Semesta Kecil Perseus - Bagaimana Caramu Untuk Mati? [Bagian Keempat]

10:39


Aku tidak tahu apakah Teleskop Lou memiliki program penerjemahan, atau memang ini hanya sebuah mimpi yang terlalu nyata. Sungguh, yang kuinginkan sekarang hanyalah semangkuk makanan apa saja, segelas minuman apa saja, dan tempat duduk yang nyaman.

Jenderal Geran menutup pembicaraan kami dengan pertanyaan "Berkenankah Anda membantu kami?". Dan kupikir tak ada jawaban lain selain anggukan kepala, mengingat aku tak tahu apa yang akan terjadi bila aku berkata tidak. Jenderal Geran terlihat baik, tetapi orang asing tetap orang asing. Aku belum mau mati, meskipun biasanya, dalam sketsa semacam ini, kalau aku mati, aku akan kembali ke Bumi. Siapa tahu?

Enam hari lagi aku akan mengikuti rapat besar para tentara di markas pertahanan Acyclopean. Aku tidak pernah ikut rapat apapun, bahkan rapat kelas sekalipun. Tiba-tiba aku disuruh untuk mengikuti rapat para tentara. Aku mengetahui sedikit perang: Perang Troya, Perang Dunia 1 dan 2, Perang Lima Tentara dalam dunia Tolkien, dan Perang Kemerdekaan Indonesia. Mungkin aku akan mengusulkan gerilya bambu runcing, atau senjata kimia dari pupuk sekalian.

Tapi sebelumnya, aku akan tinggal di rumah Tiandre. Tak begitu jauh dari Rumah Sakit Tentara tempatku berada sebelumnya. Menurut Jenderal Geran, tempat Tiandre aman dan nyaman. Cocok bagi pendatang.

"Bagaimana pandangan Acyclopean terhadap Kakek saya?"
"Baik. Sangat baik. Meskipun ada beberapa yang menganggap kalau warisan Kakek moyang Anda adalah salah satu faktor penyebab, ya, kerusakan Acyclope."
"Begitu ya."
"Hei hei, tapi jangan khawatir...", tutur Tiandre sembari membuka atap kendaraannya. Ada beberapa jenis kendaraan di Acyclope. Tetapi milik Tiandre adalah kendaraan roda dua yang memiliki atap. Menakutkan bagi penderita Klaustrofobia, tetapi setidaknya kendaraan ini ringkas dan cukup aman. "Seperti kita, semua Planet dan bintang akan melewati fase sakit, dan tua, kan?"
"Seperti Kakek saya..", aku menunduk. Gambaran Kakekku sekelibat datang lagi. PAdahal aku tidak suka mengingat Kakek yang sakit.
"Oh ya, ngomong-ngomong...", "Itu Kakek saya. Bukan Kakek moyang."
"Kakek Anda?"
"Dia baru meninggal tiga bulan lalu."
"Tetapi, sudah beberapa Abad berlalu semenjak kedatangan Kakek Anda. Saya membayangkan apakah umur penduduk Bumi begitu panjang? BEgitu pula Bumi?"
"Tidak."
Kami lantas terdiam untuk beberapa saat. Tiandre memperlambat laju kendaraannya. Hal ini memberiku kesempatan untuk melihat lansekap-lansekap lain kota. Bangunan khas Acyclopean memiliki atap kubah, atau ujung yang cenderung melengkung dan tak bersudut. Sepertinya para Acyclopean kurang menyukai sudut runcing. Layaknya warna kulit mereka, warna bangunan-bangunan juga cenderung tegas dan lebih beragam. Semacam tata kota bernuansa Harajuku.

Orang-orang bermata bulat dan lonjong, berjalan dengan sepatu berujung bulat seperti milik Kakak perempuanku. Ia suka berbelanja sepatu beli dua gratis satu yang lucu dan ujungnya tak lancip. Menurutnya, hal itu terlihat ceria dan membuatnya lebih muda. Tapi karena kakakku konyol, segala hal yang berhubungan dengan dirinya juga terlihat konyol. Termasuk preferensinya. Walaupun kuakui penduduk Acyclopean tidak terlihat konyol dengan segala hal bulat dan berwarna yang membuat mereka berselera.

Langit-langit serupa kubah berganti warna, berganti rupa. Semacam hal yang kulihat saat berada di Planetarium. Kupikir, bila aku tinggal di tempat seperti isi, rasanya akan cukup menyenangkan dan aku tak butuh sinar matahari untuk menjadi bahagia. Namun kata Tiandre, ketiadaan cahaya Trean membuat pertumbuhan  penduduk Acyclopean menjadi terhambat, "Saya dianggap sebagai orang paling tinggi." Padahal, tinggi badannya sepertinya sama seperti Ibuku. Pantas saja baik Geran maupun Tiandre tidak menyadari kalau aku masih berusia sepuluh tahun. Dan kupikir, aku tak perlu bilang kalau

"Dilatasi waktu!", jarak keheningan yang panjang antara kami berdua terpecahkan oleh kesimpulan yang sama. Kami lantas tertawa. Kemudian menggumam betapa misteriusnya dunia. Tiandre lantas bertanya apakah waktu bisa dipanjat. Aku tak tahu. Aku hanya seorang anak yang melakukan perjalanan dengan teleskop. Tetapi kabarnya, bila kita adalah makhluk dengan dimensi melampaui ruang dan waktu, kita bisa membolak-balik ruang dan waktu seperti buku. Barangkali di sana akan kutemui Kakekku. Tak hanya sekadar dalam kenangan saja.



Ini akhir Minggu Acyclopean. Pusat kota dipenuhi keramaian. Semacam Bumi, ada beberapa klub, pusat perbelanjaan, juga bianglala besar yang meraih atap kubah. Ada pula lapangan es kecil tempat bermain ice skating sembari menonton mini-konser. Tiandre bilang, semestinya Acyclope bagian barat akan musim dingin, walaupun kini memang tinggal satu musim saja di permukaan Acyclope: kemarau kering. Jadilah, pada pembukaan musim dingin ini, orang-orang merayakan dengan festival Es, di beberapa sektor bawah tanah Acyclopean yang dinamai dengan nama beberapa negara, yang dulunya mengalami musim dingin. Dua hari lagi, kata Tiandre, kapas-kapas dingin akan berjatuhan dari atas, menjadi jelmaan salju.
"Kulitmu...", ujar Tiandre, "Seperti warna tanah di negara-negara bagian tenggara Laut Ylnat. Iklim di sana sejuk dan tumbuhan berbunga sepanjang tahun. Cocok untuk liburan yang tenang. Kupikir, wanita-wanita di Acyclope akan menyukaimu."
"Aku bahkan termasuk berkulit gelap lho, di Bumi. Ada negara-negara di Bumi, yang kulitnya sangat cerah dan putih, hingga beberapa urat nadi terlihat dari tubuh mereka. Dan banyak wanita di negaraku ingin menjadi seperti itu."
"Betulkah?", seru Tiandre. Ia terdengar kagum. Kupikir, Kakakku yang suka membeli produk pemutih kulit agar bisa seputih personil One Direction akan suka tinggal di sini. Ia akan jadi primadona. "Makhluk Bumi seperti peri, ya?"

"Tidak, tidak, tidak sama sekali. Tidak banyak makhluk Bumi yang punya mata bagus. Banyak yang matanya terlihat jahat. Dan mereka memang jahat betulan, sih...."

"Berbeda dengan Acyclope yang matanya bagus-bagus..", tukasku. Tiandre tertawa. Tapi walaupun awalnya aku mencoba berbasa-basi, aku memang suka dengan mata mereka. Seperti anak kelinci yang menggemaskan. Seperti Pikachu dengan segala keceriaan yang ia bawa.

Kami sampai di rumah Tiandre yang tak jauh dari pusat kota. Rumahnya tak besar. Dengan dinding luar berwarna merah bata dan atap warna coklat. Sebelumnya Tiandre telah mengatakan kepadaku bahwa ia hidup sendiri. Aku ingin bertanya mengapa, tetapi kupikir tak banyak orang yang mau ditanya perihal pilihan hidupnya.

Tapi rumah Tiandre tak pernah sendirian. Di dalamnya, aku hampir tak menemukan sudut kosong. Semuanya sepertinya terisi penuh. Satu hal yang akan dibenci Ibuku, yang suka dengan hunian lapang. Tetapi rumah Tiandre ideal untuk para lelaki. Terlebih begitu kubuka pintu, kutemui sebuah layar televisi dengan konsol permainan di bawahnya. Juga sofa biru pekat yang panjang dan bulat.



Tiandre memasang banyak foto di dindingnya, hingga warna hitam dari dinding itu sendiri jadi tersembunyi. Foto-foto ini seolah membuat rumahnya jadi bercerita tentang banyak orang, hal, dan tempat. Aku ingin menyimak cerita tersebut, tetapi kupikir bukan hal yang baik, mencari tahu dengan cara seperti ini di awal perkenalan. Sementara itu, perapian di dinding sebelah kiri memuat gelonggongan kayu yang dipotong dengan bentuk semacam frisbee. Lucu sekali. Selain itu, ada pula lemari lemari berbentuk ombak dengan warna hitam. Seperti energi gelap yang dipetik sebagian tubuhnya dan dibiarkan bergetar serupa senar. Salah satu lemari, yang punua kaca transparan, berisi benda warna-warni dengan berbagai bentuk dan rupa meriah. "Beberapa mainan. Nanti kita akan coba. Bertarung!", tukas Tiandre semangat. Kusimpulkan, ia adalah seorang gamer. Dan gamer akan selalu menjadi pasukan yang baik.

Ruang makan Tiandre tak lebih lapang, tak lebih ramai, tetapi lebih hangat. Nuansa warnanya coklat. Nuansa itu didapatkan dari lampu yang warnanya pastel. Meja makan Tiandre rendah dan tak berkaki. Seperti Tamagotchi di usia bayi. Bundar dan terlihat kenyal, padahal, kata Tiandre, itu terbuat dari Kagras, salah satu jenis kayu paling keras di Acyclope. Tiandre bilang, aku terlihat kurus dan butuh makanan yang banyak dan manis. Aku suka makanan manis. Mengingatkanku selalu pada kue buatan Ibuku.

"Aku suka dengan orang Acyclopean...", tuturku, sembari bermalas-malasan di kursi meja makan. "Kalian hidup di bawah hewan-hewan yang mengerikan... Alam yang sangat, sangat buas", aku bergidik. Mengingat pengalamanku saat berlarian di permukaan gersang itu, "Tetapi, kalian tak terlihat takut. Tak terlihat sedih."
Tiandre tersenyum, sembari membuka sebuah kemasan tabung bergambar hewan berbentuk bola yang punya semacam tanduk di bagian belakang tubuhnya, "Ketika kamu tahu bahwa hidup sudah tak lagi menawarkan waktu yang banyak, apa yang bisa kamu lakukan selain berusaha untuk sebahagia mungkin?"

Aku tersentak. Kembali teringat akan Kakek. Dan aku yang senantiasa memaksa Kakek untuk menuruti segala kata Dokter. "Biar Kakek sembuh, Kakek harus mau ya! Tahan rasa sakitnya!". Aku tak tahu, apakah selama ini rasa sayangku justru menyiksa Kakek? Lantaran aku yakin, Kakekku tak bahagia di rumah sakit. Namun demi kesembuhannya, kami selalu merayunya agar mengikuti semua prosedur pengobatan. Sayangnya waktu kebal terhadap segala obat penawar. Seharusnya kami sadar itu dari awal.

"Kamu tahu tidak, Pata? Walaupun setiap malam saya tidak yakin kalau saya akan bisa bangun keesokan harinya, walaupun setiap kali akan berangkat ke permukaan, patroli dan terkadang berburu hewan-hewan ganas kecil, saya tak yakin kalau akan kembali, tetapi saya sangat bahagia. Saya banyak membaca sejarah Acyclope di permukaan, sebelum Tahun Perpindahan. "

"Sebelum Kakek Anda datang, Acyclope diwarnai beberapa perang antar manusia. Perebutan wilayah kekuasaan, hingga masalah ras (dan aku berkata dalam hati, tak jauh beda dari makhluk Bumi!). Setelah Masa Acylinda Terdekat ketika kami telah mulai bisa memetakan langit, melihat dengan jelas permukaan Acylinda- satelit alami Acyclope yang terbesar-  dengan teleskop, salah satunya yang dibuat oleh Kakek Anda, perang terang-terangan mereda. Namun perang mulai banyak terjadi secara sembunyi-sembunyi. Konspirasi, hingga pembunuh dalam sunyi. Juga hasutan-hasutan yang ada di dalam dunia Procran -sistem dunia tanpa batas kami di dalam layar- (komputer, ya!)."

"Saya membayangkan..", sambung Tiandre seraya menuangkan isi kemasang tabung tersebut ke dalam mangkuk bolaku. Remah-remah makanan, berbentuk seperti cacing, tetapi berwarna-warni, "Bagaimana perasaan para tentara di zaman itu, berperang melawan kaum mereka sendiri? Tidakkah mereka merasa kesakitan saat mencabik tubuh musuh? Bukankah itu seperti mencabik diri mereka sendiri?"

"Jadi, Pata..", "Meskipun saya tak tahu apakah besok malam saya masih hidup, apakah saat patroli di permukaan saya bisa kembali lagi ke terowongan ini, tetapi saya bahagia. Saya selalu tidur dengan tenang, di bawah perlindungan besi-besi terowongan ini. Karena saya tahu kalau saya tidak berjuang sendirian. Dan yang saya perangi adalah mereka yang betul-betul saya benci. Bukan berperang karena tugas."

Kali itu, kami menyelesaikan makan malam dengan cepat. Jackers, begitu nama makanan yang kulahap, memiliki rasa manis sekaligus asin di waktu yang sama. Bukan makanan terenak, tetapi cukup membuatku berselera.

Aku memiliki banyak pertanyaan. Tetapi aku berada di tanah yang asing, dan aku tidak tahu mana yang pantas dan tidak sepantasnya dipertanyakan. Untunglah Tiandre seperti foto-foto yang melekat di dinding rumahnya: ia gemar bercerita. Ia bercerita tentang alasan mengapa ia tidak menikah. "Umur Planet kami tidak panjang. Saya tidak mau anak saya mengalami kiamat yang mengerikan".

 Sekaratnya Acyclope ini juga membuat para Jendral mulai menyerah. Setiap hari, mereka berpatroli dengan baju pelindung khusus yang hampir sama dengan baju pemadam kebakaran, dari kepala hingga kaki, lantaran sinar Trean sudah berbahaya bagi kulit mereka. Para astronom bahkan mengatakan bahwa Trean semakin membesar dengan inti yang makin memanas. Itu artinya, Trean semakin sekarat. Dan beberapa juta tahun lagi, Trean akan menjadi katai putih. Namun beberapa juta tahun sebelumnya, kehidupan di Acyclope, planet yang berevolusi pada Trean, akan punah tak bersisa, akibat panas Trean yang begitu mendidih.

Itulah sebabnya mengapa Geran begitu senang dengan kedatanganku. Juga kepercayaan pada ramalan yang tak lazim dimiliki oleh petinggi-petinggi militer. "Selain fakta bahwa Anda tahan terhadap sinar Trean tanpa baju pelindung, yah, ketika harapan sudah pudar, apa Anda punya pilihan untuk percaya kepada apa dan siapa?", ucap Tiandre.

"Aku jadi berpikir...", tukasku, "Kalau aku datang saat Acyclope baik-baik saja, tanpa membawa apa-apa, tidak tahu apa-apa, apakah nasibku sama seperti Kakekku yang membawa perubahan ke planet ini?"

Tiandre memandangku sejenak, kemudian tersenyum, "Mungkin Anda akan berada di DEPA -nama laboratorium rahasia pemerintahan Moran, negara adikuasa Acyclope di masa lalu- dengan tubuh yang dibius."

Usai mendengar jawaban Tiandre, aku tak bertanya apa-apa lagi. Tiandre mematikan lampu dan aku beranjak tidur pada tempat yang telah disediakan. Tak seperti perkiraanku, malam itu adalah salah satu malam di mana aku merasa sangat nyaman. Berada di bawah tiga perlindungan: selimut, rumah, dan atap terowongan. Sedikit kurindukan rumah dan Ibu, tetapi aku pikir aku belum ingin pulang.

Malam itu, aku bermimpi raksasa besar berjalan di atas Terowongan Acyclopean.
***
Keesokan harinya, aku bangun ketika siang sudah tiba.

Siang di Terowongan Acyclopean ditandai dengan cahaya yang menyala di atas atap terowongan selama kurang lebih lima belas menit, serta kicau burung-burung pagi Acyclope di masa lalu, Burung Sern. Bulu burung tersebut tidaklah istimewa, hanya hitam tanpa tambahan corak, tetapi keindahan suaranya selalu membangunkan setiap makhluk hidup di Acyclope.

Tiandre memiliki banyak buku mengenai Sejarah Acyclope. Saat kulihat gaabar-gambar permukaan Acyclope di masa lalu, aku merasa Kakekku begitu beruntung. Daratan yang cerah dan berwarna, serta dipenuhi dengan keceriaan wajah-wajah penduduk Acyclope yang begitu kanak. Rasa kesal sedikit timbul di benakku. Entah mengapa, Kakek tidak mengajakku di waktu dulu.

Mengenai kekaguman itu, Tiandre nampaknya tahu. Maka, diajaknya aku berjalan-jalan menyusuri Terowongan Acyclopean agar aku tahu, kalau sisa-sisa keindahan itu dibawa oleh putra-putra Acyclopean hingga ke bawah tanah. Aku suka jalan-jalan. Hanya ada satu hal yang saat ini membuatku tidak nyaman: Aku harus mengenakan topeng.

Tiandre bilang, semua penduduk Acyclopean sudah tahu mengenai Kakekku. Namun kehadiranku tentunya akan membuat heboh seisi kota. Menurut Tiandre, selain ia, Geran, dan para tentara serta dokter di Rumah Sakit Tentara, sebaiknya tak ada yang boleh tahu tentang kehadiranku. Maka dari itu, sebaiknya aku mengenakan baju panjang, penutup wajah, dan kacamata hitam "Tidakkah aku akan terlihat seperti penjahat?", tanyaku.

"Sudah lama tidak ada penjahat di Acyclope."

Kalimat Trean nampaknya ada benarnya. Di sepanjang jalan, aku melihat segala rupa kehidupan yang ideal dan berbahagia. Orang-orang merokok dengan pipa di depan Kafe Barena yang berlambang kendi, dan anak-anak bermain Acrika -semacam menangkap bola dengan keranjang yang dihubungkan pada kayu- di sebuah lapangan berwarna oranye padat. Gambar raksasa wajah Saili Sheran - penyanyi wanita yang sedang tenar di Acyclopean, terpampang di dinding luar sebuah pusat hiburan terbesar di distrik Moran, distrik pusat Acyclopean, yang dinamai dari nama negara adi kuasa Acyclope di masa lalu. Sememtara itu jalanan dipenuhi dengan pepohonan buatan berwarna merah dengan bintik-bintik salju putih serta boneka-boneka Villom -tokoh kartun berbentuk lonjong, berwarna putih, dan memakai topi bulat bola yang menjadi maskot musim dingin-.

Bagiku, barangkali Acyclope adalah kembaran dari Bumi, tetapi dalam versi yang lebih berwarna.

Tiandra mengajakku singgah untuk minum sejenak di sebuah kedai kecil, yang terletak di belakang butik untuk para lelaki. Kedai itu bentuknya bulat, dengan dinding yang seolah terbuat dari batu. Tiandre bilang, kedai ini terkenal akan araknya. Mendengar kata arak, aku jadi bingung. Pasalnya, aku tidak mungkin minum arak. Di samping ajaran agama, aku masih berusia sepuluh tahun dan ketidaksukaanku pada keadaan tak sadar membuatku tak akan pernah mungkin minum sesuatu yang memabukkan.

"Ada...well, minuman yang tidak memabukkan?"
"Tentu saja. Tapi boleh saya tahu kenapa Anda tidak mau mabuk?"
"Usiaku masih...masih delapan belas tahun. Ya, delapan belas tahun! Di Bumi, anak-anak seusiaku belum punya ijin minum. Selain itu, Tiandre, bolehkah bila aku tidak memanggilmu dengan sebutan Anda, dan kamu tidak memanggil dirimu sendiri dengan saya?"
Tiandre tertawa. Kencang sekali, hingga mengagetkan seorang lelaki cebol (ya, menurut ukuran Bumi ia cebol, tetapi entahlah dengan ukuran Acyclopean!) yang tengah membersihkan beranda kedai berbatu itu.

Kedai tak terlalu ramai. Hanya ada beberapa lelaki di meja belakang, dekat pintu, dan juga di bar. Kata Tiandre, kalau malam hari, kedai ini selalu mempertunjukkan musik Moe. Musik itu agak keras, tetapi lucu. Nada yang melompat-lompat dan lirik yang selalu menggambarkan kebodohan membuat musik Moe punya identitas yang selalu diingat.

"Arak Neta, satu.." ujar Tiandre. Dikeluarkannya beberapa koin dari sakunya. Koin, sebagai salah satu alat tukar Acyclopean memang lebih besar ketimbang koin di Indonesia, baik dilihat dari ukuran maupun nilai tukarnya. Namun, bukan itu yang menyita perhatianku. Ialah sebuah tabung kecil, seukuran pena, muncul dari saku Tiandre, yang membuatku bertanya-tanya.

"Itu apa, ya?"

Tiandre mengambilnya, dan berkata, "Senjata untuk bunuh diri"."
Aku mengernyitkan dahi. Ada beberapa selera humor Acyclopean yang tak kupahami.
"Oh, ada yang belum saya...maksudnya aku ceritakan padamu, ya? Setiap penduduk Acyclopean punya senjata bunuh dirinya masing-masing."
"Untuk...apa?", tanyaku. Mendadak lututku rasanya lemas dan kepalaku agak sakit di bagian kiri. Tempat macam apa yang kudatangi ini? Sehari lalu Tiandre bilang penduduk Acyclopean akan selalu berbahagia, apapun yang terjadi, tetapi kini, ia berkata kalau masing-masing memiliki senjata untuk bunuh diri.
"Kami tidak tahu kapan kiamat datang. Tapi kami sudah bisa menebak akan seperti apa kiamat itu. Trean akan memanggang setiap jengkal Acyclope, bahkan di bawah tanah sekalipun. Dan tidak ada yang mau mati terpanggang, karena rasanya menyakitkan dan menjijikkan...."
"Untuk itu, kami semua membawa barang untuk membunuh diri kami sendiri, seandainya kami masih hidup sampai kiamat tiba. Aku, membawa racun Sagre untuk diminum. Dua menit setelah kamu meminumnya, kamu akan sangat mengantuk. Dan ya, itu adalah tidur untuk selamanya. Kematian yang indah, kan?"
"Oh..."
"Kalau Patri....", ia menunjuk pemilik kedai ini, seorang lelaki bertubuh kurus yang mengenakan busana semacam jaket berkerah tinggi, "Ia selalu membawa pisau lipatnya ke mana-mana."
"Lalu lelaki yang di ujung sana, dia selalu membawa tali. Untuk mencekik dirinya sendiri. Kalau yang di depannya, yang sedang menghisap pipa, dia selalu membawa pistol kecilnya."

Kemudian Tiandre sibuk menunjuk orang-orang dan menyebutkan senjata bunuh diri mereka.

"Kalau... Jenderal Geran?"
"Pria itu...", Tiandre berdehem, "Kupikir tak ada yang tahu apa senjata bunuh dirinya. Namun menurut desas-desus, dia tidak pernah memiliki senjata bunuh diri. Kabarnya, dia ingin menyambut kematian dalam wajah apapun. Meskipun itu akan menyakitinya sekalipun. Kalau mengingat Geran, aku jadi merasa seperti pengecut. Ya, aku salah satu tentara patroli Acyclopean, yang setiap hari mandi cahaya Trean di atas sana. Tapi, aku sangat takut mati terbakar..."
"Aku juga takut...", "Mati terbakar membuat mayat kita tidak sedap dipandang."
Tiandre tertawa, "Yakin tidak mau ini?", ia mengangkat gelas berisi arak Netanya di hadapanku, "Waktu aku masih muda, aku melanggar semua peraturan."

Tadinya ingin kubilang kalau aku juga gemar melanggar peraturan sekolah, seperti tidak mengenakan sepatu hitam di Hari Senin, atau main bola di dalam kelas. Namun kuurungkan lantaran akan terdengar konyol.



Tetapi, mengingat sekolah, aku jadi rindu dengan Magelang. Ibu, Umono, kawan-kawanku, juga tetanggaku, sedang apa mereka di Bumi sana? Mungkin masih melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan sebelum aku pergi. Dilatasi waktu. Walau aku belum tahu seberapa besar perbedaannya.

Cerita: @intankirana
Foto: @aristian97 dan pixabay.com

Lihat bagian 3: Perseus dan Acyclope

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe