Gelar dan Pengakuan

21:53


Apa perbedaan antara mereka yang berpendidikan SMA, S1, S2, dan S3? Menurut banyak orang, ada perbedaan cara berpikir antara lulusan SMA, sarjana, magister, dan doktor. Semakin tinggi jenjang pendidikan yang kita tempuh, maka kita pun akan dianggap semakin tajam dalam berpikir, dan intelektualitas kita pun juga semakin tinggi. Kita pun kemudian dianggap ahli dalam bidang tertentu. Apalagi bila kita sudah memasuki jenjang S2 dan S3. Dianggap telah melewati tesis dan disertasi, pola pikir kita pun dianggap telah lebih sistematis dan bijak.

Namun pada kenyataannya, banyak lulusan sarjana, magister dan doktor yang bahkan tak bisa berpikiran rasional. Contoh sederhananya, berpikiran sempit, tidak menelaah masalah dengan baik, bahkan tidak betul-betul menguasai bidang yang dipelajari. Bahkan banyak di antara mereka yang sepertinya punya pemikiran setara, atau bahkan di bawah anak yang baru lulus SMA. Soal teori pun mereka lupa-lupa ingat. Padahal seharusnya, sarjana, magister, dan doktor, harus memiliki "pisau" dalam pikiran mereka, yang mampu membelah dan bahkan membedah masalah dengan baik, rapi, dan tidak berantakan.

Kita tak bisa memungkiri bahwa saat ini, pertumbuhan kampus-kampus di kota besar Indonesia semakin pesat saja. Mulai dari kampus negeri, kampus swasta dengan akreditasi tinggi dan telah memiliki reputasi baik sejak lama, kampus swasta dengan reputasi menengah dan akreditasi yang belum lama membaik, hingga kampus-kampus swasta baru dengan akreditasi menengah. Tak hanya menyelenggarakan pendidikan strata satu, ada banyak kampus yang juga menyelenggarakan pendidikan strata dua, hingga pendidikan doktoral.

Bertumbuhnya Kampus, Bertambahnya Kepongahan

Seiring banyaknya kampus yang tumbuh dan berkembang, sebetulnya semakin banyak pula sarjana, lulusan magister, dan juga doktor. Semestinya pula kita berbangga hati karena banyak orang yang dapat menikmati pendidikan setinggi-tingginya. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, makin banyak pula orang yang mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, bukan karena memang mereka ingin mempelajari ilmu-ilmu tersebut, tetapi hanya karena mereka ingin mendapatkan kapital budaya, ingin dianggap pintar oleh masyarakat atau komunitas mereka.

Sejatinya setiap orang punya hak untuk menuntut ilmu dengan alasan apapun. Tetapi menuntut ilmu, tanpa bisa mempertanggungjawabkan ilmu yang diambil, tanpa adanya penguasaan tambahan setelah mengambil jenjang yang lebih tinggi, tentunya adalah sebuah kesia-siaan. Untuk apa memiliki gelar yang tinggi, hanya untuk dipamerkan seperti halnya tas mahal yang belum lama kita beli? Untuk apa susah-susah mengikuti kuliah di jenjang yang lebih tinggi, kalau kita tidak betul-betul menguasai apa yang kita pelajari?

Tetapi, orang-orang toh tak banyak yang mengerti. Sekali mereka melihat "Oh, mbak ini dan mas ini itu udah S2 lho! Eh, udah doktor malah!", pada saat itu pula kebanyakan orang akan mengubah pandangan pada mereka. Apapun yang dikatakan oleh "orang-orang bergelar magister atau doktor itu", oleh orang awam akan dianggap sebagai sebuah hal yang intelek. Akan berbeda bagi mereka nilai rasanya, bila dibandingkan dengan ucapan yang diucapkan oleh lulusan SMA misalnya, meskipun sebetulnya ucapan orang yang merupakan lulusan SMA itu sebenarnya lebih berbobot. Mengapa? Ini masalah konotasi. Nilai rasa. Orang malas menganalisis untuk menemukan ucapan mana yang lebih berbobot. Kecuali tentunya, kalau kebodohan ucapan para manusia bergelar magister atau doktor itu sudah sangat keterlaluan.


Beginilah. Kita hidup dalam sebuah dunia yang masyarakatnya lebih menghargai apa yang dikenakan oleh orang, ketimbang esensi yang terkandung di dalamnya. Gelar lebih dihargai ketimbang karya yang benar-benar bijak.

Foto: limitstogrowth.org

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe