Lembur, Dedikasi Pada Pekerjaan?

17:55


Kemarin saya sempat berbincang dengan seorang teman mengenai lembur. Di perusahaannya yang lama, seorang karyawan dianggap berdedikasi apabila dia sering lembur. Karyawan yang pulang cepat, meskipun telah menyelesaikan pekerjaannya, dituduh kurang loyal dan kurang serius dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Saya pun pernah berada dalam kantor semacam itu. Kendati saya sudah menyelesaikan pekerjaan saya pada jam 6, tetapi saya disindir bila saya pulang di bawah setengah 8. Dan yang menyindir bukanlah kepala dari kantor tersebut, tetapi rekan kerja. Padahal di kontrak pun tertulis jam pulang adalah jam 6 sore.

Seiring dengan ketatnya peraturan kantor dan hierarki dalam sebuah perusahaan, juga ambisi untuk menjadi perusahaan terbaik (terutama yang berada di kota besar), kita terkungkung dalam sebuah tradisi perihal keberadaan di kantor. Siapa yang datang paling pagi, dan pulang paling larut, dianggap pegawai teladan. Apalagi jika pintar berbicara dan kelihatan bekerja keras di depan atasan. Kantor seakan menjadi sebuah panggung teater, di mana mereka yang banyak ambil peran dan berakting, dan muncul paling lama, adalah yang paling dikenal, paling dianggap berjasa.

Kerajinan pun kini sekadar menjadi simbol-simbol. Bukan lagi sesuatu yang bisa diukur berdasarkan apa yang bisa dihasilkan, tapi sekadar bagaimana kita menampilkan diri dengan baik di depan atasan dan orang lain. Bukan hasil, tetapi pencitraan. Ya, pencitraan. Belakangan ini banyak orang yang menyadari bahwa orang lain seringkali mencitrakan dirinya dengan tindakan-tindakan baik yang palsu dan menjadi penjilat. Tapi entah kenapa, di waktu yang sama, mereka juga termakan oleh pencitraan itu sendiri.

Pencitraan itu seperti proses jatuh cinta yang buta. Kita tahu bahwa orang yang kita sukai punya banyak kekurangan, tapi kita termakan dengan cara mereka memperlakukan kita. Maka tak mengherankan kalau banyak di antara orang-orang yang terkenal, orang-orang yang dianggap berjasa, yang sebetulnya hanya bermodalkan pencitraan dan kerja keras tanpa isi. Bukan kerja cerdas atau kerja keras yang betul-betul banting tulang.


Manusia memang pandai berbohong. Jean-Paul Sartre, filsuf eksistensialis asal Prancis, eksitensi manusia adalah mengada untuk dirinya (être-pour-soi). Berbeda dengan benda mati, yang eksistensinya mengada dalam dirinya (être-en-soi) dan tidak bisa memilih mau jadi apa, manusia punya pilihan untuk menjadikan dirinya apa saja. Sepasang sepatu tidak akan bisa menjadi payung, dia hanya akan bisa menjadi sepatu, tetapi manusia bisa memilih dia ingin dipandang sebagai apa. Manusia bisa mengubah dirinya sendiri.

Untuk itulah banyak manusia yang bersandiwara. Sandiwara ini tak lain untuk mendapatkan segala kapital di dunia ini: ekonomi, sosial, simbolik, dan budaya. Dalam perusahaan, jelas pencitraan dapat membuat seorang pekerja punya kesempatan untuk naik jabatan dan naik gaji. Maka dari itu, mereka bersandiwara. Mereka membohongi diri mereka atas nama loyalitas. Dan banyak orang yang terhipnotis dengan kebohongan itu.

Pencitraan bukan lagi sekadar kebohongan. Lebih dari itu, pencitraan seperti hipnotis, yang banyak orang tahu bahayanya, tetapi tetap terlarut di dalamnya. Sementara itu, hanya tersedia ruang sempit bagi mereka yang apa adanya, yang tidak pernah melebih-lebihkan diri dan usaha mereka. Termasuk dalam perusahaan. Karena perusahaan masih masuk dalam bagian dunia sosial, maka tak heran kalau pencitraan pun masih laku di sana.

Foto: Berbagai Sumber 

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe