Anak dan Ruang Untuk Mengekspresikan Perasaan

19.38


Orangtua selalu merasa memiliki anak mereka. Banyak di antara mereka yang menganggap bahwa kepemilikan mutlak anak berada di tangan mereka, seperti halnya tas yang mereka miliki, sepatu mereka, atau ponsel mereka. Dan apa yang kamu lakukan dengan ponselmu? Kamu tidak akan merusaknya (kecuali kalau ada sesuatu yang salah denganmu), tetapi kamu akan menghias dan membuatnya menjadi seperti apa yang kamu mau. Membeli case ponsel sesuai seleramu. Mengunduh aplikasi-aplikasi yang menurutmu berguna. 


Namun seorang anak bukanlah barang. Layaknya kita, dia memiliki kesadaran. Seperti dalam penelitian Jacques Lacan, seorang psikoanalisis Prancis, bahwa ada tiga tahap perkembangan manusia, yang pertama tahap "real",atau tahap di mana seorang bayi berusia 0-6 bulan, dengan keterkaitan akan kebutuhan. Yang kedua adalah tahap imajiner, di mana anak berusia 6-18 bulan mulai menyadari dirinya lewat tahap cermin (saat melihat pantulan bayangan dirinya dalam cermin), dengan keterkaitan akan permintaan. Dan yang ketika, pada usia 18 bulan - 4 tahun, di mana sang anak mulai mengenal bahasa serta mengenal keinginan. Bukan sekadar kebutuhan atau permintaan.


Tahap-tahap ini membentuk seorang manusia menjadi sebuah subyek yang mengada untuk dirinya. Dia punya kemampuan berimajinasi, dan kemampuan untuk menjadi sesuatu yang barangkali bisa berbeda dengan orangtuanya. Untuk itu, anak bukanlah sebuah barang, tidak bisa dimiliki secara mutlak oleh siapapun, termasuk oleh orangtuanya sendiri karena ada tahap di mana dia memiliki pemikiran dan keinginan yang berbeda dengan orangtuanya.


Sayangnya, banyak orangtua yang menganggap bahwa keinginannya juga menjadi keinginan sang anak. Toh anak mewarisi gen-gen orangtuanya. Ya, itu secara biologis. Tapi anak tidak hanya dipengaruhi oleh orangtuanya. Dia dipengaruhi oleh banyak hal. Oleh media (TV, internet, dan lain sebagainya). Oleh kawan-kawan sepermainan. Oleh sekolah. Dan juga oleh imajinasinya sendiri. Tak mengherankan kalau anak menjadi pribadi yang berbeda dari orangtuanya. Anak mulai menemukan keinginan-keinginan yang bisa jadi berbenturan dengan nilai-nilai yang dianut orangtua.


Ada anak yang kemudian menyanggah/mempertahankan argumentasinya, tetapi banyak juga yang memutuskan untuk merepresi pemikirannya dan kemudian "pura-pura" berdamai dengan pendapat orangtua. Karena, entah orangtuanya tidak suka dengan perasaan anak, atau menganggap perasaan sang anak tidak penting. "Dia cuma anak kecil", biasanya begitu yang mereka katakan, menganggap kalau anak mereka akan baik-baik saja bila tidak didengarkan atau diabaikan. Karena toh, paling-paling sang anak akan tumbuh seperti dirinya.


Padahal, merepresi ataupun mengabaikan perasaan anak dapat berdampak buruk padanya. Anak akan menganggap bahwa orangtua tidak bisa menerima pendapatnya, dan orangtua bukanlah "rumah" baginya untuk bisa menjadi diri sendiri. Anak kemudian akan mencari tempat lain untuk bisa menyampaikan perasaannya supaya didengar. Mungkin beruntung bagi mereka yang mendapatkan wadah positif, atau teman positif yang bisa mengarahkan mereka ke jalan yang baik. Namun bagaimana bila salah jalan?


Kejahatan dan Perasaan yang Tidak Tersampaikan

Seringkali kita dengar berita tentang teroris di Indonesia. Hampir semua teroris itu disebutkan memiliki kepribadian yang tertutup dan pendiam. Seperti tersangka teroris yang mengebom Gereja Oikumene, Samarinda, dan menewaskan seorang anak kecil. Tidak salah menjadi pendiam. Tetapi bisa kita lihat bahwa banyak teroris yang menyembunyikan apa yang dia rasakan. Dan jelas kepribadian ini tidak tumbuh saat dia dewasa. Kepribadian itu telah disemai sejak dia kecil. Disuburkan oleh lingkungan dan orangtua yang tidak mendukung.


Mungkin orangtuanya fanatik, orangtuanya keras, atau bahkan tidak peduli kepadanya. Jadilah saat dia menemukan wadah, yang sialnya adalah wadah berisi sekumpulan pelaku teror, katakanlah jaringan ISIS dan sebagainya, dia merasa didengarkan. Dia merasa bahwa wadah ini bisa memajukan dia, tidak seperti orangtuanya yang keras, atau yang tidak peduli kepadanya. Kepada sang orangtua, dia tidak akan bercerita tentang "kelompok" barunya karena dia rasa, orangtuanya tidak akan mengerti, akan selalu melarang, dan bahkan tidak peduli.


Atau beberapa kisah masa kecil pembunuh bayaran. Sebut saja Charles Manson, pelaku pembunuhan istri sutradara Roman Polanski yang tengah mengandung 8 bulan, Sharon Tate (Tate-La-Bianca), dan sejumlah kejahatan lain. Dia lahir dari keluarga kriminal,yang sejak kecil menitipkan dia di tetangga karena mereka akan melakukan kejahatan atau karena tertangkap. Manson merasa diabaikan dan kesepian. Dan tentunya masih banyak kisah para pelaku kriminal yang hidup dalam tekanan keluarga, atau malah pengabaian.


Tekanan dan pengabaian membuat anak merasa bahwa dirinya tidak berharga dan perasaannya tidak penting. Dia tidak hanya akan membenci dirinya, tetapi juga keluarganya sendiri dan bahkan orang lain. Dia akan menganggap bahwa kelahirannya ke dunia ini adalah sebuah kesia-siaan. Beberapa akan berpikir "Orangtua saya saja tidak memperlakukan saya, secara psikologis, dengan manusiawi, lantas mengapa saya harus menjadi manusiawi?". 


Untuk itu, semestinya kita mulai untuk menganggap anak kita tak sekadar barang yang bisa diabaikan atau justru dikekang, bahkan secara psikologis. Anak kita bukanlah barang, dan kebutuhannya bukanlah sekadar kebutuhan fisik seperti pangan sandang dan papan. Anak kita adalah manusia, yang meskipun tumbuh setelah kita dewasa, tetap memiliki perasaan dan pemikiran yang penting. Selayaknya sebagai orang dewasa kita harus berhenti untuk berpikir bahwa kita lebih pintar dan lebih berpengalaman dari sang anak. Mungkin bagi kita, ada beberapa pemikiran, perasaan, dan imajinasi anak yang tidak penting. Tapi hey, mereka anak-anak. Atau malah justru kita yang terlewat sering memikirkan banyak hal hingga mengabaikan hal-hal dalam hidup yang meskipun mungkin secara materi tidak penting, tetapi punya esensi yang penting?

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe