Manusia, Beringas Saat Lapar

22:05


Man is the animal that makes bargain: no other animal does this. No dog exchanges bones with another - Adam Smith

Hal yang sedang marak dibahas di Indonesia saat ini masihlah tentang demonstrasi yang terjadi pada 4 November 2016 lalu, terutama di media sosial dan media massa. Tentunya kebanyakan yang dibahas di media sosial adalah tentang siapa yang benar dan siapa yang salah dalam demonstrasi tersebut.

Membahas perkara benar salah dalam sebuah perdebatan memang tidak akan ada habisnya, terlebih bila menyangkut keyakinan. Dan kita tidak perlu lagi membahas tentang gaya komunikasi Basuki alias Ahok, karena memang ada banyak pernyataannya, yang sebagai pejabat, memang cukup kontroversial.

Mungkin bila Ahok bukan pejabat, mungkin bila dia hanya mahasiswa biasa atau pengangguran, respon masyarakat tidaklah sebesar ini. Tetapi karena dia adalah pejabat, segala tingkah lakunya disorot dan diharapkan lebih baik dari orang lain yang bukan pejabat publik. Lagipula memang sudah saatnya bagi Ahok untuk tidak berkata-kata kasar lagi, tidak terlihat jumawa, dan lebih mampu membawa diri, kalau memang dia mau melanjutkan ambisinya untuk tetap menjadi Gubernur DKI Jakarta (tentu saja ini ambisi, kalau bukan, untuk apa dia sampai rela masuk kembali ke partai?)

Dan sesungguhnya, demonstrasi kemarin sebetulnya hanya fenomena biasa. Hampir setiap bulan orang-orang berdemo. Namun massa yang banyak serta gencarnya pembahasan di media sosial membuat demonstrasi ini menjadi terlihat berlebihan. Toh juga, banyak di antara pendemo tersebut yang tidak betul-betul relijius dan memahami esensi Islam. Oh ya, memang ada kenalan saya yang ikut berdemo. Sholatnya bolong-bolong. Masih suka minum. Kedua hal yang jelas dilarang dalam Islam. Tapi dia ikut dalam demonstrasi itu. Entah apa alasannya. Manusia memang orang yang mudah ditulari selera orang lain.

Kembali lagi, messkipun beberapa tingkah laku pendemo sangat berlebihan, misalnya, membuat kerusuhan di malam hari, juga berkata-kata kasar, tetapi apa yang dikhawatirkan oleh masyarakat tidaklah terbukti. Demonstrasi itu awalnya diprediksi akan sericuh peristiwa Mei 1998, tetapi toh nyatanya sangat jauh berbeda dengan situaso tersebut. Bahkan dengan massa yang sangat banyak, demonstrasi itu tergolong tidak ricuh. Mengapa?


Sebagai negara yang mengakui keberadaan agama, tentunya akan banyak pertengkaran dan perdebatan yang menyangkut masalah agama. Berbicara soal agama di Indonesia jelas harus hati-hati, karena dipastikan akan menyinggung banyak pihak, lagipula, penistaan terhadap agama juga diatur dalam hukum. Namun membandingkan demonstrasi berlandaskan agama yang terjadi tanggal 4 November lalu dengan Mei 1998 jelas meripakan hal yang konyol. Mengapa? Karena kemarahan orang berbeda.

Dalam kericuhan yang terjadi pada 1998, banyak orang yang kelaparan. Banyak orang yang menjadi miskin dan kehilangan pekerjaan lantaran krisis ekonomi. Kalau sudah krisis, siapa yang akan disalahkan? Pemerintah. Apalagi pemegang kekuasaan tertinggi pada saat itu telah berkuasa selama tiga dekade. 

Saat orang lapar, tak punya pekerjaan, dan juga miskin, mereka akan menjadi beringas dan bisa melakukan apa saja. Mereka bisa membunuh, menghancurkan, merampok, dan menjarah. Mereka tidak peduli dengan orang lain dan mereka akan sangat membenci orang-orang yang punya kehidupan lebih baik daripada mereka. Mereka pun mudah diprovokasi untuk membenci dan menjadi haus darah. Karena, mereka merasa malang dan merasa bahwa tidak ada yang lebih pantas dikasihani ketimbang mereka.

Untuk itu, peribahasa homo homini lupus nampaknya memang benar adanya. Manusia memang makhluk sosial. Tapi dalam keadaan yang terjepit, yang membahayakan dan membuat mereka sengsara, manusia bisa mengeluarkan instingnya yang ganas. Contohnya adalah saat Mei 1998 dulu. Juga di daerah-daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi. Di daerah-daerah tersebut, pastilah tingkat kejahatannya juga tinggi. Manusia akan melakukan apapun untuk bertahan hidup, dan melampiaskan kemarahan karena perut mereka dibuat lapar.

Jadi, kalau mau membuat sebuah kericuhan menjadi besar, buatlah perut orang-orang menjadi lapar. Miskinkan mereka dan keluarkan dari pekerjaan. Niscaya akan kamu lihat kerusuhan yang sangat besar dan ganas, seganas kelompok Hyena yang kelaparan.

Foto: okezone.com & dok. pribadi

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe