What To Know: Positivisme, Induksi, dan Deduksi

18:11



Sudah menjadi rahasia umum bila banyak gambar-gambar dan berita di media sosial yang memuat tentang kebohongan. Terlebih menjelang pemilihan umum seperti saat ini. Banyak gambar-gambar dan berita yang penuh dengan kebohongan dan cenderung menjelek-jelekkan pihak tertentu, ditambah dengan sumber-sumber tautan dan pernyataan-pernyataan ahli yang palsu.


Bagi orang-orang yang kritis, terlebih sudah terbiasa dengan segala hal yang berkaitan dengan media, mungkin tidak mempan dengan konten-konten palsu yang hadir di sosial media. Tetapi sayangnya, tidak semua orang seperti itu. Tidak semua orang hanya mempercayai apa yang dilihat dengan indranya. Banyak orang yang mempercayai hal-hal yang memang ingin mereka percayai.


Terkait apa yang kita lihat dan kita percayai, ada sebuah aliran dalam filsafat yang dinamakan positivisme. Aliran ini menganggap bahwa ilmu alam adalah satu-satunya sumber pengetahuan yang sahih, berdasarkan data empiris, tanpa dugaan dan spekulasi. Bisa dikatakan pelopor positivisme adalah Auguste Comte, walaupun sebetulnya banyak filsuf terdahulu yang berpikir serupa dengan filsuf dan sosiolog asal Prancis tersebut. Contohnya Immanuel Kant, dengan rasionalismenya. Dia menyatakan bahwa eksistensi hal-hal di dunia ini hanya dapat dibuktikan lewat panca indera manusia.


Lama kelamaan, positivisme pun berkembang dan menjadi sebuah aliran bernama Positivisme Logis (Neo-Positivisme). Aliran ini dipelopori oleh para filsuf yang bergabung dalam Lingkaran Wina (Der wiener kreis), sebuah gerakan yang bertujuan untuk mencapai suatu metode filsafat yang ilmiah. Positivisme logis merupakan aliran filsafat yang bertujuan untuk menegaskan bahwa ilmu pengetahuan haruslah berdasarkan fakta yang jelas, dan dapat dibuktikan dengan pengamatan. Sebuah hal menjadi ada maknanya apabila dapat diverifikasi secara empiris. Untuk itu, aliran ini juga mendukung empirisme. 


Positivisme, Kritik, Induksi dan Deduksi


Namun bukannya tidak ada kritik dari positivisme logis. Selain terlaku kaku dan terpaku pada hal-hal inderawi, serta tidak menyentuh perasaan esensial manusia, ada sebuah kritik tentang positivisme logis yang dijabarkan oleh Karl Popper, seorang profesor dan filsuf asal Austria. Menurut Popper, metode induksi yang digunakan dalam positivisme logis adalah sebuah hal yang konyol. Metode induksi adalah sebuah metode untuk mempelajari sesuatu yang bertolak dari hal-hal atau peristiwa khusus untuk menemukan hukum tertentu. Melalui metode induksi, pengamatan dan eksperimen dilakukan untuk menemukan data-data dan digunakan untuk membentuk pernyataan umum. Contoh dari metode induksi sendiri adalah seperti ini:


iPhone punya kartu chip

Ponsel Android punya kartu chip

Ponsel Symbian punya kartu chip


Kesimpulannya, semua ponsel punya kartu chip.



Yang dikritik Popper dari metode ini adalah, belum tentu premis-premis yang dikumpulkan mewakili fakta yang sebenarnya. Bisa saja ada fakta yang belum dikumpulkan, dan fakta itu berbeda dengan fakta lainnya. Untuk itu, Karl Popper menawarkan metode yang menurutnya lebih tepat, yakni metode deduksi. Berbeda dengan metode induksi, metode deduksi menghubungkan premis dengan kesimpulan, seperti contoh di bawah ini:


Premis 1: Semua murid di kelas C membawa buku.

Premis 2: Dion adalah murid di kelas C


Kesimpulan: Dion membawa buku.


Di samping berbagai kritik dan tentunya sifatnya yang terlampau kaku (bahkan keindahan dalam sebuah seni pun "tidak dianggap" dalam positivisme), tetapi aliran ini sebetulnya punya andil dalam mengajarkan manusia untuk bersikap lebih kritis dan tidak mudah percaya dengan apa yang tidak betul-betul dialami oleh panca inderanya. Memang, sebagai manusia semestinya hidup kita seimbang. Terlalu terpaku pada hal-hal inderawi akan membuat hidup menjadi kaku dan seolah melupakan sifat manusia sebagai makhluk yang punya kemampuan berimajinasi.


Namun terlalu banyak berspekulasi dan tidak menggunakan panca indera untuk memverifikasi kebenaran juga seperti menyia-nyiakan kemampuan fisik yang ada dalam diri kita sebagai manusia. Terlalu banyak berspekulasi membuat kita seperti orang dungu yang hanya percaya pada apa yang ingin kita percayai, bukan pada kebenaran.

Foto: Berbagai Sumber

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe