Kontes Kecantikan dan Pertanyaan-Pertanyaan Klise

19:18


Untuk kontes berskala internasional, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan pada ajang semacam Miss Universe, atau Miss World, berikut jawaban mereka, terlalu dangkal.


Pertanyaan-pertanyaannya masih klise. Tak berubah dari tahun ke tahun. Kalau bukan tentang menjaga alam, ya tentang perdamaian. Tetapi jelas bukan soal upaya perdamaian di Aleppo, atau bagaimanakah status pemanasan global di dunia. Pertanyaan-pertanyaannya hanya berkisar tentang pendapat mereka, tentang apa yang akan mereka lakukan, dan segala hal yang lebih cocok dijadikan soal ujian mata pelajaran PKn dan KPDL untuk tingkat Sekolah Dasar. Apa yang akan kamu lakukan untuk menjaga planet? Apa yang akan kamu lakukan untuk menggerakkan kegiatan sosial? Hal-hal itu klise, dan tidak bisa dijadikan sebagai soal untuk menggali intelektualitas.


Padahal, intelektualitas digadang-gadang sebagai salah satu hal yang dinilai dari kontes kecantikan. Brain, beauty, behaviour. Kalau memang otak mereka berskala internasional, mengapa mereka tidak mendapatkan pertanyaan detil terkait politik, ekonomi, atau sosial? Misalnya, soal start-up bubble, konflik perang di Timur Tengah, atau apapun yang memang membutuhkan wawasan luas, dan bukan jawaban klise seadanya.


Lagipula, toh yang nantinya akan lolos ke lima besar, ke tiga besar, atau menjadi pemenang bukanlah yang terpintar. Atau memang tidak ada yang benar-benar pintar? Semua jawaban mereka klise, seolah senyum dan bahasa tubuh yang anggun itu sudah menunjukkan kepintaran. Bahkan soal-soal cerdas cermat sekolah pun masih lebih berbobot ketimbang soal-soal yang diajukan dalam konteks kecantikan.


3B: Beauty, body, bitch?


Dalam sebuah wawancara, Whulandary Herman, finalis Miss Universe dari Indonesia tahun 2013 mengatakan bahwa kontes kecantikan itu challenging, menantang. Mengapa menantang? Karena bukan hanya bersaing ketat dengan para kontestan dari berbagai belahan dunia, menjaga tubuh supaya langsing, atau punya kemampuan berbicara yang baik, tetapi juga, bisa secara cerdik menjaga diri saat karantina.


Whulandary berkata bahwa para finalis semestinya tidak memberi tahu finalis lain tentang baju apa yang mereka kenakan, atau sepatu apa yang akan mereka pakai menjelang acara, karena bila mereka tahu, akan ada finalis-finalis yang melakukan kecurangan seperti menyobek baju, menyembunyikan sepatu, dan sebagainya. Behaviour? Jelas tidak. Brain? Bila mereka percaya bahwa brain alias otak adalah komponen penting, tentunya tak mungkin mereka melakukan hal yang tak berotak semacam itu. Bitchy?Semacam itu.


Para kontestan berpura-pura menjadi gadis yang tak hanya cantik, tetapi baik dan cerdas serta menghargai orang lain. Mereka bertepuk tangan saat temannya masuk final atau dinobatkan sebagai Miss Universe, tetapi betulkah tepuk tangan itu tulus? Sepertinya tidak. Semuanya hanya berpura-pura tulus supaya terlihat punya kualitas 3B: beauty, brain, behaviour.


Tak perlulah membayangkan mereka akan peduli pada rakyat kelaparan di Afrika. Kalau mereka betul-betul peduli, bukanlah melenggang di atas panggung sambil melambaikan tangan yang akan mereka lakukan. Sekadar kunjungan Miss Universe ke negara miskin tak akan mengubah perekonomian negara tersebut. Mereka hanya maskot, tak ubahnya Barame, Chumuro, Vichuan dalam Asian Games, atau maskot-maskot lucu lain yang hanya berfu gsi sebagai pajangan saja.


Untuk itu, memang pemenang kontes kecantikkan tak perlu benar-benar pintar atau mampu mengurai tentang kondisi perekonomian saat ini. Tak perlu juga membawa perubahan penting pada dunia. Karena,  memang itulah bukan yang dilakukan oleh maskot: beramah-tamah dan menyenangkan hati orang di luar, sementara, orang lain lah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan penting.

Foto:independent.ie

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe