Keinginan Untuk Membunuh

19.46



Banyak pembunuhan yang dilakukan secara sadis. Tidak sekadar memastikan korbannya mati, para pembunuh itu juga merusak bagian-bagian tubuh korban dengan sadisnya. Alih-alih jijik, sepertinya ada perasaan puas saat mereka melakukannya.

Pembunuhan merupakan kejahatan yang sudah ada sejak lama. Setiap hari, selalu ada pembunuhan dari berbagai dunia. Melihat berita pembunuhan di televisi seolah menjadi hal yang wajar bagi kita. Kita terlalu terbiasa dengan pembunuhan hingga menikmati cerita-ceritanya bak menonton CSI.

Mengapa begitu gemar manusia membunuh? Padahal toh semua manusia nanti akan mati. Tapi, tidak semua pembunuhan dilakukan dengan dasar keinginan pembunuh supaya korbannya hilang di dunia ini. Tidak hanya itu.

Banyak pembunuhan yang dilakukan karena mereka ingin melihat korbannya menderita. Mereka menikmati saat di mana mereka melihat sang korban memohon, berada di bawah kekuasaan mereka. Mereka tidak peduli dengan rasionalitas mereka, yang oleh Hegel, dianggap dapat digunakan untuk memilih antara yang baik dan buruk. Tidak ada lagi nilai, tidak ada lagi moral, tidak ada lagi ketakutan akan dosa. Saat kebencian melanda diri kita, semuanya seolah hilang tak berbekas.

Padahal, membunuh seseorang adalah hal yang sia-sia dan juga bodoh. Apabila kita membenci seseorang, untuk apa mempertaruhkan sisa hidup kita hanya agar dia mati? Setiap pembunuhan selalu memiliki celah, di mana pihak berwajib dapat mengetahui siapa dalang di balik pembunuhan tersebut. Seorang pembunuh seharusnya tahu hal ini. Sayangnya, mereka terlalu gelap mata.



Melakukan pembunuhan terhadap seseorang yang kita benci, adalah hal yang sebenarnya selalu ingin kita lakukan. Mungkin bila kita diberi jaminan bebas pidana saat membunuh orang yang kita benci, orang yang pernah merusak hidup kita, hal itu akan sangat menyenangkan. Pastilah banyak di antara kita yang memutuskan untuk membunuh. Untuk melihatnya menderita di tangan kita sendiri.

Tapi bayangkanlah. Seseorang yang ingin kita bunuh juga pernah tumbuh. Dia awalnya adalah janin yang tumbuh di perut ibunya. Kemudian lahir, menjadi bayi, lambat laun menjadi dewasa. Banyak harapan yang ditumpukan kepadanya dulu. Entah sekarang. Namun bagaimanapun, dia seorang manusia. Yang pernah menjadi tak berdosa.

Lagipula, menghilangkan seseorang dari kehidupan kita tak lantas membuat kebencian itu hilang. Rasa puas memang ada, hanya untuk sesaat. Yang kemudian berbuah kekosongan. Juga penyesalan.

Tidak ada gunanya menghilangkan seseorang yang kita benci dari dunia ini. Dia memang akan hilang, tapi bayangannya tidak. Bayangannya akan menghantui kita setiap saat. Teriakan terakhirnya sebelum mati. Darahnya yang tercecer. Dan itu jauh lebih buruk ketimbang membiarkannya hidup, dan menghindar dari dirinya selamanya.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe