Calon Pejabat yang Bak Produk Kemasan

11.09



Media sosial bukan sekadar tempat untuk mencurahkan perasaan dan melihat sisi lain dari seseorang. Media sosial, juga berfungsi sebagai alat pencitraan. Pada musim kampanye pemilihan umum saat ini, media sosial juga digunakan oleh para pasangan calon pejabat setingkat gubernur/wakil, bupati/wakil bupati, atau walikota/calon walikota, untuk menarik perhatian masyarakat di dunia maya. Atau lebih tepatnya, tim sukses mereka.

Ini sudah menjadi rahasia umum, tetapi masih banyak orang naif yang mengira bahwa segala hal yang ditulis oleh para calon gubernur dan kawan-kawannya itu, memang berasal dari buah pikiran mereka sendiri. Ya mungkin ada, beberapa yang menulis dan memikirkan sendiri konten media sosial mereka, tapi itu sangat jarang sekali. Hampir tidak ada orang setingkat calon gubernur yang menulis tweets dan status sesuai keinginan mereka. Segala perkataan di media sosial mereka bagaikan media sosial perusahaan dan produk yang sudah punya perencanaan sendiri.

Perencanaan itu ditulis oleh sebuah tim yang macam hantu, ghost writers, yang tak ubahnya penulis skenario sinetron dengan nama samaran. Banyak di antara mereka yang sebetulnya bukan pendukung calon atau pejabat yang sedang mereka "promosikan", bahkan beberapa tidak menyukai figur yang bersangkutan. Tetapi tentunya, kita semua membutuhkan uang. Ini bukan lagi masalah pilihan nurani, tetapi masalah bisnis.

Hal ini sebetulnya tak jauh beda dengan para spesialis sosial media pada produk atau perusahaan tertentu. Mereka tahu setiap produk pasti punya kekurangan, dan ada produk-produk yang sebetulnya tidak terlalu penting. Kalau dalam tataran keutuhan, jangankan primer, masuk ke dalam tataran kebutuhan sekunder pun tidak. Namun dewasa ini masyarakat memang banyak membeli barang yang sebetulnya tidak mereka butuhkan, tetapi diatur supaya seolah-olah, mereka menginginkan dan membutuhkan barang-barang tersebut. Ya. Selamat datang di era masyarakat konsumeris.

Calon = Produk

Lalu apakah berarti para tim sukses itu membohongi hati nurani mereka? Apakah lantas mereka membohongi rakyat? Mungkin tidak bisa kita menghakimi mereka seperti itu. 

Kita hidup di dunia yang begitu kompleks. Cara bertahan hidup pun semakin beragam. Tidak ada yang salah dari menjadi tim sukses seorang pejabat atau calon pejabat daerah tertentu. Toh, mereka tidak dikontrak sampai ke dalam hati nurani. Dan menjadi tim sukses tetaplah sebuah pekerjaan yang legal, tidak melanggar hukum. Tetapi yang menyedihkan adalah ketika beberapa di antara tim sukses itu kemudian menjelek-jelekkan calon atau lawan dari orang yang mereka usung, serta berpura-pura menjadi "dewa penolong" bagi banyak orang. Mereka tak hanya menjadi tim di balik layar, tapi dengan wajah mereka sendiri, mereka membesar-besarkan sisi positif orang yang mereka usung. Ini bukan lagi pekerjaan, tetapi sebuah kebohongan. 

Namun semuanya juga kembali pada masyarakat. Jangan pernah jadi orang naif, kecuali kamu mau dibodohi selamanya di dunia ini. Tidak ada satupun calon pejabat yang tulus. Tidak ada calon pejabat tanpa cacat. Kesempurnaan mereka dalam media sosial hanyalah drama. Tak ubahnya ketika kamu melihat iklan Coca-Cola. Yang ditampilkan di sana hanyalah kesegarannya semata. Tidak akan pernah iklan Coca-Cola memberitahu kita tentang berapa kadar gula yang mereka gunakan. Karena seperti kata Baudrillard, informasi memang banyak di dunia yang semakin baju ini. Tetapi maknanya? Hampir nol besar. Karena informasi sejatinya tak selalu bertujuan untuk mencerahkan. Ada banyak informasi yang bertujuan untuk menghipnotis banyak orang.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe