Pantas Sartre Tak Mau Menerima Nobel

19.36


Hampir semua orang menyukai penghargaan. Penghargaan adalah salah satu bentuk pengakuan, dan manusia membutuhkan pengakuan. Pengakuan, tidak hanya bisa membuat orang seolah mendapatkan tempat lebih tinggi di komunitasnya, tetapi dalam hal-hal tertentu, pengakuan bisa dikonversi menjadi kapital lain. Dengan pengakuan, manusia bisa mendapatkan banyak kolega, posisi tinggi dalam pekerjaan, dan tentunya, uang.


Penghargaan ada di mana-mana, diselenggarakan oleh banyak pihak dengan berbagai bentuk. Miss Universe. Miss World. SEA Write Award. Nobel. Yang terakhir ini merupakan bentuk penghargaan yang dianggap punya gengsi tinggi. Kriteria untuk mendapatkannya pun bisa dibilang tinggi, dan mereka yang mendapatkannya pun sudah punya nama besar di dunia ini. Mulai dari sastrawan ternama, penemu cerdas, hingga presiden-presiden negara.


Salah satu penulis terkenal Indonesia, disinyalir pernah dinominasikan untuk Nobel Sastra. Namanya Pramoedya Ananta Toer. Orang tidak heran apabila dia menjadi nominator, mengingat hidup yang dia dedikasikan untuk menulis, dengan novel-novel yang punya kualitas sekaligus kuantitas tinggi. Karya-karyanya sarat akan masalah sosial dan budaya di Indonesia. Karena karya-karyanya pula, dia pernah mendekam di balik jeruji besi. Namun dia tetap setia dengan dunia penulisan.


Pada akhirnya toh dia tidak pernah menerima Nobel Sastra. Entahlah. Mungkin banyak penulis dunia yang dianggap lebih baik dan lebih dalam merekam isu sosial. Atau mungkin, ini masalah selera panitia semata, baik selera pribadi maupun selera politik.


Nobel dan Subjektifitas


Manusia tak akan pernah lepas dari subjektifitas, termasuk para juri dalam penghargaan Nobel. Mungkin memang ada tolok ukur tertentu, tetapi tetap saja penentuannya akan sarat dengan subjektifitas.


Belum lama ini musisi Bob Dylan menerima Nobel Sastra. Sebagian orang menganggap bahwa hal itu adalah sebuah terobosan, karena musik bisa dianggap sebagai karya sastra. Namun banyak orang yang menganggap bahwa keputusan ini sangatlah kontol. Gary Shteyngart, seorang penulis, menyindir panitia Nobel dan berkata bahwa membaca buku mungkin adalah hal yang sulit.


Ada lagi sosok kontroversial lain yang menjadi penerima Nobel: Aung San Suu-Kyi. Untuk yang satu ini, dia baru menjadi kontroversi jauh usai menerima penghargaan Nobel Perdamaian pada tahun 1991.  Suu Kyi dianggap pelopor demokrasi di Myanmar yang mampu melawan rezim militer di negara tetangga Kamboja tersebut.


Namun kasus krisis kemanusiaan di Rohingya membuat kekaguman orang-orang pada sosok perempuan kelahiran 1945 ini menjadi luntur, bahkan berbalik menjadi kebencian. Bahkan tersiar sifat rasis Suu Kyi usai dirinya diwawancara seorang reporter BBC, Mishal Husain, yang notabene beragama Islam serta menanyakan tentang krisis Rohingya. "Tidak ada yang memberi tahu bahwa saya akan diwawancarai seorang muslim", merupakan pernyataan off the recordnya yang menjadi kontroversial.


Terlebih, Suu Kyi terlihat tak semilitan dulu, ketika dirinya berusaha melawan rezim militer di Myanmar. Ada anggapan bahwa Suu Kyi lebih memilih untuk mempertahankan citra dan dukungan sebagian masyarakat di Myanmar, yang notabene juga membenci masyarakat Rohingya dan menganggap bahwa mereka pantas untuk diberantas dan dianggap bukan bagian dari Myanmar.


Lantas, di manakah kredibilitas Nobel sebagai salah satu penghargaan yang dianggap berkasta tinggi?


Hal ini mengingatkan saya pasa Jean-Paul Sartre, penulis dan filsuf eksistensialis asal Prancis, yang menolak Nobel Sastra pada tahun 1964. Tidak hanya merasa "tak mampu" menerima penghargaan tersebut, tetapi baginya, seorang penulis tak semestinya menjadi kepentingan institusi tertentu. Karena memang tak ada penghargaan yang sejatinya abadi. Yang abadi, hanyalah kepentingan.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe