Idolaku yang Tampan Dalam Angan-Angan

22.56



Wacana tentang keindahan fisik biasanya hadir dalam cerita atau berita tentang perempuan. Tetapi jangan salah, dewasa ini dalam teks yang berkisah tentang lelaki, terdapat pula wacana tentang keindahan. Keindahan itu sifatnya tidak mutlak. Bahkan aliran positivisme pun menolak hal-hal terkait keindahan karena dianggap terlalu subjektif.

Mengapa subjektif? Tidak ada tolok ukur pasti dalam menilai keindahan. Contohnya keindahan wajah dan tubuh. Setiap kebudayaan mencatat definisi kecantikan dan ketampanan yang berbeda, tergantung selera dan kondisi masyarakat. Definisi cantik di Indonesia jelas berbeda dengan definisi cantik di negara-negara Afrika, misalnya.

Ada sebuah riset yang dilakukan oleh Dr Chris Solomon dari University of Kent, Inggris, terkait keindahan tubuh dan wajah manusia. Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap 100 responden di Inggris, ditemukan bahwa tipikal wajah seperti inilah mewakili kesenangan orang Inggris secara fisik pada pria dan wanita.

Ada pula studi lain yang menegaskan tentang pendapat umum bahwa wanita dengan pinggul dan buah dada yang besar dianggap lebih menarik karena menyimbolkan kesuburan. Sementara itu, lelaki yang tinggi dengan postur tubuh besar juga dianggap menarik karena terlihat maskulin dan terlihat dapat menjadi pelindung.

Namun toh pendapat dan riset pada akhirnya tidaklah mewakili keseluruhan orang. Seperti kata Mark Twain bahwa ada empat kebohongan besar, salah satunya adalah statistika. Pendapat orang terkait tubuh dan wajah menarik akan selalu berubah. Pada dekade 90an hingga 2000an awal, Orang Indonesia menyukai kulit (terutama perempuan) dengan warna kulit kuning langsat hingga putih. Namun belakangan ini, perempuan dengan kulit sawo matang hingga kehitaman pun dianggap punya daya tarik tersendiri. 

Hanya saja, persepsi orang terkait kecantikan dan ketampanan akan selalu bergantung pada orang lain di sekitarnya, dan juga tren yang tengah beredar. Tentunya kita masih ingat betapa tergila-gilanya sebagian besar perempuan Indonesia pada bintang Korea di tahun-tahun lalu. Dan pada tahun 2016 ini, pesona lelaki Korea mulai memudar dan kembali digantikan wajah-wajah khas Indonesia atau campuran yang dianggap lebih maskulin.

Tentang lelaki tampan, dari feminin ke maskulin


Kita semua tahu bahwa demam Hallyu atau Korean Wave di berbagai negara tak terkecuali Indonesia, membuat banyak wanita menggandrungi wajah-wajah khas Korea Selatan (yang entah sudah melewati operasi plastik atau tidak). Pria Korea Selatan, dalam film-film dan juga dalam video klip, digambarkan sebagai sosok pria futuristik, berwajah lonjong cenderung maskulin dengan wajah yang mulus, badan tinggi dan cenderung kurus sedikit berisi. Hal ini mendorong banyak pihak untuk membuat “tiruan” dari model tersebut, boyband-boyband dengan anggota lelaki Indonesia, rasa Korea. Sebutlah SM*SH dan Max 5.

Tidak hanya bergaya lebih feminin, bahkan ada beberapa anggota boyband Korea yang melakukan fanservice secara ekstrim. Bukan, bukan seperti Katy Perry yang mencium salah satu penontonnya dalam konser di Sentul, Bogor, 2012 lalu. Tetapi mereka mencium sesama anggota boyband yang berjenis kelamin sama dengan mereka.

Terlalu rapi, kelewat maskulin, dan mencium sesama jenis sebelumnya akan dianggap oleh perempuan heteroseksual sebagai sesuatu hal yang menjijikkan. Tetapi justru banyak perempuan yang berteriak girang. Bahkan hal ini lebih membahagiakan ketimbang melihat anggota boyband pujaan berciuman dengan perempuan. Mereka akan patah hati dan merasa kalau artis Korea Selatan tersebut sudah tidak bisa dijadikan idola.

Namun, selera mayoritas perempuan pada tahun 2016 ini mulai berubah. Boyband Korea perlahan mulai dilupakan (kecuali oleh orang-orang yang memang sangat menggandrungi Korea Selatan), imitasi-imitasi mereka di Indonesia pun mulai menghilang, dan sinetron kembali menampilkan bintang-bintang Indonesia asli, atau blasteran Arab dan negara-negara barat. Contohnya bintang utama dalam sinetron "Anak Jalanan",Stefan William yang merupakan lelaki berdarah Indonesia-Amerika, Immanuel Caesar Hito, pemeran favorit dalam sinetron yang sama dan merupakan pria Indonesia Asli, Omar Daniel, pemeran Rey dalam sinetron "Anugerah Cinta" yang merupakan keturunan Arab, Giorgino Abraham, pemeran dalam sinetron yang sama dan berdarah Indonesia asli. Ada pula selebriti-selebriti Youtube seperti Gaga Muhammad yang merupakan orang Indonesia asli. Serta tak lupa Hamish Daud, presenter My Trip My Adventure yang merupakan keturunan Indonesia-Australia

Mereka memiliki latar belakang budaya dan ras yang berbeda. Namun apa persamaan mereka? Mereka sama-sama memiliki badan yang atletis dan dada yang bidang. Hal ini jelas bukan karakter fisik yang dimiliki kebanyakan anggota boyband Korea Selatan. Namun kini, begitulah lelaki yang digandrungi oleh mayoritas perempuan Indonesia.

Tak hanya oleh perempuan, media pun menggandrungi tokoh-tokoh itu. Ini seperti jenis fanservice yang baru, di mana media membanding-bandingkan para idola baru ini, dan dalam perbandingan itu,mereka turut menyertakan foto-foto yang dianggap "memanjakan" para perempuan (terutama yang hopeless romantic-sorry to say), seperti yang terlihat di sini. Untuk apa perbandingan itu dibuat? Bukan sebagai lomba, tetapi untuk membuat para perempuan bahagia dan semakin yakin bahwa mereka adalah sosok sempurna. Muda, terkenal, kaya, atletis, tampan. Seolah media-media yang bersangkutan ingin berkata "Ini lho, ciri cowok yang pantes lo jadiin suami!"

Wacana tampan-cantik akan selalu ada dari masa ke masa dan disebarkan melalui media. Polisi cantik, PNS tampan, seberapapun muaknya kita terhadap hal tersebut, toh penikmatnya masih banyak. Meskipun tak bisa memiliki, setidaknya mereka masih bisa memandangi wajah-wajah nan indah dengan latar belakang sosial-ekonomi sempurna itu di layar TV dan juga layar ponsel. Yang secara tidak langsung, membentuk persepsi mereka tentang bagaimana seharusnya lelaki dan perempuan yang tampan dan cantik itu. Kemudian pun mereka akan menyesali,betapa di sekitar mereka tak ada lelaki ataupun perempuan dengan kriteria seperti yang disajikan oleh media. Persepsi tampan cantik mereka telah terdistraksi oleh media, dan mungkin dalam jangka waktu lama, mereka hanya akan menjadi kaum-kaum hopeless romantic, dengan original soundtrack kehidupan mereka yang disponsori oleh Project Pop berjudul "Pacarku Superstar".

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe