Semesta Kecil Perseus - Mengenang Kakek [Bagian Terakhir]

21.07



Aku membuka mata. Kusadari aku tengah berada di dalam ruang rahasia Kakek. Tempar di mana Teleskop Lou ungu metalik ini berada.

Terbatuk-batuk aku mencoba mengeluarkan rasa mual. Segalanya terlihat sama nyatanya seperti sebelumnya. Tetapi, kali ini lebih berat. Kupandangi jam yang tergantung di dinding. Sepuluh menit berlalu. Baru sepuluh menit. Padahal kukira aku telah melakukan perjalanan cukup lama.

Kurentangkan kedua tanganku seraya menguap. Kusaksikan semuanya masih sama seperti sebelumnya. Juga Teleskop Lou yang berdiri tegak seperti teleskop pada umumnya. Iseng aku mencoba kembali Teleskop Lou. Mendekatkan mataku pada lensa dan menyaksikan rasi Perseus masih berada di sana. Ini Bulan Desember. Dan Perseus senantiasa cemerlang pada bulan ini.

Kutunggu semenit, dua menit. Tidak ada yang berubah. Aku tetap saja hanya duduk di depan teleskop seraya memandangi konstelasi ysng kelipnya selintas-lintas saja. Kuhembuskan nafas kesal. Aku yakin betul tadi aku tak bermimpi. Ini artinya, Teleskop Lou rusak.

Atau ada yang tak mengijinkanku untuk menggunakannya lagi

Wajah Kakek lantas terbayang. Aku tersenyum seraya menggelengkan kepala. Bahkan usai akhir hayatnya, Kakekku masih saja suka memberikan kejutan.

Aku keluar dari ruang rahasia. Semuanya masih tak jauh berbeda dengan sebelumnya. Lik Umono tengah menemani anak-anak seusiaku memandangi diorama angkasa, dan anak-anak masih sibuk mengoceh betapa kerennya bintang-bintang dan luar angkasa. Aku mengangguk. Tidak sekadar keren. Tetapi indah. Mencengangkan.

"Lho, Dek, habis ngapain?", tanya Lik Umono.
Aku tersenyum, "Kayaknya ketiduran. Terus aku bertemu Kakek. Kata Kakek, salam buat Lik Umono.

Aku melihatnya melongo lebar untuk beberapa saat.
***
Sore ini, Ibuku mengajakku untuk menengok pusara Kakek. Hal ini kuakui sebagai hal yang paling kubenci. Dulu, aku membayangkan Kakekku sendirian berada di dalam tanah. Sunyi, kalau hujan, Kakek kebasahan. Tetapi Kakek tidak bisa lari. Kakek tidak bisa berteduh. Membayangkan hal tersebut menyakitkan aku.


Maka dari itu, aku selalu ikut bila Ibu mengajak ke sana. Aku pikir, saat itu adalah saat di mana aku bisa menengok Kakek dan aku tak merasa kesepian. Lalu di hadapan pusaranya, aku akan menggumam. Berbincang tentang hal-hal yang ingin kuceritakan. Meskipun aku tahu, tak akan ada jawabannya.

"Kok tumben, tidak mau ikut?"
"Aku..."
"Sudah malas, ya?"
Aku menggeleng, "Soalnya Kakek tidak ada di sana Bu. Sungguh."
"Hah?"
"Kakek tidak di sana. Yang ada di sana cuma tubuh Kakek. Ide Kakek menunggu di tempat lain, Bu. Dan untuk berbincang dengan Kakek, bisa di mana saja kok, Bu. Termasuk di sini. Kakek mendengar dan menunggu."
Ibuku tak menjawab. Ia hanya memandangiku lekat-lekat.
"Sederhananya, seperti yang diajarkan agama, Bu. Begitulah. Ada yang tidak kuceritakan. Semalam, aku mimpi bertemu Kakek. Kakek bilang, salam untuk Ibu. Kakek menunggu kita, Bu. Menunggu kita selesai liburan...di dunia. Bersama Nenek juga, katanya."

Yang terjadi kemudian, adalah Ibu menghambur ke arahku dan memelukku. Kupejamkan mata erat-erat. Tersenyum aku membayangkan Kakek mungkin tersenyum melihat kami berdua.

Namun sore itu, Ibuku tetap pergi ke makam Kakek. Membawakan satu buket Cattleya kesukaan Kakek dan Nenekku sebagai tanda penghormatan.

"Ibu ingin sekali Kakek mampir ke mimpi Ibu. Bukan tidak percaya kalau tidak bisa bertemu lagi. Tetapi sebagai pelepas rindu saja."

Dan di sana, di langit biru yang luas, sekilas awan-awan membentuk senyuman Kakekku. Ia selalu aku rindukan.


Baca bagian sebelumnya di sini

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe