Saat Pemilik Modal Mempekerjakan Para Pokémon

21:11




Do you hear the people sing?
Singing a song of angry men?

It is the music of a people

Who will not be slaves again! - Les Misérable, Do You Hear The People Sing


Ada satu hal yang saya tangkap saat melihat serial Pokémon, alias Pocket Monster. Bukanlah tentang persahabatan antara manusia dan Pokémon (you teach me and i teach you, meskipun beberapa Pokémon trainer memperlakukan Pokémon-nya seperti kawan baik, misalnya Ash Ketchum, dll), atau tentang betapa kuatnya Mewtwo dan Alakazam. Tapi tentang bagaimana Pokémon yang punya kekuatan melebihi manusia, bisa tunduk di hadapan manusia. Dan betapa penurutnya mereka saat dilatih oleh manusia.

Hubungan Pokémon dan sang pelatih ini terkadang seperti hubungan seorang pekerja dan tuannya. Seringkali seorang tuan hanya memiliki modal dan pekerjalah yang memiliki kemampuan melebihi sang tuan. Bos, kalau di jaman sekarang. CEO, whatever. Tapi pekerjalah yang menurut pada si bos, karena yang punya modal adalah si bos. Dan yang punya ide atas perusahaan itu adalah bos.

Seperti pelatih, yang punya modal berupa kemampuan untuk memahami dunia (karena dunia ini milik manusia! Manusia punya kemampuan untuk berinovasi dan berimajinasi membentuk dunia seperti yang mereka inginkan) serta modal Pokéball. Sekuat apapun api Charizard, secerdas apapun Ditto mengubah wujudnya, tetap saja mereka akan mematuhi sang pelatih. Tetap saja mereka bukan manusia yang punya inisiatif untuk membangun rumah sakit Pokémon, dan kreativitas-kreativitas lainnya. Mereka punya kekuatan, tapi tak punya modal. Tak punya ide. Yang mereka pahami hanya bahwa mereka punya kekuatan dan mereka bisa menuruti manusia kalau manusia itu pantas dituruti.


Padahal, kalau Pokémon itu mau, mereka bisa saja membunuh para trainer dalam sekejap. Manusia tak punya kekuatan lain selain taktik dan ilmu bela diri. Coba saja tak ada satupun Pokémon yang mau menuruti trainer, bisa saja ras manusia hancur di muka bumi khayal Pokémon. Ini akan sama halnya dengan seperti ini "coba saja tak ada satupun pekerja yang mau bekerja di perusahaan, pasti perusahaan-perusahaan itu akan bangkrut".

Saya tak pernah bermaksud untuk mengajarkan kita membenci para pemodal atau petinggi dan founder perusahaan. Justru kita harus hargai kreativitas mereka. Inovasi mereka dalam berbisnis. Karena inovasi itu mahal harganya. Contohnya seperti inovasi Go-Jek,yang dibutuhkan semua masyarakat terutama di kota besar. Founder tak butuh semua keahlian untuk bisa menciptakan perusahaan hebat. Dia punya ide, dia tinggal mempekerjakan orang yang punya keahlian tapi tak punya ide. Dan itu bukan hal yang jahat. Itu hal yang wajar dan menguntungkan kedua belah pihak, sebetulnya.

Tapi menjadi merugikan apabila sang founder dan jajaran petinggi menjadi pongah dan menganggap bahwa dirinya menguasai pekerjanya. Menguasai sepenuhnya. Bahkan bisa membuat peraturan-peraturan yang "mengancam" para pekerja. Seperti para trainer yang bisa mengatur dan memasukkan Pokémonnya kapan saja ke Pokéball. Padahal, Pokémon-Pokémon itu punya kekuatan yang lebih besar daripada sang trainer. Hanya saja, mereka lupa. Atau memilih untuk menurut dan tidak menyadarinya.

Sama seperti kita, saat berada di bawah pemimpin perusahaan yang merasa punya kuasa besar. 

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe