Manusia dan Kekaguman Pada yang Berkuasa

19.37



Manusia ingin menjadi bebas. Manusia sejatinya selalu ingin berkuasa. Kekuasaan dianggap dapat membuat manusia lebih mudah untuk melakukan segala hal di dunia ini. Berkuasa juga membuat manusia dapat mengatur kehidupan orang lain. Banyak orang yang merasa puas saat dapat menundukkan manusia lain. Begitulah manusia.

Tapi di sisi lain, manusia juga butuh untuk dikuasai. Suka atau tidak suka. Buktinya? Toh banyak orang yang mendewakan orang lain. Banyak orang yang rela jadi "keset" orang lain. Contohnya nyata. Mereka yang mati-matian membela calon-calon pemimpin pilihan,yang bahkan tidak mengenal mereka. Membela mati-matian hingga bertengkar dengan orang lain dengan kata-kata kasar.

Ada juga orang-orang yang mendewakan atasannya di kantor. Menganggpa atasan mereka segalanya, berdedikasi tinggi hingga mau disuruh-suruh di luar batas wajar. Bahkan rela mengerjakan banyak pekerjaan yang sebetulnya tidak sesuai dengan kontrak dan job description-nya. Bukan, bukan karena mengejar karir. Tetapi karena mereka, secara otomatis, merasa bahwa bos mereka adalah sesosok yang harus dituruti, ditakuti, dan dihormati.

Itulah pula alasan yang membuat Dimas Kanjeng Taat Pribadi dihormati oleh banyak orang. Dimas Kanjeng dianggap seseorang yang lebih relijius dan sakti. Tentu saja, untuk dihormati manusia memang harus punya kapital melebihi orang lain. Dalam hal ini, Taat Pribadi memiliki kapital budaya;pengetahuan agama yang dianggap lebih baik dan kesaktian (meskipun keduanya terbukti tidak tepat). 

Jangan salah. Pengikut Taat Pribadi bukanlah hanya orang-orang tak berpendidikan dan berasal dari tingkat ekonomi rendah. Banyak pengikut Taat Pribadi yang juga berasal dari ekonomi menengah ke atas, dengan pendidikan yang cukup tinggi. Alasan mereka mempercayai dan menghormati Taat Pribadi ialah selain karena termakan impian harta yang bisa dilipatgandakan, mereka juga menganggap bahwa dalam hal kepercayaan, mereka kalah dengan Taat Pribadi. Kepercayaan ini bukanlah seperti lima agama yang kita anut, tapi juga kepercayaan terhadap makhluk gaib dan hal-hal lain yang tak bisa dilihat dengan mata orang normal.

Sebagai manusia, selayaknya memang kita hormat kepada orang lain. Namun rasa hormat yang berlebihan akan merujuk kepada kebutaan. Kebutaan ini lebih mengerikan daripada cinta buta pada lawan jenis karena orang yang kita hormati bisa jadi sangat berkuasa, dan memanfaatkan kebutaan kita untuk melanggengkan kekuasaannya. Lagipula, untuk apa terlampau kagum dan hormat pada sesosok manusia hanya karena kapital yang dimilikinya? Bukankah hal tersebut amatlah sempit? 

Betapa mudahnya kita hormat pada orang yang kita anggap lebih daripada kita, tapi sebaliknya, banyak di antara kita yang berlaku tidak manusiawi pada mereka yang kita anggap lebih rendah. Coba ingat-ingat, adakah perbedaan perlakuan yang kita terapkan pada saat kita bertemu, katakanlah, gubernur di provinsi tempat kita tinggal, orang kaya, dosen, direktur-direktur perusahaan, dibandingkan dengan perilaku kita saat bertemu dengan cleaning service di kantor kita? Pernahkah kalian menyadari, bahwa banyak di antara kalian yang bersolek mimik sedemikian rupa saat bertemu dengan orang terhormat, dan pura-pura tidak punya telinga saat disapa oleh cleaning service? Mental penjilat, buta atas orang-orang berkuasa, hal semacam itu membuat kita tak ubahnya hewan peliharaan.

Pertanyaannya, samakah kita dengan hewan peliharaan?

Gambar: bayudardian.staff.ugm.ac.id

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe