Semesta Kecil Perseus - Cahaya di Masa Lalu [Bagian Enam]

17.24



"Bagaimana, Le? Apakah sakitnya mengerikan?"
Kuusap kedua mataku. Rasanya seperti baru bangun tidur. Latar yang berada di hadapanku, bukanlah latar yang asing. Namun jelas membuatku terkejut.

Perpustakaan Kakek yang hangat, yang cahayanya kuning pastel, yang begitu berkayu, yang penuh buku-buku, yang mengobati rindu. Kuregangkan segala otot tubuh. Rasa sakit yang tadi kurasakan, kini sepertinya betul-betul hilang. Hanya ada rasa pegal, seperti baru bangun tidur dengan posisi tidur yang kurang tepat.

"Kakek?"
Kakekku duduk di kursi yang menyudut. Wajahnya masih hangat. Wajah Kakek selalu hangat dan tenang bahkan saat ia akan dikuburkan. Kata orang, ini berarti Kakek mati dalam keadaan baik. Dan melihat Kakekku yang kini terlihat bahagia, aku percaya betul akan hal itu.

"Apakah aku mati?"
Kakekku tersenyum. Senyum yang nyaman dan teduh seperti rumah, "Sudah siap kan, buat pulang?"
"Hah? Jadi begini saja? Aku pulang dan aku nggak tahu apa yang terjadi dengan Acyclopean?"
Kakekku menghembuskan nafas. Ia kemudian berjalan menuju sebuah meja kecil. Mengambil sebuah gelas, dan menuangkan sesuatu dari teko di sebelahnya, "Kamu mau tahu apa yang terjadi?"
Aku mengangguk, "Setidaknya sampai Tiandre mati. Begitulah. Mungkin kalau aku harus tahu sampai Acyclope kiamat, rasanya itu akan lama."
"Tidak juga...", ia menghampiriku, memberikan gelas tersebut kepadaku, "Teh rasa vanilla."
"Kesukaanku!", teriakku girang. Hangatnya, wanginya yang manis. Semua rasa dan kenangan tentang teh ini persis seperti yang kumiliki di Magelang. Dulu, ketika Kakek belum pergi, kami suka menikmati teh ini. Kesederhanaan yang begitu membahagiakan aku.
"Nah, sekarang, kamu duduk di sana...", kakek menunjuk kursi busa yang tadi ia gunakan untuk duduk
"Buat apa, Kek?"
"Duduk saja. Pata, kamu anak yang pintar. Keingintahuan kamu besar dan itu bagus. Tetapi, terkadang kamu harus berhenti untuk bertanya. Banyak hal yang bisa dinikmati tanpa perlu banyak bertanya."
Aku segera mengunci rapat mulutku. Kakekku sudah pergi. Aku tak mau membuatnya kecewa.


Beberapa saat kemudian, Kakekku mengambil seeuah benda berbentuk kotak. Kukira itu semacam kartu, tetapi bukan. Lewat benda itu, terpancar sebuah layar besar pada dinding di hadapanku. Awalnya layar tersebut hanya memancarkan cahaya ungu kebiruan saja. Tetapi lambat laun, kulihat dengan jelas rangkaian konstelasi di sana. Serupa dengan yang kulihat di waktu lalu.



Konstelasi itu semakin diperbesar. Hingga terlihat bagian-bagian yang merangkainya. Segala bintang-bintang terang, dan planet-planet yang mengitarinya. Semakin dekat, hingga berfokus pada semua planet yang serupa Bumi. Namun daratan terlihat lebih banyak ketimbang lautsn. Warnanya pun tak sehijau Bumi. Serupa bongkah-bongkah tanah di sekitar piramida, kurang lebih.
Dan ketika planet itu semakin diperbesar, mengertilah aku kini. Acyclope.

Segala di layar kini bergerak begitu cepat. Aku melihat rangkaian permukaan yang tandus sepanjang jalan. Lautan dan para samudra yang dangkal. Tanaman-tanaman menua dan meranggas. Kumpulan Hexo di salah satu bagian daratan. Aku ingin buka suara. Bukankah Hexo sudah mati kubunuh? Tapi kemudian aku ingat. Kakek bilang, nikmati saja.

Layar pun kemudian menyajikan pemandangan yang kuinfat tepat. Hexo yang tergeletak tak berdaya. Di sampingnya, ada aku yang turut tergeletak dengan tubuh yang mengenaskan. Aku bergidik jijik. Pedih rasanya melihat tubuhmu sendiri terkoyak di depan mata.

Tentara-tentara Acyclopean berdatangan. Sebagian merasa takjub dengan Hexo yang telah terbaring tak berdaya. Namun sebagian di antaranya menghampiriku. Salah satu di antara mereka lari menghambur ke tubuhku, memangkas kaki Hexo yang menusuk perutku. Sembari membawa tubuhku, ia berteriak kepada yang lainnya, "Bantuan, bantuan, cepat! Bantuan!",seraya mengguncang-guncangkan tubuhku yang tak lagi bergerak. Layar pun menyorot wajah tentara tersebut. Tiandre. Aku bisa melihat kecemasan di wajahnya. Aku melihat jelas kedua matanya yang bulat mengeluarkan bulir-bulir air mata. Tanpa diundang, air matapun menggenang pula di pelupuk mataku.

Lalu yang kusaksikan selanjutnya ialah pemakaman. Begitu besar. Serupa pesta kematian Tana Toraja. Kulihat dengan jelas wajahku berada di mana saja. Dari ujung kiri Terowongan Acyclopean, miniatur negara Gildar, hingga ke Akra. Di setiap sudut kulihat wajahku beserta tulisan yang tak kupahami maknanya. Pelakat elektronik tak lagi menampilkan wajah para bintang Acyclopean, tetapi wajahku. Ketika sedang makan Jackers bersama Tiandre. Di rumah sakit. Juga wajahku sebelum dimakamkan.

Aku dimakamkan secara terhormat. Diiringi tangisan ribuan penduduk tersisa di Planet Acyclope. Suara musik petik khas Akra yang indah, yang dikenal luas sebagai musik pengiring pemakanan, dimainkan di sepanjang jalan. Kulihat Jenderal Geran berada di depan peti matiku. Kulihat para tentara membawa peti matiku dengan gagah. Ada angin hangat sepoi-sepoi di dadaku. Aku begitu terharu melihat kematianku, seorang alien, makhluk asing, dirayakan dengan indah dan terhormat.

Dan di sebuah pemakaman yang sunyi, yang penuh dengan kenangan akan orang-orang penting dan berani, di sanalah tubuhku disemayamkan.
"Tiandre mana? Masak dia tidak ada? Di pemakamanku?", protesku kencang. Namun melihat Kakek di pojok ruangan, diam saja tak menjawab, segera kuingat untuk menutup mulutku saja.

Tapi layar langsung menampilkan wajah Tiandre. Begitu besar dan sendu.

Aku mengenal Tiandre sebagai sesosok tentara yang menyenangkan. Dia jarang bersedih atau menganggap sesuatu secara serius. Ia lebih bahagia daripada penduduk Acyclopean yang berbahagia. Tetapi kini aku tak lagi melihat ciri itu di wajahnya. Ia terlihat begitu muram. Duduk menyendiri di ruang tengah rumahnya yang dipenuhi oleh foto-foto. Kemudian kulihat di sana, ia tambahkan sebuah foto: fotoku.

Aku tidak bisa lagi menahan air mataku. Kubiarkan saja semuanya keluar, melelehkan rasa sedih di dalam hatiku. Gambar pun kemudian dipercepat. Tiandre yang keluar dari satuan tentara Acyclopean. Tiandre yang kemudian membuka toko mainan. Tiandre yang lebih pendiam. Tiandre yang mengantarkan mainan di berbagai miniatur negara di Terowongan Acyclopean. Tiandre yang bertemu dengan seorang wanita di usia paruh bayanya.

Ia menikah. Nah, pada bagian ini, aku tersenyum begitu lebar. Akhirnya Tiandre tak lagi sendirian.

Wanita itu, yang matanya tak begitu bulat, dan memiliki tulang pipi tingi serta rambut warna merah, mendiami rumah Tiandre. Makan Jackers bersama. Tidur di tempatku biasa tidur. Membersihkan rumah. Merapikan foto. Membaca buku-buku. Menua bersama Tiandre. Aku merasa begitu lega saat menemukan kalau mereka menua bersama. Kalau pada akhirnya, wanita pilihan Tiandre akhirnya jatuh sakit, disusul Tiandre, dan kemudian, berakhirlah seperti yang terjadi pada Kakekku. Aku senang bila nanti, pada akhirnya, rupanya Tiandre tak mati bunuh diri dengan racunnya. Namun ketika adegan sampai pada Tiandre yang terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit, menerima kunjungan dari rekan dan saudaranya, tiba-tiba adegan seperti diam di tempat. Pause. Jeda sejenak.


Kemudian segalanya seperti timbul dari layar. Tak betul-betul nyata. Tetapi seperti efek lima dimensi. Aku melihat Tiandre yang terbaring di hadapanku dalam bentuk seorang tua. Seperti Kakekku di waktu yang dulu, tiga bulan yang lalu. Aku mencoba untuk menyentuh wajahnya. Tetapi tak kusentuh apa-apa. Ini tidak nyata. Hanya pancaran saja. Serupa hologram.

Tapi tiba-tiba, aku melihat semuanya meleleh. Awalnya kupikir itu efek layar semata. Tetapi rupanya benal adanya. Diawali dari dinding-dinding, hingga kawat-kawat yang menyangga dinding. Yang kulihat kemudian adalah semacam kekacauan. Orang-orang berlarian. Segala hiasan dinding, pendingin ruangan, juga lelampuan di langit-langit, semuanya terjatuh. Lelehan dinding dan langit-langit semakin banyak, menggenang di lantai. Namun kusempatkan untuk melihat wajah Tiandre. Kulihat ia masih bernapas. Tetapi ia tak sadarkan diri.

Adegan kemudian berpindah pada bagian lain Acyclopean. Langit-langit Acyclopean di sebagian tempat telah lumer. Bukan runtuh, tetapi lumer. Penduduk tenggelam dalam lautan bahan-bahan yang telah mencair. Juga beton-beton penyangga terowongan yang retak dan menjadi remah-remah. Sebagian yang masih terlindungi mengerang kepanasan. Aku menengadahkan kepala. Nyala Trean begitu menyilaukan, begitu dekat.

Yang kemudian kulihat bukan lagi Terowongan Acyclopean. Terowongan ini telah menjadi genangan putih kecil di tengah gurun besar Acyclope. Yang perlahan mengering dan menjadi kerak. Di bagian lain, kulihat samudra menguap begitu cepat. Seperti segelas air yang diminum dengan lekas. Tetes-tetesnya yang tersisa di dasar pun perlahan menguap oleh panas. Dan di bagian lain, kulihat bangkai-bangkai Hexo memenuhi daratan. Warnanya hitam legam, terbakar sempurna seperti di dalam panggangan.

Acyclope menjelma sebuah batuan bulat pepat yang begitu kering, begitu kosong dan ngeri. Tiada lagi kehidupan. Bahkan lambat laun, tiada lagi gurun-gurun dan daratan dengan tanah yang retak. Kini Acyclope menjadi serupa bara hitam yang legam. Yang pada beberapa titiknya muncul warna merah, yang merambat hingga panjang. Panas. Panas menjadi api, membakar seluruh permukaan Acyclope.

Dan aku kemudian dihadapkan pada pemandangan yang lebih jauh lagi. Bukan Acyclope. Tetapi Trean. Bintang yang tadinya kukira berwarna kuning, kini menjadi raksasa merah yang begitu cerah. Aku memicingkan mata. Jilatan api merah di seluruh bagian tubuh Trean begitu menyilaukan. Kubayangkan panas yang akan kurasakan bila berada di dekatnya.

Dan lambat laun, Trean mengecil. Aku sedikit tersenhum mengingat mungkin Trean akan sembuh dan menciptakan kehidupan-kehidupan baru lagi. Tetapi aku salah besar. Trean semakin mengecil, dan planet-planet yang mengelilinginya telah hilang tak berbekas. Kilatan-kilatan berkelebat di sekitarnya. Berkumpul membentuk pusaran seperti tornado. Membuat pandanganku sejenak kabur. Tetapi kemudian, aku dihadapkan pada sebuah benda kecil yang mengapung di angkasa.



Aku teringat satu sketsa yang pernah diceritakan oleh Kakek. Katai putih. Proses kematian Bintang Trean. Usai menelan semua planet yang mengitarinya, ia membesar, dan kemudian mengerut. Lama-kelamaan, ia menjad kerdil sewarna tulang, mengapung kesunyian di angkasa luas. Sedikit demi sedikit tergerus menjadi debu-debu di angkasa luas. Sewarna kilau ungu permata yang begitu indah. Nebula.

Lantar layar menampilkan gambar terakhir: rasi Perseus dari kejauhan. Lalu cerita tamat.

"Aku benci kematian."
"Masalahnya, kematian adalah hal paling pasti, kalau kamu hidup."
"Bukan kematianku. Tapi menyaksikan kematian. Kek, ini apalagi? Ramalan? Seperti yang dulu Kakek beri ke Acyclope? Kalau begitu, biarkan aku kembali ke Acyclope. Memberitahu mereka tentang hal ini. Tolong Kek."

Kakekku lantas mendekatiku. Mengusap kepalaku seperti waktu-waktu lampau saat Kakek masih sehat. "Teleskop Lou tidak memberikanmu mimpi. Tetapi seperti cahaya lain, cahaya bintang-bintang yang kamu lihat dari teleskop, adalah cahaya di masa yang cukup lampau. Kamu tahu kan, perlu waktu jutaan tahun bagi cahaya untuk sampai ke Bumi? Jadi, apa yang kamu rasakan, yang kamu lihat di Acyclope, semuanya adalah masa lampau."


Aku mengernyitkan dahi. Kepalaku rasanya pusing tidak karuan, "Maksud Kakek, selama ini aku hanya seperti melihat film saja, gitu?"
Kakekku tertawa, "Bisa iya, bisa tidak. Kamu pasti heran kenapa kamu bisa berbicara dengan penduduk Acyclopean dalam Bahasa Indonesia. Itu karena Lou menyediakan semacam program penerjemahan. Tetapi Kakek sudah menerangkan kepadamu tentang ide, bukan? Tubuh bisa saja mati, ide tidak. Ide tentang kamu bertemu dengan ide di Acyclopean pada detik-detik sekaratnya tata surya mereka. Jadi, kamu tidak hanya bermimpi atau masuk ke program simulasi, Le. Kamu bertemu Geran. Bertemu Tiandre. Itu semua nyata. Tapi bukan berarti itu di masa sekarang...."
Aku tak tahu harus berkata apa lagi. Mungkin berkata: seandainya saja Kakek tidak pernah memberikanku kunci itu.

"Lewat Teleskop Lou, Kakek dan teman-teman sudah melewati banyak dunia. Melebihi para astronot, tentu saja. Awalny menyenangkan. Tetapi apa yang kamu rasakan setelah melewati puluhan bahkan ratusan tahun di berbagai dunia, lantas kembali dan menemukan bahwa kamu baru melewati waktu selama seharian saja? Seminggu saja? Kalau Kakek boleh jujur, Teleskop Lou sering membuat Kakek merasa kesepian, di dunia yang seharusnya Kakek jalani, Le. Sekali melakukan perjalanan dengan Lou, itu masih baik. Tapi berkali-kali?"

"Semembosankan apapun hidupmu, itu adalah perjalanan yang dipersiapkan untukmu, Le. Itu lebih berarti ketimbang melewati banyak perjalanan yang tidak seutuhnya dipersiapkan buatmu. Lagipula, Le, kamu masih muda...."

"Kek...", aku merasa dadaku begitu berat. Aku tak mau menangis lagi. Tapi apalah aku, aku hanya seorang anak berusia sepuluh tahun yang begitu lembek dan kanak. Aku mengalami sebuah perjalanan di luar batas mentalku sendiri.
"Aku bukannya mau melakukan perjalanan lagi sebetulnya. Tapi, aku pikir, Kek, lewat teleskop itu, aku bisa bertemu Kakek terus, kan? Kakek tahu kan, rasanya kosong sekali, setelah Kakek tidak ada..."
"Tadinya, Kek, aku punya banyak cita-cita. Jadi petualang, peneliti, atau apa saja. Tapi setelah Kakek pergi, aku merasa kosong. Setiap kali aku melihat apa saja, semuanya tak lebih dari kilatan peristiwa yang tidak ada artinya. Aku tahu Kek Ibu dan Pakdhe Pakdhe mungkin lebih sedih karena mereka anak Kakek. Ibu suka menangis, Kek, masih sampai sekarang. Tapi Kakek harus tahu, aku tidak suka....merasa kosong....seperti ini, Kek. Aku tidak suka harus kehilangan. Aku juga benci Kakek, karena Kakek tidak mau menuruti semua saran dokter....", kulontarkan segala hal yang kurasakan sejak pemakaman Kakek. Aku tahu, wajahku kali ini pasti sudah tidak karuan. Tapi aku tak peduli. Aku ingin bertemu selalu dengan Kakek.

"Kalau bukan karena Teleskop Lou, mungkin aku hanya bertemu Kakek dalam mimpi-mimpi yang ternyata cuma refleksi dari pikiran bawah sadarku saja."

Kurasakan lantas pelukan Kakekku yang hangat. Pelukan yang jauh lebih teduh ketimbang pelukan-pelukan yang Kakekku berikan ketika aku sedang sedih lantaran hal-hal konyol. Nilai jelek, jatuh saat berlari, atau tidak bisa mengerjakan tugas. Untuk beberapa saat aku begitu hanyut dan bahagia dalam segala kenangan itu. Juga dalam pelukan Kakek yang sepertinya sudah lama sekali tak kurasakan lagi.
"Le, yang harus kamu tahu, Kakek tidak pergi. Kita masih bisa bertemu lagi. Sama seperti ketika kamu pergi ke Lombok bersama Ibu kamu selama seminggu. Kakek di rumah saja, tidak bersama kamu. Tetapi kamu tidak sedih kan? Manusia selalu menganggap kematian sebagai jalan terakhir. Padahal tidak, Le."
"Hidupmu ini perjalananmu. Nikmati, Le. Seperti liburanmu di Lombok. Kakek sudah tidak ikut lagi, tetapi setelah perjalananmu ini selesai, kita akan bertemu lagi. Mungkin tidak seperti dulu, tetapi kita bertemu. Pegang janji Kakek, ya? Dan ngomong-ngomong, salam saja untuk Ibumu, dan Umono. Bilang, Kakek menunggu, bersama Nenekmu. Ya, bersama Nenekmu! Dan sekadar informasi, Nenekmu cantik sekali, Le. Ide Nenekmu sangat indah sekali....."

Tak bisa lagi kutahan ribuan rasa sesak dan haru di sekujur tubuhku. Di dalam pelukan Kakek, aku tersedu-sedu. Persis seperti di masa-masa yang lalu. Kucengkram erat punggung Kakek, agar Kakek tak pergi lagi. Aku tidak mau. Aku mau dalam perjalananku, Kakek turut menemani. Aku tak peduli kalau pada kenyataannya kami bisa bertemu lagi. Perjalanan hidupku puluhan kali lipat lebih lama, daripada liburan seminggu di Lombok, kan?
"Aku tidak mau Kakek pergi...."

Namun semuanya seperti menguap. Serupa bagian-bagian Trean dalam proses kematiannya. Perlahan kurasakan pelukan Kakekku semakin memudar. Juga segala sudut di ruang perpustakaan buatan ide Kakekku ini. Aku melihat sekeliling. Angkasa raya maha luas. Di hadapanku , taburan bintang membentuk satu konstelasi yang masih berdiri dengan gagah: Perseus. Ksatria berpedang yang membawa kepala Medusa, wanita cantik ysng dikutuk hingga menjadi monster berambut ular.

Trean, salah satu bintang dalam konstelasi Perseus, telah mati. Tetapi Perseus tetap berdiri dengan gagah. Seperti cerita tentangnya dalam Mitologi Yunani. Selintas, aku merasa kesal. Bagaimana bisa ia tak terpengaruh akan kematian satu bintang, bahkan satu tata surya yang ada di dalam dirinya? Tidakkah ia merasa sedih? Ataukah memang, Trean hanyalah sebutir debu dalam tubuh ksatria yang besar ini? Setelah kupikir-pikir lagi, mungkin kematian Trean bukanlah hal besar. Ia hanyalah butiran debu di angkasa yyang begitu Maha ini. Dan terlebih lagi, kematian Kakek. Juga kehidupanku. Kami hanyalah satu kedipan kecil dalam benderangnya angkasa raya ini.

Aku tersenyum. Kupikir-pikir, hidupku bisa juga disamakan dengan liburan ysng singkat.

"Aku siap untuk pulang....",ujarku seraya menikmati kembali gemerlap lekuk tubuh Perseus di hadapanku. Gemerlapnya entah kenapa memberiku kekuatan untuk menghadapi perjalanan hidupku di Bumi nanti. Sebelum pada akhirnya semuanya usai dan aku bisa bertemu Kakek lagi.

Dan tiba-tiba, sesuatu melintas di hadapanku. Sinar kosmik. Sinar yang dulu membawaku ke Acyclope. Kali ini, ia mungkin akan membawaku pulang.

Namun rupanya, sinar itu melambat, dan membentuk sebuah bayangan. Awalnya asing, tetapi lama-lama, aku bisa mengenal lekat bayangan itu. Tiandre.
Pata, terima kasih ya?

Samar suaranya menggema. Kubalas dengan lambaian tangan. Perlahan, bayangan Tiandre pun terpecah. Lalu berkumpul jadi satu menjadi gumpalan sinar putih. Yang kemudian menghambur kepadaku.


Untuk beberapa saat, jantungku seperti berhenti berdetak. Kemudian, terasa gelap.

bersambung ke bagian 7

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe