"Sebelumnya Apa Ada Firasat, Mbak, Mas?"

22.29

"Sebelumnya Apa Ada Firasat, Mbak, Mas?"

"Sebelumnya, ada firasat nggak?"

Pertanyaan ini sering sekali kita temukan saat menonton berita. Keluarga atau kerabat korban diberikan pertanyaan tentang apakah mereka memiliki firasat buruk atau apapun sebelum korban meninggal dunia. Dan bukan hanya di infotainment saja. Pernyataan ini juga hadir pada tayangan berita "kelas berat" alias hard news.

Seperti misalnya, pada kasus perampokan dan pembunuhan rumah Pulomas. Salah satu kerabat korban dan juga orangtua korban diberi pertanyaan tentang apakah sebelumnya mereka memiliki firasat atau mendapatkan pertanda tentang apa yang akan terjadi di hari ini. Atau setidaknya, perilaku yang ganjil dari korban.


Selamat datang di era fantasi. Saat berita yang kalian tonton dikemas bak cerita fantasinya J.R.R Tolkien. Saat dongeng-dongeng pun terlihat dan terdengar lebih realistis ketimbang acara-acara yang mengaku mengedepankan fakta itu. Kita menonton berita yang katanya didasarkan pada fakta. Tetapi, toh unsur-unsur fantasi dan klenik macam firasat ini selalu dipertanyakan. Pada kerabat korban. Yang tengah berduka. Seolah semua manusia punya indera keenam dan mereka harus tahu pertanda kalau ada kejadian buruk dan juga kematian.

Yang bertanya pun sebetulnya bukan orang yang berlagak dukun atau tak pernah mengenyam pendidikan. Mereka, adalah para pewarta yang jelas-jelas memiliki kualifikasi pendidikan tertentu, dan telah melewati berbagai proses rekrutmen di kantor. Penyaringan, kurang lebih seperti itu. Semestinya, mereka juga diajarkan seperti apa seharusnya mereka menjalankan tugas. Semestinya juga, mereka memahami hal dasar bahwa yang namanya firasat, jelas tidak dapat membentuk dasar fakta yang kuat.

Mereka tidak akan membuat sebuah cerita fiksi. Mereka akan membuat sebuah berita yang faktanya harus dapat dipertanggung jawabkan. Firasat hanyalah membuat orang berasumsi bahwa setiap orang yang akan meninggal dunia atau mengalami musibah pastilah selalu bersikap aneh. Padahal, belum tentu. Itu sesuatu hal yang tidak sahih, dan tidak selayaknya sebuah acara yang (mengaku) faktual dan modern membawa-bawa firasat dalam sebuah musibah. 

Lagipula, menanyakan firasat pada keluarga atau kerabat korban hanyalah menambah luka baru pada mereka. Seolah-olah mereka dibuat menyesal, mengapa sudah tahu ada hal atau perasaan yang tidak beres, tapi mereka tak melakukan apa-apa dan bersikap seperti biasa. Mengapa juga, mereka tidak mendapatkan firasat yang dapat mencegah musibah itu datang? Ini jelas sudah kurang manusiawi. Pada dasarnya manusia tak dapat menebak apa yang akan terjadi. Memprediksi dengan dasar-dasar ilmiah tertentu mungkin bisa, tapi menebak, seolah manusia punya kemampuan luar biasa bak penyihir putih, rasanya sudah di luar akal sehat.

Sayangnya, masih banyak orang yang merasa tertarik dengan hal-hal irasional semacam ini, sehingga, secara timbal balik pun, media memberikan konsumsi yang tak masuk akal ini. Masyarakat pun menikmatinya dan menganggap bahwa hal-hal itu adalah bumbu yang menjadikan fakta terasa enak untuk disantap. Layaknya sinetron-sinetron ajaib yang penuh dengan drama dan juga dengan hal-hal di luar nalar. Masyarakat berharap bahwa ada hal-hal semacam sinetron atau fantasi yang hadir di dunia nyata. Contohnya seperti, firasat sebelum orang yang kita cintai terkena musibah.

Mungkin ada baiknya, ketimbang bertanya tentang firasat keluarga korban, sebaiknya para pewarta itu membuat cerita fiksi pendek saja. Tentang negeri hewan, pangeran buruk rupa, gadis cantik, dan juga penyihir putih yang meramal masa depan lewat firasat.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe