Ajang Pencarian Bakat, atau Lawakan?

20:37


Penulis: @elsadewinta


Selain menambah variasi program hiburan televisi Indonesia, program ajang pencarian bakat banyak dijadikan pemirsanya sebagai program alternatif untuk dinikmati karena jenuh menonton acara sinetron yang tak jelas alur ceritanya. Sampai saat ini, program pencarian bakat memang sedang menjamur. Dimulai sekitar tahun 2003, salah satu stasiun televisi nasional Indonesia, Indosiar, mengeluarkan program Akademi Fantasi Indosiar (AFI) yang diadaptasi dari program televisi Meksiko, La Academia. Kemudian disusul oleh stasiun televisi lainnya yang juga mengeluarkan acara serupa, seperti Indonesian Idol, X Factor, Indonesia’s Got Talent, dan acara serupa lainnya yang sama-sama diadaptasi dari luar negeri. Acara semacam ini memicu orang untuk mewujudkan impiannya menjadi artis atau bisa diakui mayarakat luas atas bakat yang dimilikinya.

Untuk semakin meningkatkan rating, program pencarian bakat inipun dikemas sedemikian rupa mulai dari juri yang kompeten, audisi peserta yang ketat, sampai pemilihan host yang mampu membawakan acara tersebut dengan baik. Namanya saja ajang pencarian bakat, ekpektasi kita sebagai pemirsa adalah bisa melihat bakat-bakat yang ditampilkan dan seperti ikut berkompetisi, sehingga emosi kita terbawa ketika tahu siapa yang akan bertahan dan lolos ke babak selanjutnya atau justru malah tereliminasi. 

Namun, seperti yang kita lihat sekarang, acara ini semakin lama semakin melenceng dari tujuan aslinya. Hanya beberapa ajang pencarian bakat saja yang masih mempertahankan kualitasnya sebagai perlombaan (itupun karena ajang-ajang ini adalah franchise dari luar negeri). Tidak percaya? Lihatlah salah satu ajang pencarian bakat yang digelar di stasiun televisi berinisial "I" dan menjadikan dangdut sebagai temanya.

Ketika segmen penjurian misalnya, harusnya juri hanya fokus menilai penampilan peserta bukan mengulur-ulur waktu membicarakan hal-hal di luar konteks penjurian. Mereka justru bercanda dengan host membicarakan yang tak ada hubungannya dengan penampilan peserta dan menyisipkan masalah-masalah pribadi antara host dan juri. Di sini, tampaknya peserta malah tidak diperhatikan, pemirsa diajak untuk menikmati bercandaan yang tak jelas. Sedikit membingungkan sebenarnya, jadi mirip dengan acara gosip atau acara lawak yang berwujud acara pencarian bakat.

Hal semacam ini tersaji di salah satu acara pencarian bakat yang saat ini sedang tayang. Ketika host sudah mengeluarkan banyolan-banyolannya dan semua penonton dibuat tertawa, memang susah untuk dikendalikan. Semuanya mengalir begitu saja sampai menembus batas kesopanan. Banyak kita jumpai para host mengatai host lain, dewan juri, atau bahkan penontonnya di studio dengan kata-kata yang cukup kasar dan layak disensor sebetulnya. Tapi mau bagaimana lagi, acara tersebut tayang secara langsung di waktu prime time pula, jadi akan susah untuk memfilter kata-kata yang sudah terlanjur diucapkan. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) nampaknya sudah beberapa kali melayangkan surat teguran, namun hal ini kebanyakan justru dianggap wajar oleh semua pengisi acara tersebut.



Porsi penampilan peserta terbilang lebih sedikit daripada selingan bercandaan pembawa acara dan juri. Oleh karena itu, ketika acara tersebut sudah selesai dan sudah menentukan siapa juaranya, kita jadi tidak ingat siapa saja peserta yang ikut kompetisi dan apa yang telah ditampilkan peserta selama acara berlangsung. Yang kita ingat hanyalah bercandaannya, gosipnya, dan tangis-tangisannya.

Sudah banyak acara semacam ini tayang di beberapa stasiun televisi nasional kita, tetapi beberapa masih belum mempunyai standar yang baku. Untuk masalah penilaian peserta pun terkadang masih kurang profesional dan tak jarang menggunakan unsur belas kasihan hanya untuk menaikkan rating 
dengan cara yang didramatisir. Ajang pencarian bakat yang diharapkan mampu menjadi angin segar setelah jenuh menikmati sinetron atau ftv yang tak mempunyai plot yang jelas, justru malah banyak menambahkan unur-unsur dramatis yang membosankan dan menganggu. 

Mungkin kita tinggal menunggu saat-saat di mana penonton merasa jengah, atau peserta merasa sakit hati dengan gurauan juri dan pembawa acara yang seringkali kelewatan, lalu kemudian, terjadilah sebuah kontroversi besar yang membuat ajang-ajang melenceng semacam itu dibubarkan.

Foto: Berbagai sumber

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe