Semesta Kecil Perseus - Hari-Hari Senja Acyclopean [Bagian Kelima]

21:17



Lihat Bagian Empat: Bagaimana Caramu Untuk Mati?

Malam ini, aku sangat kelelahan seusai mengitari seluruh hiburan kota bersama Tiandre. Lagipula, aku masih merasa agak sebah usai mendengar kenyataan kalau penduduk Acyclopean punya rencana kematian masing-masing. Jadi, rencana untuk bermain games semalam suntuk bersama Tiandre, ditemani beberapa mangkuk Jackers, rasanya harus tertunda untuk sementara waktu.

Sesaat setelah merebahkan diri di kasur, aku langsung tertidur pulas. Kupikir, aku akan membawa segala hal yang kudapatkan hari ini ke dalam mimpi. Namun rupanya, mimpiku tak ada hubungannya sama sekali dengan Terowongan Acyclopean. Bahkan, kupikir, aku tidak bermimpi.

Aku kembali melayang-layang di ruang hampa udara. Energi gelap menaungiku di segala sisi. Namun berbeda dengan saat sebelumnya, kini aku bisa melihat jelas sebaran bintang-bintang tepat di bawahku. Beberapa di antara mereka menjelma bentuk-bentuk yang sudah tak asing lagi bagiku. Namun kali ini, kulihat semuanya seperti saat aku melihat keindahan ikan-ikan yang berenang di dalam danau yang jernih. Keindahannya begitu dekat, begitu lekat, begitu terjangkau.

Konstelasi-konstelasi bintang ini bercerita dengan cahaya mereka. Tanpa kata-kata. Ketika bintang-bintang yang membentuk rasi kalajengking bersinar terang dan meredupkan konstelasi Orion yang gagah berani dengan tamengnya. Aku selalu suka dengan cerita ini. Salah satu versinya, di mana Orion yang kuat mati tersengat kalajengking. Maka, saat kau bisa melihat jelas rasi kalajengking, rasi orion akan memudar cahayanya. "Mengajarkan kepadamu untuk tidak meremehkan apapun, karena bahaya, bisa jadi ada di dekatmu, di tempat-tempat yang menurutmu sangat aman..", ujar Kakekku di suatu waktu yang lalu.

Keindahan bintang membuatku percaya, bahasa tak mesti sesuatu yang disimbolkan lewat kata-kata.

Aku begitu terhanyut dalam kerlap-kerlip konstelasi yang bercerita dengan cahaya dengan berbagai warna. Namun tiba-tiba, cahaya berwarna butih melesat di hadapanku. Aku tertegun. Lantas, kubuka-buka rak ingatanku dan kutemukan satu nama. Sinar kosmik. Radiasi berenergi tinggi, hasil dari proses-proses besar alam semesta.

"Oh,kukira akan seperti apa", gumamku. Kakek pernah menceritakan kematian bintang sebagai salah satu penghasil sinar kosmik. Kubayangkan sinar itu akan sangat silau, membakar, dan membuat buta. Tetapi sekelebat tadi ia datang, aku hanya merasa seperti disinari sekejap oleh sinar-sinar setingkat sinar senter. Lalu aku tertawa. Alam semesta tidak semengerikan itu rupanya.

Namun baru saja aku akan terbang kembali, untuk menyaksikan parade konstelasi, tiba-tiba saja aku merasakan sengatan di sekujur tubuh. Jantungku terkejut. Kedua mataku pun kini tak lagi melihat rangkaian konstelasi. Semuanya seperti beralih tiba-tiba dan berganti sketsa putih yang menyilaukan mata. Aku berteriak. Rasanya sungguh tak nyaman. Tetapi sekujur tubuhku kaku, tak dapat kugerakkan.

"Kan Kakek sudah pernah bilang, jangan suka meremehkan."
Aku tertegun. Layar putih itu berpendar. Lambat laun memudar, seperti lampu minyak yang kehabisan daya dalam waktu yang dipercepat. Kini aku seperti berada dalam suatu sketsa bangun ruang. Awalnya semacam garis memanjang, melebar, dan meninggi saja. Namun lama-kelamaan ruang ini semakin kompleks. Membentuk benda-benda, menjadi warna, menjelma tempat tiga dimensi. Dinding menebal, memisah-misahkan diri, menjadi ribuan kotak yang meninggi. Sementara itu cahaya meredup dan menjadi kuning sendu. Perpustakaan. Tetapi bukan perpustakaan Kakek yang kukenal di rumah.
Tetapi....
"Menikmati alam semesta, Pata?"

Nafasku berhenti sejenak. Sesosok lelaki yang kurindukan muncul dari sudut rak buku. Kakekku, dengan baju coklat muda yang sering ia kenakan. Kakekku hangat. Seperti warna coklat yang ia gemari.


Aku tahu seharusnya aku merasa ketakutan karena Kakekku telah tiada. Dan kalau Kakek telah tiada, itu artinya Kakek menjadi hantu. Aku takut dengan hantu. Tetapi bila itu Kakek, dalam wujud apapun, selalu kurindu. Segala ketakutan yang terekam di otakku pun luruh. Aku menghambur, mendekati Kakek. Tanpa berkata apa-apa, segera kupeluk tubuh Kakek. Aku rindu.

"Kakek..."
Kuingat betul sepasang tangan Kakek yang agak keriput. Juga punggung Kakek yang keras, dan wangi Kakek yang seperti kayu manis. Aku ingat betul, dan kini aku merasa bahagia bisa merasakan semuanya lagi, tanpa perlu sulit-sulit membangun kenangan.
"Hei, hei...", tangan Kakek membelai rambutku. Rasanya begitu teduh, "Kenapa menangis?"
"Kakek jahat sekali, pergi tiba-tiba. Kakek tidak tahu aku dan Ibu sakit karena Kakek pergi. Kakek betul-betul jahat.."
"Le...", ujar Kakekku, "Kakek tidak pernah pergi. Kakek selalu ada. Tetapi tidak lagi di rumah itu. Kakek hanya mengambil sedikit jarak. Percayalah. Kakek ada di mana-mana..."
"Maksud Kakek?"
"Ketika kita sampai fase yang disebut kematian, artinya kita hanya meninggalkan tubuh kita saja, Pata. Tubuh punya batas waktu sampai dia tidak bisa bertahan lagi. Tetapi ide, kenangan, semuanya tetap ada. Ide yang mengisi tubuh Kakek, dari mulai Kakek lahir hingga mati, semuanya tetap ada. Tapi karena ide kamu belum meninggalkan tubuhmu, maka kamu tidak bisa melihat Kakek. Tetapi percayalah, Pata. Kakek tetap ada. Ide tidak pernah mati, Pata..."
Kupandangi wajah Kakekku. Kedua pasang mata berwarna coklat tua itu begitu teduh dan menyenangkan. Juga rambut yang memutih di bagian depan. "Kakek, Ibu bilang.."
"Ya, Ibumu pernah bilang, yang membuat kira sedih adalah ketidaktahuan. Tapi kini, kamu sudah tahu kalau Kakek tidak pergi, kan? Jangan sedih lagi, ya?"
"Kakek sudah bertemu Tuhan?"
Kakekku tertawa, "Tergantung apa yang kamu maksud dengan Tuhan, Pata. Jangan terburu-buru. Selalu ada waktu yang tepat untuk memahami sesuatu. Seperti alam semesta."
Aku merasa kesal. Pertanyaan tentang Tuhan adalah pertanyaan yang selalu dicari jawabannya oleh semua manusia. Kakekku mungkin tahu. Tetapi tak mau membuatku tahu. Namun kalau Kakek tak mau, itu artinya tak ada tawar-menawar lagi.
"Oh ya, kunci Kakek membawaku ke teleskop. Aku sudah tahu teleskop apa. Pertanyaannya, itu mimpi atau bukan? Acyclope? Acyclopean? Tiandre?"
"Kalau diklasifikasikan, mungkin hal itu mendekati mimpi, Pata. Tetapi apakah itu tak pernah terjadi? Tidak. Kenyataan yang sedang kamu alami, yang dulu pernah Kakek alami, adalah kenyataan yang begitu lembut. Ia tidak berada di dalam kenyataan seperti kehidupanmu, tetapi ada di tempat lain. Tetapi apa yang kamu alami, itu betul-betul terjadi. Kamu tahu kenapa? Karena orang lain juga pernah mengalaminya. Kakek, kawan-kawan Kakek...Sesuatu bisa kita sebut nyata bila tak hanya kita saja yang mengalaminya, Pata."

"Lalu bagaimana aku bisa pulang? Setidaknya sebelum aku harus ikut.. apalah itu, misi mereka membunuh hewan raksasa."

"Cara untuk pulang dari perjalanan lewat Teleskop Lou mudah, Pata. Kamu hanya perlu mati saja. Bunuh diri, atau dibunuh, sama saja. Tetapi rasanya akan sakit. Akan lebih baik kalau kamu selesaikan perjalanan itu. Nanti rasanya akan seperti bermimpi. Dan soal waktu, tenang saja. Satu bulan yang kamu habiskan di Acyclope, sama seperti satu detik di Magelang. Lagipula, Acyclope menawarkan perjalanan yang paling singkat. Tenang saja."
"Maksud Kakek?"
"Kalau kamu bertemu dengan si kaki seribu dan makhluk-makhluk raksasa lain, tebas hidungnya. Di situ titik lemah mereka. Bagaimana, Pata? Jangan takut. Kamu sangat pemberani..", kulihat senyum Kakekku mengembang.
"Kek, kita ini...", kulihat sekeliling, "Di mana, sih?"
"Di dalam latar tempat ide tentang Kakek berada. Ini adalah perpustakaan impian Kakek. Begitulah."
"Oh, begitu...", ujarku. Sebetulnya tak terlalu paham. Tetapi aku tak begitu peduli sebetulnya. Di tempat manapun, asal ada Kakek, aku sangat bahagia.
"Kek...", "Tiandre orang baik....", tiba-tiba aku teringat lelaki itu. Ia membuatku seperti memiliki, setidaknya seorang Ayah yang baru, "Menurut Kakek, dia akan selamat, kan? Acyclope akan subur lagi, kan?"
Kakekku tidak menjawab
"Kek....."
Lalu semuanya menghilang dalam satu kerjapan mata.

***

"KAKEK!"
Aku membelalakkan mata. Kulihat sekitarku tak lagi sama
Kini baru kuingat, aku telah tertidur semalam. Jam dinding menunjukkan pukul sembilan pagi. Lampu-lampu di rumah Tiandre telah menyala begitu padang dan samar suara televisi terdengar dari ruang depan. Kutarik napas dalam-dalam. Bayangan Kakek masih melekat di dalam ingatanku. Rasanya begitu nyata. Tetapi apakah betul-betul nyata?

Aku tidak tahu. Usai perjalanan dengan Teleskop Lou, aku tidak lagi bisa mendefinisikan kenyataan. Segalanya bias dan bercampur seperti plastisin kotak yang aku beli di Artos, sehingga kupikir lebih baik nikmati saja. Yang terpenting adalah apa yang kurasakan. Bila kurasa senang, maka lanjutkan. Bila tidak, tinggalkan. Hidup itu mudah bila kita tidak mencoba untuk terus menerus mencari maknanya.

"Hei, Pata! Sudah bangun? Ini masih malam, lho.."
Kuusap kedua mataku. Kulihat Tiandre telah bersiap dengan baju yang cerah serupa pemadam kebakaran, dengan sepatu dari bahan semacam karet yang tebal.
"Kamu mau bekerja?"
"Begitulah. Aku mau patroli di permukaan. Memperbarui selimut permukaan supaya serangga tidak mendekat. Biasa, resiko tentara Acyclopean. Kalau orang-orang tidur, aku bangun! Kalau mereka bangun, kami juga masih bangun! Hahaha. Ada banyak bahan makanan ya di lemari! Tetapi kalau kamu malas, Jackers dan roti isi selai Salander (semacam selai buah khas Acyclope), sudah ada di meja"
"Terima kasih banyak, Tiandre....", ujarku seraya tersenyum. Selain mempersiapkan kemungkinan adanya perang melawan serangga-serangga raksasa, pekerjaan rutin Tiandre dan tentara Acyclopean adalah menyelimuti permukaan di atas Terowongan Acyclopean dengan gas serupa pestisida yang disemprotkan melalui kendaraan-kendaraan khusus beroda empat. Setiap malam tiba. Walaupun malam dan siang di permukaan hampir tak ada bedanya. Kini matahari bersinar sepanjang waktu. Paling-paling, di malam hari, cahayanya agak redup dan serupa awalan senja di Bumi. Yang cerahnya kelabu seperti hawa mimpi. Namun tetap saja, cahaya Trean mematikan bagi penduduk Acyclopean.

 Pekerjaan ini nampaknya mudah. Namun yang memisahkan para tentara dengan kematian hanyalah sebuah baju setebal satu setengah sentimeter. Permukaan Acyclope mematikan bagi para penduduk Acyclopean. Walaupun memang, bagiku hanya sepanas matahari bumi di pukul dua belas siang.

Sebetulnya aku ingin ikut, tetapi kupikir aku tidak ingin terlihat sok jagoan. Jadilah aku mengangguk saja saat Tiandre berkata, "Besok pagi, aku ajak kamu ke Mygcina, ya. Simulasi permainan termegah di Acyclope. Kamu mau bertarung melawan serangga tanpa takut mati? Di sana tempatnya!"

Tiandre lantas menceritakan beberapa wahana menarik di Mygcina. Tiba-tiba aku ingin melonjak dari tempat dudukku, mandi  dan bersiap ke sana. Namun aku teringat perkataan Tiandre sebelumnya: "Kamu boleh sih, jalan-jalan. Tetapi kalau kamu tersesat, rasanya tidak ada orang yang mau memberi tahu jalan pada pria bermasker misterius... Lagipula, ini masih tengah malam. Yah, lebih baik kamu lanjutkan tidur."

Namun lantaran mimpi tadi, aku jadi tak bisa tidur walaupun ingin. Jadi, apa yang akan aku lakukan? Membaca buku. Bukan kata-katanya, tetapi kumpulan gambar di dalamnya. Mengenal Acyclope lebih jauh. Bicara soal kata-kata, ada satu hal yang lupa kutanyakan pada Kakek: mengapa tidak ada miskomunikasi antara aku, Geran, Tiandre, dan beberapa penduduk Acyclopean yang kutemui saat berjalan-jalan kemarin? Terkadang aku bodoh. Pertemuan dengan Kakek bisa jadi tak banyak terulang lagi.

"Kadang aku heran kenapa aku tidak rindu dengan Magelang ya?"

Pernyataan itu kulontarkan begitu saja saat membuka jendela. Bulir-bulir salju buatan bertengger di jendela. Sementara itu, dari luar lalu lalang kendaraan terdengar jelas. Juga musik-musik bernada meriah dan menyenangkan dari toko-toko sepanjang jalan. Kupikir Tiandre begitu beruntung tinggal di sini. Meskipun tinggal sendiri, tetapi tak akan pernah betul-betul kesepian.

"Sudah ya, aku pergi dulu!", seru Tiandre
"Hati-hati, Tiandre!", tukasku bergegas mengantarkan Tiandre sampai ke depan pintu rumah.

Namun belum saja aku melangkahkan kaki, tiba-tiba kudengar getaran dari atap rumah. Aku terpaku. Menatap langit-langit. Samar-samar debu-debu berjatuhan dari sana. Dan kalau aku tidak salah lihat, foto-foto Tiandre yang terletak di dinding atas sedikit bergoyang.
"Pata!", Tiandre menghampiriku. Kami berdua terpaku dengan wajah tegang, menatap langit-langit kamar yang kini bergetar dengan jelas.

"Lari!", Tiandre menggamit lenganku. Masih bertanya-tanya, aku mengikuti ke mana Tiandre akan membawaku pergi. Gempakah? Bila ini gempa, aku yakin aku tak akan selamat. Aku berada di bawah tanah. Bergidik ketakutanlah aku. Namun aku membayangkan kaki seribu raksasa yang kemarin hampir menyerangku bulat-bulat. Kematian karena gempa tidak akan semengerikan itu, Pata. Paling hanya rasa ngilu dan nyeri selama beberapa menit, lalu, gelap. Dan kamu akan kembali ke rumah, Pata. Pulang.

Tampaknya Tiandre tak berpikir lagi tentang ciri fisikku yang agak berbeda dengan penduduk Acyclopean. Begitu juga mereka. Di luar, kendaraan-kendaraan berhenti di tengah jalan dan para mengemudi keluar. Beberapa di antara mereka ada yang berlari ke toko-toko, sepertinya ntuk bersembunyi. Namun banyak pula yang termangu di jalanan dan menatap langit-langit Acyclopean. Kami berdua termasuk di antaranya. Kulihat langit Acyclopean bergetar dengan kencang. Hiasan-hiasan musim dingin serta rasi-rasi yang hanya tampak pada musim dingin di Acyclope berjatuhan hingga ke tanah. Begitu pula lampu-lampu kecil yang menjadi penerang tambahan di Acyclopean.

Tiandre menggamit tanganku. Mengajakku masuk ke sebuah kios potong rambut yang terletak di seberang rumahnya. Namun aku tak bergeming. PEnasaran dengan apa yang sedang terjadi. Sementara itu dari pengeras suara terdengar perintah siaga bagi para penduduk Acyclopean.

"SIAGA PERTAMA SIAGA PERTAMA! DIHARAPKAN ANDA SEMUA SEGERA BERLINDUNG DI TEMPAT TERTUTUP."

Tak lama setelah perintah itu dikumandangkan, kulihat langit-langit Acyclopean berhenti bergetar. Kuhela nafas panjang dan kukatakan pada Tiandre bahwa semuanya baik-baik saja. "Gempa sesaat, ya?", tanyaku. Tiandre menggelengkan kepala. Ia bilang, sebaiknya kami berdua bergegas pergi ke markas tentara Acyclopean.
"Begini saja?", ujarku seraya menunjuk diriku sendiri, "Baju tidur? Tanpa masker?"
"Sudahlah, semua tentara sudah tahu tentang kamu. Lagipula aku harus konfirmasi...."

Tiba-tiba saja terdengar dentum yang keras. Sontak aku berteriak kencang. Rasanya seluruh otot tubuhku lemas lantaran terkejut.


Langit Acyclopean runtuh. Sedikit dari reruntuhannya mengenai kepala Tiandre, membuatnya seperti seorang anak yang baru saja diberi kejutan ulang tahun dengan tepung. Aku tertawa. Namun melihat kilau cahaya di atas sana, kuhentikan tawaku. Ini bukan pertanda baik bagi penduduk Acyclopean.
"Langit-langitnya runtuh! Semuanya lari! Ke tempat tertutup!", seru Tiandre. Orang-orang yang tadinya masih berada di jalanan pun langsung berlarian mencari tempat perlindungan. Sementara itu Tiandre sibuk mengarahkan orang-orang untuk lari sejauh mungkin, ke tempat-tempat yang paling tertutup. Aku? Makhluk Bumi ini hanya mematung sambil melihat chaos di sekitarnya. Aku merasa takut. Tapi bukan pada sinar. Melainkan pada ketidaktahuanku tentang apa yang terjadi. Namun di samping rasa takut ini, ada debaran yang menyenangkan di jantungku. Asyik seperti arung jeram. Jujur kuakui kusukai betul keadaan ini. Petualangan. Hal-hal mengerikan. Semuanya begitu berbeda dengan kehidupan monotonku di Magelang. Bangun pagi, sekolah, pulang, makan, ke toko kue Ibu, ke observatorium, tidur.

Aku kadang-kadang memang suka berpikiran bodoh. Seperti misalnya, saat ini, aku malah ingin melonjak dan berteriak, "Ini seru sekali!"

Tapi segala debaran asyik, keingintahuan, dan jiwa berpetualang itu mendadak kabur entah ke mana saat aku melihat sesuatu datang dari arah cahaya masuk.

Awalnya kupikir itu adalah bagian luar Terowongan Acyclopean. Mungkin pipa udara atau besi-besi penopang. Namun benda itu perlahan bergerak, masuk, merambat. Memperlihatkan bagian-bagiannya yang lain.

Serangga berbentuk separuh rumah siput, berwarna merah darah, dengan enam kaki berwarna hitam yang runcing. Tak seperti yang kulihat sebelumnya di permukaan Acyclopean, serangga tersebut berukuran wajar. Mungkin seukuran anjing pelacak. Namun kupikir ada alasan mengapa serangga diciptakan berukuran kecil. Sebab, saat berukuran besar, mereka begitu mengerikan. Setidaknya, di mata manusia.

"PLOOOM!!", teriak Tiandre. "Semuanya pergi ke markas tentara!"
Tiandre mengeluarkan senjata dari saku kirinya. Kukira tadinya itu sebuah payung. Namun rupanya itu adalah semacam pistol. Hanya saja, yang ditembakkan dari benda tersebut bukan peluru bermesiu. Namun semacam duri-duri runcing yang dapat menembus permukaan tubuh serangga itu.

Suasana makin riuh. Orang-orang berteriak dan anak-anak menangis kencang. Semuanya bercampur dengan musik-musik musim dingin yang bergembira ria, diputar di toko-toko terdekat. Hiasan-hiasan musim dingin berjatuhan dan berhamburan ke mana saja, tertabrak oleh orang-orang yang histeris mencoba menyelamatkan diri. Termasuk diorama Miyo dan dunianya, salah satu tokoh kartun berbentuk binatang berhidung bulat yang suka mencuri permen dan kue. Sementara itu serangga-serangga lain mulai merambati langit-langit Acyclopean yang telah berlubang.

Dengan senjatanya, Tiandre menembaki mereka satu persatu. Salah satu di antara serangga tersebut lumpuh, kemudian jatuh. Mengenai salah satu atap rumah. Namun ada beberapa yang hanya mengeluarkan erangan kesakitan yang panjang dan menyakitkan. Jumlah mereka pun seolah tiada habisnya. Satu mati, yang lain datang merambat. Aku, yang masih terkejut dan masih mengenakan baju tidur ini, tak tahu harus berbuat apa. Tentu saja aku ingin lari. Tetapi Tiandre kawanku. Walaupun tak berguna, setidaknya aku tidak jadi pecundang dengan lari meninggalkan kawanku di sini, sendiri menembaki serangga-serangga yang berdatangan tak henti-henti.

"Kamu ngapain? Cepat lari! Ke arah kiri, markas tentara!" , masih sambil menembaki serangga-serangga itu, Tiandre berteriak kepadaku. Namun bukannya berlari, aku malah mematung seperti orang bodoh.
"LARI! KAMU MAU MATI?"
Aku tersentak. Wajah Tiandre begitu garang dan mengerikan. Tidak lagi di sana kutemukan Tiandre yang menyenangkan, yang suka bercanda dan riang.
"Tapi kamu? Kamu juga lari!"
"Aku pasti lari, tentu saja", ujarnya dengan nafas yang tersengal-sengal, "Tapi bukan sekarang. Kalau aku lari sekarang, kalian semua mati..."
"Kamu....", lanjutnya, "Tenang saja. Aku tentara Acyclopean. Tentara Acyclopean tahu apa yang harus mereka lakukan."
Tangan kirinya lantas merogoh sesuatu dari kantong bagian kiri. Sebuah benda sepanjang penggaris tiga puluh senti yang dibungkus oleh kain. Dilemparkan olehnya bungkusan itu ke arahku, "Untuk jaga diri. Semprotkan hanya pada serangga. Itu bisa membuat mereka lumpuh. Sekarang, lari."

Aku tak punya pilihan lain. Segera aku berlari ke arah markas tentara, bersama orang-orang yang begitu ketakutan. Sambil terus menerus aku menengok ke belakang, melihat keadaan Tiandre. Dalam rasa bingung dan panik, aku berpikir, untuk apa aku di sini kalau aku justru berlari saat Acyclopean diserang? Bukankah Jenderal Geran memercayai kalau aku adalah penyelamat Acyclope? Walaupun mungkin pernyataan itu hanyalah basa-basi Kakekku yang terkadang suka membumbungkan harapan orang banyak.

Jadi kupikir, aku tak akan lari. Aku akan mengambil benda tajam dari toko bangunan di dekat pusat perbelanjaan, dan aku akan membantu Tiandre. Kakek bilang, kematian akan membawaku pulang kan? Kakek suka berbohong pada orang lain, tetapi tidak kepadaku.

Namun (sungguh aku benci kata ini, tetapi selalu saja adaayang menghalangi keinginanku. Aku memang penuh dengan kesialan) belum saja aku berlari lebih dari sepuluh langkah, tiba-tiba saja sesuatu jatuh berdebam di hadapanku. Kupikir tadinya remah-remah bangunan. Tapi betapa terkejutnya aku ketika tahu bahwa yang berada di hadapanku adalah salah satu serangga menjijikkan itu. Badannya terbalik seperti kura-kura peliharaan salah satu kawanku, yang suka kami permainkan, tetapi aku masih bisa melihat seluruh kakinya bergerak-gerak, dan lendir menetes dari badan bagian dalamnya


"MAMA! TOLONG AKU MAMA! JIJIK! AKU MUNTAH!"
Aku berteriak-teriak seperti orang gila, sebelum pada akhirnya aku tahu itu tidak berguna. Segera aku menyemprotkan benda yang tadi diberikan Tiandre ke seluruh tubuhnya. Bertubi-tubi.
"MATI KAMU! MATI KERANCUNAN! YAY!", teriakku girang. Aku teringat kalaj kata Tiandre, cairan ini tidak bisa membunuh serangga. Hanya melumpuhkan. Maka aku segera melihat sekeliling, menggunakan otakku yang sedang tak bisa berpikir maksimal, dan berlari ke toko peralatan renang yang tak jauh dariku. Mengambil sebuah dayung yang menjadi hiasan depan.
"RASAKAN! RASAKAN INI! INI BALASAN KARENA MEMBUATKU TIDAK BISA MENIKMATI JACKERS SAMBIL MAIN GAME DI MALAM HARI!", umpatku seraya menusukkan dayung itu ke badan serangga tersebut. Rupanya, bagian dalam tubuhnya sangat lunak. Tidak seperti cangkangnya yang keras.

Melihat serangga itu sekarat, lalu mati perlahan-lahan, kepercayaan diriku tumbuh. Aku segera membayangkan kecerdasanku meningkat setara Tony Stark sekaligus Sherlock Holmes, dan berpikir benda apa saja yang mesti kumiliki. Pembunuh serangga. Pisau yang tajam. Petasan. Pistol. Kecuali pistol, aku tahu tempat di mana mendapatkan barang-barang itu.

Satu hal yang menyenangkan dari keadaan chaos seperti ini adalah, kamu bisa mengambil apapun yang kamu mau. Namun mengingat Tiandre, aku segera mengambil barang-barang yang memang kuperlukan saja. Walaupun saat melihat mainan musim dingin yang lucu tadi, aku begitu gemas dan ingin bermain.


Usai mengambil tiga botol semprotan anti serangga (yang mungkin tidak berguna untuk serangga raksasa), dua buah pisau, tiga pemantik yang bisa menyala dengan cara ditarik, dan beberapa benda serupa petasan dan kembang api, aku segera berlari. Menuju arah Tiandre. Kulihat kini ia tak lagi sendiri, tetapi bersama beberapa orang yang mengenakan seragam yang serupa dengannya. Para tentara Acyclopean. Meskipun jumlah mereka cukup, tetapi mereka nampak kewalahan. Serangga-serangga itu tidak henti-hentinya masuk dari lubang cahaya.
Aku segera mempersiapkan pemantik dan petasan lempar. Kunyalakan petasan-petasan itu dan kulemparkan pada serangga-serangga yang mulai merambat ke tanah.
"SATU!", seruku menyemangati diri sendiri, "DUA! TIGA!"
Kudengar erangan menjijikkan serangga-serangga yang terkena petasanku. Aku tertawa. Namun rupanya mereka tak mati. Mereka hanya lumpuh. Segera mengambil semprotan serangga dan pisau dari tas, lantas mendekati mereka.

"Jangan gila!", seseorang menarik bajuku dari belakang, "Kan sudah kubilang, ke markas tentara! Kamu nggak tahu apa yang kamu hadapi! Mereka ini plom, serangga-serangga yang keluar dari tubuh Hexo, serangga yang mau membunuh kamu dulu!"
Tiandre menatapku dengan wajah yang tegang. Aku merasa tidak enak hati. Tetapi kemudian aku berkata
"Tiandre, kamu ingat ramalan Kakekku kan?"
Ia memandangku semakin lekat. Perlahan, ada senyum mengembang di wajahnya, "Yang percaya ramalan itu, Geran. Bukan aku."
"Terus buat apa kamu menampung aku?"
"Pata, dengar ya,l! Aku bukan Geran yang begitu terobsesi dengan keselamatan Acyclopean! Aku baik kepada orang lain karena aku menyukainya.. Ya, itu juga tidak terlalu tulus, tetapi setidaknya aku tidak akan mengusirmu dari sini kalau kamu tidak bisa menyelamatkan Acyclopean."

Pernyataan Tiandre tepat menusuk jantungku. Rasanya menyebalkan sekali. Kepercayaan diri yang kubangun sedari tadi mendadak runtuh seperti salah satu bangunan rumah yang telah dihinggapi belasan Plom. Aku lantas merasa tidak tahu diri. Entahlah, aku tidak tahu apakah aku harus berterimakasih pada Tiandre karena ia telah begitu baik menampungku tanpa banyak syarat, ataukah harus marah lantaran lewat kata-katanya tersebut, ia menunjukkan kalau aku terlihat lemah.

Yang aku inginkan sekarang,hanya pulang ke rumah.

Aku berjalan lunglai menjauhi kerumunan tentara. Tentu saja, dengan tujuan. Namun berbeda dengsn sebelumnya, kali ini entah kenapa aku merasa begitu berani. Manusia selalu menemukan keberanian dalam titik terendah kepercayaan dirinya. Aku yang tadinya merasa takut akan rasa sakit, tiba-tiba menjadi tak peduli. Gambaran tentang gapura rumahku yang berwarna pastel teduh, Alun-Alun Kota dan balon-balon yang dijual di pinggiran, Bukit Tidar yang pendiam serta lansekap Kota Magelang yang sederhana dan tertata rapi terus kuputar di benakku. Acyclopean indah. Tetapi tidak seindah kampung halamanku.
Aku segera berjalan menuju elevator. Elevator ini akan membawaku menuju pintu keluar Acyclopean. Kupikir, semua tentara, termasuk para penjaga, dikerahkan untuk memerangi para Plom yang masuk melalui lubang.

Tetapi aku salah besar. Tak lama ketika aku membuka elevator, kulihat dua penjaga lengkap dengan seragam pengaman, berjaga di pintu keluar. Aku terkejut. Mereka berdua tak kalah terkejut. Kulihat malah salah satunya bersiap untuk mengambil senjata di sakunya.
"Tunggu!Tunggu!", ujarku seraya menahan pintu elevator.
"Ini..."
"Hei, ini alien kemarin! Yang ditemukan Tiandre!"
"Oh ya?", salah satu dari keduanya mendekatiku, mengamatiku lekat-lekat, "Dia cantik sekali!"
"Ya ya ya, mirip kita, tetapi lebih cantik, dan terlihat kuat!"
"Ehm...", "Kamu ke sini, mau apa? Mau pulang ya?"
Aku segera keluar dari elevator, "Aku mau keluar. Ini perintah Jenderal Geran", tukasku berdusta, "Kalian tentunya tahu bukan, ramalan Acyclope?"
"Ramalan?", serentak keduanya bertanya, "Ah ya ya ya! Kamu mau menyelamatkan kami?"
Aku mengangguk. Dalam hati aku tertawa melihat kedua tentara yang begitu mudah dibohongi ini. Walaupun nalarku berteriak mengingatkan kalau perbuatanku ini bodoh sekali.
"Aku akan memeriksa apa yang terjadi di luar. Ngomong-ngomong, tenang saja. Aku tidak perlu baju pengaman. Aku tahan terhadap cahaya Trean."
"Wow", ungkap keduanya kagum padaku.
Tanpa basa-basi lagi, aku segera keluar dari pintu. Menuju sebuah lorong gelap yang seperti gua. Untunglah lorong ini tak panjang. Belum lama aku berjalan, kutemukan cahaya yang menyilaukan.

Permukaan Acyclope.

Aku menghela nafas panjang. Kurapalkan doa-doa yang kuhafal. Mulai dari Al-Fatihah, doa sebelum belajar, doa ketika akan bepergian, hingga ayat kursi. "Setidaknya kalau aku mati, aku pulang. Setidaknya kalau aku mati, aku pulang."

Dan apa yang kulihat di permukaan, begitu mengerikan. Ini bukan sekadar serangan hama. Tapi pesta makan malam. Seekor Hexo, persis seperti yang kulihat saat pertama kali menjejakkan kaki di Acyclope, mengeluarkan puluhan Plom dari perutnya, yang langsung melompat lewat lubang, menuju Terowongan Acyclopean. Aku bergidik ngeri. Seluruh saraf tubuhku lemas seketika, dan rasanya aku ingin muntah. Kulihat sekeliling. Apakah bahan kimia yang digunakan sebagai selimut permukaan, tak lagi ampuh bagi para Hexo? Ataukah ia semakin kuat?

"Pulang..Pulang ke rumah...", aku terus merapalkan kalimat tersebut, serupa jampi-jampi sakti. Bayangan bahwa aku akan dijadikan makanan pembuka bagi Hexo dan para Plom-nya ini menakuti aku. Tetapi aku harus berani. Suatu saat aku akan jadi petualang. Lagipula, rasa sakit bisa jadi menyenangkan, kalau aku berpikir bahwa itu menyenangkan. Bayangkan saja rasa sakit itu seperti rasa yang sama, yang kualami saat aku naik Kora-Kora, atau dipijit.

"HEI KAMU! KE SINI KAMU!"
Kupanggil Hexo itu. Namun alih-alih menghampiriku, Hexo tersebut nampaknya tak menyadari keberadaanku. Beberapa kakinya mencoba untuk mengorek-ngorek atap Acyclopean. Membuat lubang yang lebih besar. Hal ini tidak bisa dibiarkan. Penduduk Acyclopean akan mati bila terkena cahaya Trean.

"Hei....", aku mengambil sebuah batu yang ukurannya segenggaman tanganku, "Aku bilang, ke sini, bodoh....", kulemparkan batu itu ke arah Hexo. Dan ya, seperti layaknya aku yang tidak pernah tepat, batu itu tidak mengenai tubuh Hexo. Tetapi seekor Plom berlendir yang baru saja dikeluarkan dari tubuh Hexo. Sekilas kudengar suara decit serangga yang meninggi. Aku tersenyum kecut. Plom itu menyadari keberadaanku. Dan tak lama kemudian, Hexo tersebut menoleh ke arahku.

Kedua matanya yang putih pekat membuat jantungku berdetak lebih cepat beberapa kali lipat. Belum lagi tubuhnya yang terlihat lembab berlendir, kaki-kakinya yang berbaris rapi, dan lidah yang menjulur panjang. Ia bukan sekadar monster. Tetapi mimpi buruk. Sedetik aku merasa menyesal telah nekat naik ke atas. Seharusnya aku tidak perlu sok pahlawan. Aku memang hanya anak kelas 5 SD yang bahkan belum pernah pergi ke luar Indonesia. Aku miskin pengalaman, kehidupanku monoton, dan aku mendapatkan nilai 65 dalam pelajaran olahraga.

Usai memberikan peringatan kepadaku lewat seringai lebar dan juluran lidaa yang menjijikkan itu, Hexo bersiap memasang kuda-kuda. Telungkup layaknya kaki seribu, tubuh tepat menghadap ke arahku. Kalau ini permainan video, aku akan menekan tombol replay, pause, atau kumatikan sekalian listriknya. Tetapi ini adalah permainan dalam teleskop Lou (mungkin), dan aku adalah bagian dari permainan itu.

Serangga menjijikan itu mulai berjalan. Awalnya pelan saja. Tetapi lama kelamaan, gerakannya berakselerasi. Dipercepat seperti laju mobil di jalanan sepi. Tubuhku dipenuhi peluh yang timbul lantaran campuran panas dan takut. Aku mundur beberapa langkah, dan kemudian, berlari.

"Pintu masuk, pintu masuk...", pandanganku berkeliling mencari pintu masuk. Tetapi kini aku malah hilang arah. Rasa takut rupanya adalah senjata terhebat untuk membuat seseorang tak berkutik. Akhirnya kusimpulkan bahwa aku tak bisa lari. Aku harus menang, ataupun mati. Tak ada pilihan lain.
Kalau kamu bertemu dengan si kaki seribu dan makhluk-makhluk raksasa lain, tebas hidungnya.
Samar-samar kembali terdengar nasihat dari Kakek. Aku tak tahu ini bagian dari ingatan, ataukah Kakek kembali berbicara kepadaku, tetapi lewat hal ini, kutemukan sedikit keberanian. Dengan tegas kukeluarkan sebilah pisau yang agak panjang. Mungkin lebih tepat disebut pedang berukuran standar bagi penduduk Acyclopean. Suatu saat nanti, aku akan menjadi petualang. Seperti Sinbad atau Bilbo Baggins. Aku tidak boleh takut. Bayangkan saja aku menjadi tokoh utama dalam film-film fantasi.

Alih-alih kembali berlari, aku diam. Mengacungkan pedang agar Hexo semakin merasa tertantang. Kutambahkan teriakan-teriakan agar aku terdengar seperti mangsa yang siap dimakan. Aku akan menjadi umpan. Aku tak yakin kalau ini akan berhasil, tetapi, aku tak yakin kalau ada rencana lain yang lebih baik.

Hexo berdiri dengan megah di hadapanku. Ia lengkungkan bagian tubuhnya yang panjang. Dan semakin lebar pula seringai di wajahnya. Kucengkram pedangku erat-erat, untuk membuang bongkah-bongkah besar ketakutan. Aku kembali membayangkan kalau aku adalah tokoh utama film fantasi. Aku pemberani. Pata pemberani. Pata seorang pahlawan.

Tapi ada satu hal yang tak masuk dalam daftar rencanaku.
Kupikir Hexo akan menggunakan lidahnya untuk langsung memangsaku. Tetapi aku salah besar. Kaki-kaki Hexo bukan bagian tubuh yang lunak. Ia tajam dan keras, seperti batang pohon. Dengan tangkas kaki terdepan Hexo segera menerjang tubuhku. Aku berkelit. Tidak kena. Kini gantian aku yang menyeringai. Kedua mata Hexo membelalak lebar. Nampaknya ia mulai merasa gemas. Akupun semakin bersemangat untuk mempermainkannya.

Lompat satu langkah. Ke kiri dua langkah. Kanan dua langkah. Ini semakin seperti catur. Aku mulai menikmati permainan dan mulai memahami permainan dari Hexo. Lama kelamaan, ia pun semakin beringas. Dibuka mulutnya lebar-lebar, dan dapat kulihat rongga mulutnya yang seperti gua lampau yang gelap, kasar, dan dalam. Ia siap makan. Aku merasa selangkah menuju kemenangan.

Tapi aku bukan Athena, dewi strategi perang.

Dan Hexo bukan sekadar serangga. Ia adalah makhluk, entah dari mana, yang paham bagaimana mengecoh lawan. Lidah yang tadi ia julurkan kepadaau hanya merupakan pengecoh. Tak beberapa lama, aku merasakan nyeri di bagian perutku.

Bilah kaki Hexo tepat menembus tubuhku. Aku berteriak sekencang mungkin. Teriakan terkencang yang pernah kuteriakkan. Nyerinya timbul begitu dalam. Aku begitu kesulitan untuk bernapas, dan kedua pandanganku berbayang. Sekujur tubuhku kesemhtan, dan perlahan-lahan mati rasa. Detak jantungku pun terdengar keras seperti barisan drum band yang diadakan di sepanjang kota.

Aku tamat. Seperti tokoh dalam permainan video yang lemah dan kurang persiapan. Kalau kematian selalu nyeri seperti ini, aku memilih untuk tidak pernah hidup saja.

Segala bayangan kini berputar. Rumahku yang teduh, yang kalau hujan suasananya sendu. Kue-kue lezat Ibu. Pekerjaan rumah. Pelajaran di sekolah. Teman-teman yang belajar kelompok di rumah sambil makan cupcake gethuk lindri. Kakekku. Senyumannya yang selalu membuatku merasa pulang. Konstelasi megah alam semesta. Gugusan virgo. Semuanya bercampur dan membuat air mata mengalir dari kedua mataku.

Juga memberikanku kekuatan.

Kurogoh-rogoh bagian dalam tasku. Sebilah pisau. Tak panjang, tetapi cukup tajam. Kukumpulkan segala kekuatan yang tersisa untuk menggenggamnya dengan erat. Ini saat yang tepat. Hidung Hexo berjarak tak lebih dari satu meter di hadapanku. Masih ada harapan untuk mengalahkan Hexo. Meskipun sudah pasti kalau aku tak akan menang.

Dan sebelum ia memasukkan tubuhku ke mulutnya dengan kaki sebagai peralatan makannya, segera kutusuk hidungnya dengan pisau yang kugenggam. Rupanya Kakek benar. Hidung Hexo sangat lunak.

Darah berwarna putih pekat mengalir dari hidung Hexo. Awalnya perlahan saja. Namun lama kelamaan semakin deras. Terdengar lantas suara erangan yang memekakkan telinga. Begitu ngilu, tetapi juga membuatku jadi ingin hidup. Kemudian yang terjadi adalah, tubuhku seperti dibolak-balik. Persis semacam sebuah perasaan ketika aku menaiki wahana ulang-alik. Pusing, membuat mual. Hexo mengerang kesakitan, tubuhnya bolak-balik tak karuan, kejang-kejang. Membuat tubuhku seperti letupan brondong jagung yang berulang alik tak karuan. Dulu, menaiki wahana semacam ini saja sudah membuatku senam jantung. Namun kini, tak ada yang lebih membahagiakan aku ketimbang hal ini.

Keadaan pun lantas sunyi. Tak kurasakan lagi sensasi ulang alik, juga erangaa panjang yang memilukan itu. Nyeri pun tak lagi mengerikan seperti yang tadi kurasakan. Aku tersenyum. Ternyata seperti ini, sakit yang dirasakan oleh para pahlawan perang. Menyakitkan, memang. Tetapi rasa sakit ini begitu mulia dan indah.

Yang sepertinya terjadi seusainya, yang samar-samar kulihat dan kuingat, adalah gerombolan dengan busana yang telah kukenal lekat. Tentara Acyclopean. Mungkin mereka akan menyelamatkanku. Tapi kemungkinan besar aku tak akan selamat. Seperti ketika akan pergi tidur, lambat laun semuanya menjadi gelap. Aku terlalu sering pindah tempat dan kenyataan, usai melakukan perjalanan dengan Teleskop Lou, sehingga, hal seperti ini tidak merisaukan aku lagi.

Aku akan pulang ke Magelang. 


Sumber Foto: Pixabay

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe