi saja poligami kok! Padahal, apa yang terjadi di jaman Nabi Muhammad dan jaman sekarang berbeda. Nabi Muhammad berpoligami dengan janda-janda tua, dan pada masa itu, cara untuk melindungi mereka adalah dengan menikahi dan menafkahi mereka. Sementara itu, lelaki jaman sekarang berpoligami dengan perempuan-perempuan yang lebih menarik dan lebih muda daripada istri mereka. Apakah hal tersebut membuat mereka menjadi sama dengan Nabi Muhammad? Tidak. Toh, di Al-Quran, disebutkan bahwa untuk dapat berpoligami, kita harus betul-betul adil. Adil ini tak hanya tentang membagi harta dua bagian yang sama, atau membagi tubuh secara rata kepada istri pertama dan istri kedua. Adil juga tentang perasaan. Manusia sekarang, manusia biasa yang jelas bukan Nabi, jelas tak ada yang bisa betul-betul adil.

Mengapa mereka tidak mengutip ayat-ayat yang menceritakan kisah toleransi Nabi Muhammad? Kesabaran Nabi Muhammad? Kesungguhan Nabi Muhammad dalam menerima cobaan dan cercaan? Segala yang dikutip hanyalah yang seolah mendukung nafsu mereka. Padahal, sebetulnya toh cara mengutip mereka juga salah. Sebuah kitab harus ditelaah dengan dalam, tak bisa hanya ayat per ayat, dan ditelaah sesuai dengan konteks jaman pada saat ayat tersebut diturunkan. Seperti saat menelaah sebuah cerita pendek, kita tak bisa menelaahnya per kalimat, tanpa terikat masalah ruang dan waktu.

Sayangnya, manusia memang tetaplah manusia. Mereka hanya mendengarkan dan melihat apa yang mau mereka percayai, dan apa yang mendukung segala keinginan mereka. Hari lahir Nabi Muhammad ini pun seolah hampir tak pernah dijadikan refleksi bagi mereka untuk betul-betul meneladani perilaku Nabi. Bahkan mungkin, hanya sambil lalu saja diingat, seperti layaknya Idul Fitri, saat yang diingat hanyalah tentang pulang kampung, opor, dan baju baru.

Sumber:
Youtube.com
__http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/01/160110_indonesia_kemenag_sejarahnabi__

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe