Melek Politik atau Sekadar Fans Berat?

18.05


Facebook senantiasa menempati peringkat 10 besar di Indonesia. Namun pada minggu ini, tercatat di Alexa (Alexa.com), peringkat Facebook turun drastis ke angka 13. Sebuah hal yang tak pernah terjadi sebelumnya.

Dilansir dari berbagai media, salah satu faktor terbesar yang membuat jumlah Daily Active Users Facebook menurun adalah karena banyaknya HOAX dan pernyataan-pernyataan yang menyudutkan pihak-pihak tertentu di Facebook. Seperti yang telah kami tuliskan sebelumnya di dalam artikel tentang Positivisme, menjelang Pemihan Umum, media sosial kita (terutama Facebook,yang mengijinkan kita menulis pos dengan jumlah karakter banyak), dipenuhi dengan kalimat-kalimat bernada panas terkait pasangan lawan, atau terkait pihak-pihak yang tidak menyukai pasangan calon tertentu. 

Apalagi, suasana jelang Pilkada 2017 ini diwarnai dengan kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, yang notabene adalah gubernur petahana sekaligus calon gubernur DKI Jakarta tahun 2017. Semakin panas saja linimasa kita. Baik orang yang membenci Ahok maupun mendukung Ahok. 

Sebetulnya kita mesti bersyukur melihat masyarakat kita yang semakin peduli dengan figur-figur dala. politik. Sebelumnya, masyarakat terlihat skeptis, terutama kaum muda yang menganggap bahwa semua figur dalam politik sama saja. Dilansir dari buku berjudul Ilmu Sosial di Indonesia: Perkembangan dan Tantangan oleh Widjajanti Mulyono, Generasi pemuda 1998 sendiri adalah contoh identitas perlawanan (terhadap politik dan pemerintah). Sementara itu, pasca 1998, yang muncul adalah beragam identitas proyek yang sayangnya terlalu kecil untuk membawa perubahan sosial. Dan sisanya lebih memedulikan konsumsi dan peningkatan mobilitas sosial.

Namun semenjak keberadaan Joko Widodo, Basuki Tjahaja Purnama, Ridwan Kamil, serta Tri Rismaharini dalam bursa politik, kaum muda seolah "menemukan" figur yang mereka cari dan menjadi lebih peduli terhadap figur-figur tersebut. Sayangnya, hal semacam itu justru bisa menjebak. 

Tokoh Politik dan Idola Anak Muda


Banyak anak muda yang tak ubahnya fans berat grup band atau artis tertentu, saat membahas tentang figur politik yang mereka sukai. Tentunya kalian tahu bukan apa yang akan dilakukan, contohlah penggemar berat Taylor Swift atau Zayn Malik, apabila idola mereka dihina habis-habisan? Mereka akan marah. Mereka akan merasa sakit hati, seolah yang dihina adalah diri mereka dan keluarga mereka sendiri.

Figur idola bagi mereka bukan lagi sekadar orang lain di mana mereka menumpukan harapan. Figur idola adalah sasaran bagi proses identifikasi mereka. Entah idola itu mewakili sifat-sifat mereka, atau merupakan sosok yang sebenarnya mereka inginkan ada di dalam diri mereka (tapi mereka tak mampu menjadi seperti itu).

Hal yang sama juga terjadi pada anak muda yang punya cinta buta pada sosok politik tertentu. Mereka merasa kalau sosok tersebut adalah superhero, sesuatu yang dulunya menjadi idola sekaligus cita-cita mereka, atau punya sifat-sifat yang dirasa sama dengan mereka. Ini sudah bukan lagi perkara mencari sosok yang dapat menyejahterakan Indonesia dan juga masyarakat banyak. Tetapi ini masalah seseorang yang mengidolakan orang lain, baik para fans berat yang berteriak menangis-nangis di bandar udara saat idola mereka singgah ke negara mereka untuk konser.

Hal ini kemudian memunculkan peluang bagi banyak orang untuk menyebarkan provokasi, terutama di sosial media. Provokasi dapat mempengaruhi para fans buta. Mereka mempercayai apa yang mereka ingin percayai tentang idola mereka. Mereka tak peduli kalau itu benar atau salah, yang penting berita yang ada mendukung keyakinan dan idola mereka. Juga tentunya, sebuah mangsa pasar yang tepat bagi tim sukses. Sama seperti produk kecantikan yang menyasar para perempuan yang ingin cantik, dengan bualan tentang kulit yang bisa cerah dalam dua minggu. Tambahkan juga caption yang bertuliskan kalimat semacam "sudah diuji di laboratorium Amerika Serikat".

Karena toh pada dasarnya, generasi kita tak betul-betul mengerti politik. Mereka hanya menyenangi figur-figur tertentu.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe