"The Umbrella Women" Jelang Pilkada 2017

10.56


Ada satu hal yang perlu diperhatikan dalam suasana jelang Pilkada 2017 ini, selain black campaign dan tentunya beberapa calon yang punya kontroversinya masing-masing: para perempuan-perempuan payung, meminjam istilah dalam acara balap motor atau mobil, the umbrella girls. 

Tidak, jangan bayangkan mereka memayungi Basuki Tjahaya Purnama atau Sandiaga Uno saat mereka sedang berkampanye atau berpidato, bukan yang seperti itu. Lebih tepatnya, dua (baru dua yang muncul) perempuan ini semacam didapuk menjadi juru bicara, tim sukses, atau apalah itu dan hal ini ditunjukkan di Instagram oleh keduanya.


Yang pertama, Sophia Latjuba. Kabarnya, artis lawas ini direkomendasikan oleh Partai Nasional Demokrat, salah satu yang mengusung Basuki, atau Ahok, untuk menjadi juru bicara. Yap, juru bicara. Memang bukan hanya dia, tapi karena dia selebriti terkenal dan cukup kontroversial, maka dialah yang paling menyita perhatian.


Di sini kita tidak akan bilang kalau Sophia Latjuba tidak pintar. Tidak semua orang yang terlihat bodoh tidak pintar, dan tidak semua orang yang terlihat pintar itu benar-benar pintar. Tapi ya kita lihat saja. Apa prestasi dan kontribusi Sophia Latjuba selama ini yang kita lihat di televisi? Apa saja berita terkait Sophia yang biasa muncul di televisi?

Memacari Michael Villareal, yang notabene masih berstatus suami orang. Dan berita-berita infotainment lain yang menjemukan bersama Ariel Noah. Sophia sebetulnya bukan selebriti yang buruk,mengingat lagu-lagu yang dia nyanyikan dan film yang dia mainkan cukup bagus. Tapi soal politik, dia belum teruji. Kontribusinya dalam politik? Dalam kehidupan sosial? Sekadar bayar pajak? Jadi bintang iklan sabun yang digunakan oleh masyarakat? (Tolong jangan katakan kalau kontribusinya adalah pernah menyumbang bagi orang-orang yang kekurangan atau bersedekah. Hal semacam itu tidak cukup kuat untuk membuatmu jadi jubir, karena toh memang orang-orang yang mampu semestinya membantu orang-orang kurang mampu).

Yang kedua, Olla Ramlan dan Sandiaga Uno. Memang belum jelas apakah Olla Ramlan akan bergabung menjadi tim sukses kubu Anies-Sandiaga. Tetapi dari foto yang dibagikan oleh Olla di Instagram, seperti ada tawaran dari pihak Sandiaga pada Olla, untuk berkontribusi dalam Pilkada 2017 mendatang. Dalam kutipan foto tersebut, Olla berkata bahwa dia "masih pikir-pikir dulu", untuk itu, kita tak bisa menyatakan bahwa Olla telah menjadi tim sukses kedua pasangan calon itu.



Tapi kalaupun pada akhirnya jadi, sebetulnya kita patut bingung: apa kualifikasi Olla sebagai juru bicara dalam bidang politik? Oke, Olla Ramlan adalah presenter yang baik. Hanya saja tak semua presenter memahami tentang masalah politik. Dugaan kalau Olla sedang didekati kubu Anies-Sandiaga untuk menjadi tim sukses ini sontak membuat orang bertanya-tanya kembali "Untuk apa? Kontribusinya apa? Kenapa harus dia? Apa karena keluarganya memang dekat dengan Sandiaga sejak dulu? Atau bagaimana?

Bukannya membuat orang menjadi hormat, hal-hal ini malah membuat masyarakat jadi menyangka bahwa lagi-lagi, ada objektifikasi perempuan dalam politik. Bukan, bukannya perempuan tidak boleh berkiprah di kancah politik. Bukannya perempuan yang pintar berdandan tidak boleh jadi tim sukses. Tapi masalahnya, perempuan yang mana dulu? Sekali lagi, kedua perempuan ini tidak pernah terlihat punya kontribusi lain di luar dunia hiburan. Bahkan di dunia hiburan pun, mereka berdua tidak dapat digolongkan sebagai seniman yang punya karya-karya yang bermakna dalam, sebutlah semacam Iwan Fals atau Ebiet G. Ade dengan lagu-lagu mereka yang bertemakan sosial. Kita jelas akan sangat senang melihat seorang perempuan yang punya kontribusi besar di bidang sosial kemasyarakatan, atau di bidang lain terkait politik, pandai berdandan, dan juga terkenal yang menjadi juru bicara seorang calon Gubernur, Presiden, atau apapun itu. Tapi ya, kedua perempuan itu tidak terlihat punya kontribusi di bidang yang berhubungan dengan kerakyatan. Jadi wajar kalau masyarakat bergumam: cuma gara-gara cantik doang lo berdua kepilih.

Hal semacam ini sudah sering kita dengar terjadi di sekitar kita. Masih ingat dengan berita "Pemkot Bekasi Mencari PR, Syaratnya Harus Cantik dan Ganteng". Dikutip dari berita yang beredar, Wali Kota Bekasi mengatakan kalau salah satu syarat menjadi pegawai Hubungan Masyarakat di sana adalah cantik dan ganteng. Ya. Cantik dan ganteng. Istilah cantik dan ganteng ini seperti mengobjektifikasi tubuh, baik tubuh laki-laki maupun perempuan.

Padahal, cantik dan ganteng ini sebetulnya hanya masalah rapi, pintar menjaga bentuk tubuh,dan pintar berdandan saja. Definisi cantik dan ganteng pun berbeda-beda di tiap negara.Tapi orang-orang menjadikan dua istilah ini sebagai suatu berkah mutlak yang memang sudah ada di dalam diri mereka, sebuah hal yang semutlak fakta kalau bumi itu adalah salah satu anggota tata surya.

Petinggi-petinggi negeri yang berpengaruh ini sudah selayaknya berhenti melakulan objektifikasi atas tubuh seseorang dan menjadikan mereka simbol, hanya karena mereka terlihat menarik di mata masyarakat. Iya, simbol. Kamu pikir kalau kamu didapuk menjadi sesuatu yang penting hanya karena penampilanmu menarik dan kamu terkenal, lantas mereka mengapresiasi kamu? Kamu hanya dijadikan simbol. Tidak ada bedanya dengan kita yang memilih baju atau tas tertentu untuk jalan-jalan ke tempat spesial karena baju atau tas itu cantik. Hanya sebagai aksesoris saja.

Foto: Berbagai sumber.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe