Kembalikan Ahmad Dhani yang Dulu

23:46



Saya menuliskan hal ini sembari mendengarkan lagu Roman Picisan, salah satu karya terbaik Dewa 19 sepanjang perjalanan karir mereka. Jauh dari kata picisan, Roman Picisan mengalun dengan nada yang yang apik dan lirik yang sama sekali tak murahan. Tidak seperti lirik lagu rap para Youtubers jaman sekarang, tentunya kalian bisa mendengarkan sendiri, dan tabahkan diri kalian selama beberapa menit ke depan.

Ahmad Dhani adalah seseorang yang dianggap berjasa dalam pembuatan berbagai lagu-lagu indah Dewa 19. Banyak lirik yang kabarnya terinspirasi dari buku-buku yang dia baca. Salah satunya mungkin Arjuna Mencari Cinta, yang sempat menjadi kontroversi lantaran penulis novel dengan judul yang sama menuduh musisi asal Surabaya itu sebagai plagiator. Terlepas dari masalah itu, hampir tidak ada orang yang tidak menyukai lagu-lagu Dewa 19. Siapa pula yang tidak jatuh cinta dengan patahan lirik ini: Lusuh lalu tercipta mendekap diriku. Hanya usang sahaja kudamba Kirana. Mungkin akan sangat jarang kita temukan kata-kata puitis nan sastrawi semacam itu di lirik-lirik lagu jaman sekarang. Rasanya, kalau Bob Dylan saja bisa mendapatkan Nobel Sastra, Erwin Prasetya dan Ahmad Dhani, penulis lagu tersebut, juga pantas mendapatkan Nobel Sastra.

Sayangnya, kehidupan Ahmad Dhani yang kini tidaklah sama seperti yang dahulu. Tidak ada lagi Kirana atau Dua Sejoli. Tidak ada pula lelaki berambut gondrong yang selalu identik dengan keyboard. Segala hal tentang Ahmad Dhani selalu disangkut-pautkan dengan hal-hal negatif. Contohlah, perseteruan di media sosial, ketidaksetiaan, ketidakbecusan sebagai seorang Ayah, dan juga, pelecehan terhadap lambang negara.

Entah mengapa Ahmad Dhani menjadi begini. Meminjam dari perkataan anonim, tidak ada yang tetap selain perubahan. Manusia berkembang. Termasuk Ahmad Dhani. Sayangnya, Ahmad Dhani berkembang jauh dari apa yang diprediksi orang di masa lalu.

Krisis Identitas, atau Post-Power Syndrome?


Pada aksi yang berlangsung 4 November 2016 lalu, Ahmad Dhani juga turut berbaju putih-putih dan menuntut diprosesnya Basuki Tjahaja Purnama atas dugaan penistaan agama. Dia juga membawa serta sang istri yang saat itu diperbincangkan karena tas Prada yang dikenakananya saat demo. Tetapi dalam demo tersebut, dia pun juga pada akhirnya ikut dituntut karena dianggap melecehkan simbol negara, dengan menyamakan presiden dengan binatang berkaki empat.

Ahmad Dhani tidak nampak pada aksi lanjutan yang berlangsung pada 2 Desember 2016. Mengapa begitu, tentu saja karena dia ditangkap bersama dengan 10 orang lainnya, termasuk Ratna Sarumpaet (yang hidupnya entah mengapa selalu dipenuhi protes),  Sri Bintang Pamungkas, Rachmawati Soekarnoputri, dan lain sebagainya. Beberapa di antara mereka dikenai Pasal 107 juncto Paasal 110 juncto Pasal 87 KUHP, dan ada yang terkena UU ITE, karena dianggap menghina presiden, melakukan provokasi dan upaya makar.

Orang-orang mungkin tidak akan kaget dengan ditangkapnya Ratna Sarumpaet, mengingat rekam jejaknya yang entah kenapa tak pernah henti mengkritik pemerintah. Tetapi Ahmad Dhani? Dulunya dia adalah musisi, jebolan SMPN 6 Surabaya yang membentuk band sejak SMP bersama teman-teman, menjadikan Dewa 19 sebagai salah satu band legendaris Indonesia, dan mungkin dianggap Queen-nya Indonesia. Kembali pada waktu 15 tahun lalu, rasanya kita tidak akan percaya dengan hal ini. Namun kita tahu kalau entah kenapa, beberapa tahun belakangna ini Ahmad Dhani seolah tak mampu lagi membuat lagu sebaik lagu-lagu Dewa 19. Dokter Cinta. Perempuan Paling Cantik di Negeriku Indonesia. Seriuskah, Ahmad Dhani?

Banyak yang bilang bahwa semenjak perpisahannya dengan Maia Estianty dan pernikahannya dengan Wulansari alias Mulan Jameela, Dhani seperti kehilangan semangat dan inspirasinya. Atau bisa saja, ada sebuah titik jenuh dalam hidup Ahmad Dhani, yang membuatnya tak bisa lagi mencipta karya-karya apik. Dia terlalu terbuai dengan ketenaran dan anggapan bahwa dia adalah selebriti papan atas Indonesia. Ketika belum dikenal orang, manusia dapat berkarya sesuai apa yang dia mau, dan membuat sebuah karya karena dia memang senang mengerjakannya. Setelah dia sangat dikenal, dia merasa bahwa dia harus mengikuti pasar, menyenangkan orang. Itulah mungkin yang terjadi pada Ahmad Dhani.


Atau Ahmad Dhani, tak ingin selamanya menjadi musisi hipster, yang suatu saat bisa tenggelam dan digantikan musisi-musisi lain macam Sore, Payung Teduh, Silampukau, atau White Shoes and The Couples Company. Begitulah dunia seni, bak adegan teater, para tokoh bergantian muncul, tak abadi di atasnya. Ahmad Dhani menganggap bahwa untuk melanggengkan namanya, dia harus melakukan sesuatu di luar seni musik. Mungkin membuat kontroversi. Atau jadi wakil bupati. Manusia selalu punya kehendak untuk berkuasa, dan takut dilupakan. Semacam post-power syndrome.

Namun mungkin saja, kalau Ahmad Dhani tetap setia bermusik, dan mungkin setia dengan Maia Estianty seperti kehendak anggota forum-forum gosip, dia tak akan berada di kantor polisi dengan kepala gundung dan jenggot khasnya yang entah terinspirasi dari model apa. Mungkin saja saat ini dia tak akan setenar dulu, tetapi setidaknya kantor polisi bukan tempatnya, dan cercaan serta fitnah tak akan mampir ke dirinya. Sayangnya, ada ribuan orang yang seperti Ahmad Dhani: melakukan segala cara untuk tak tenggelam.

Jadi, begitulah. Kita tak akan pernah melihat Ahmad Dhani mendapatkan Nobel Sastra atas lirik-lirik musiknya. Atau setidaknya, seperti Iwan Fals yang hingga kini masih setia untuk bermusik dan jauh dari hiruk-pikuk panggung politik Indonesia yang menjemukan.


Foto: Berbagai sumber

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe