Sekolah di Luar Negeri, Kebanggaan, dan Inferioritas

17.39



Waktu saya ingin mendaftar beasiswa untuk magister di dalam negeri, beberapa orang menanyakan kepada saya mengapa saya tidak ingin berkuliah ke luar negeri. Sebetulnya alasan saya sederhana, saya memang tidak mau meninggalkan keluarga. Tapi ada beberapa orang yang kemudian merasa heran dengan alasan tersebut. Katanya, keputusan semacam itu menyia-nyiakan cita-cita saja. Hidup itu perkara meninggalkan zona nyaman. Kalau kamu terus-menerus berada di dalam zona nyamanmu, kamu tidak akan maju, begitu kata beberapa dari mereka.

Dari dulu, saya selalu bingung dengan masalah zona nyaman ini. Memangnya keluar dari zona nyaman itu hanya tentang berkuliah di luar negeri dan tinggal amat jauh dari negara kita sendiri? Apakah kalau saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah di dalam negeri, maka saya tidak berkenan untuk maju? Apakah kalau saya tidak kuliah di negara maju, dengan pendapatan per kapita yang tinggi, maka saya tidak bisa membangun negeri ini?

Memang pernah ada pepatah yang berbunyi: tuntutlah ilmu sampai ke Roma. Atau ke Cina. Tapi saya rasa frasa "menuntut ilmu" itu bukan sekadar tentang berkuliah ke sana. Ilmu tidak hanya didapatkan saat kuliah. Saya terbuka terhadap hal-hal di luar negara saya. Tapi saya belum berminat untuk kuliah di sana. Ada keluarga yang saya prioritaskan, tak dapat ditinggalkan. 

Saya bisa mengumpulkan uang untuk kemudian pergi ke negara-negara itu. Atau mencari beasiswa short-course, jangka pendek yang tidak memaksa saya untuk meninggalkan keluarga. Pencarian ilmu itu berbeda-beda pada tiap individu. Ada yang mengartikannya sebagai kuliah lagi. Ada juga yang mencari ilmu dengan cara menulis. Dengan bekerja. Dengan mengikuti proyek. Dengan mengamati, membuat riset. Mencari ilmu itu bukan sekadar tentang dapat beasiswa-kuliah di luar negeri. Kalau definisimu mencari ilmu hanya sebatas itu, mungkin harus dipertanyakan lagi, yang berada di kotak pikiran sempit itu orang yang kamu bilang tidak mau meninggalkan negaranya, atau malah kamu sendiri.

Memang banyak di antara masyarakat kita yang terlalu memuja segala hal yang berkaitan dengan luar negeri. Orang asing yang ke Indonesia, budaya Indonesia yang "go international" (meminjam istilah Agnes Monica), juga Orang Indonesia yang ke luar negeri untuk belajar. Entah bentuk inferioritas atau memang kita bangsa yang ramah dan terbuka terhadap budaya luar. Tapi sayangnya, tidak dengan budaya sendiri.



Saya jadi ingat sebuah perkataan dosen di program studi saya saat kuliah dulu. Waktu itu, dia membahas tentang beberapa jurusan yang diambil oleh mahasiswa hanya karena mahasiswa ingin nilai bagus untuk mendongkrak IPK, tapi mata kuliahnya, menurut dia tidak terlalu penting. Dia menyebutkan "Reliji Jawa" sebagai contohnya, dengan mimik wajah bercanda. Mungkin memang dia bercanda, tetapi dari situ saja, kita sudah bisa membuktikan sampel watak orang kita (terutama yang tergila-gila dengan budaya luar negeri): mereka meremehkan budaya dan filsafat dari negaranya sendiri. Padahal, reliji jawa sendiri juga mata kuliah yang berbobot. Filsafat Jawa tidak kalah dengan eksistensialisme-nya Sartre, atau psikoanalisis-nya Freud. Tapi ya memang banyak di antara masyarakat Indonesia yang tidak tertarik dengan hal-hal itu karena mungkin, bagi mereka, itu tidak keren.

Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945. Banyak orang yang menuduh kalau Indonesia belum merdeka dari kemiskinan, dan segala hal yang berhubungan dengan kesejahteraan hidup. Tapi kalau menurut saya, kita belum merdeka dari satu hal: inferioritas dan kekaguman terhadap budaya bangsa lain yang berlebihan, melampaui kekaguman kita pada budaya bangsa sendiri.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe