Gubernur yang Butuh Meditasi

10.41


Setiap orang memiliki kekurangan. Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, mungkin adalah orang yang tegas, tidak kenal takut, dan tidak pernah berbicara bertele-tele. Tapi di sisi lain, dia juga terkenal pemarah dan sedikit tergesa-gesa. Banyak cerita tentang Ahok yang marah kepada pihak ini dan itu. Salah satunya adalah, terkait masalah videotron dan Sandiaga Uno.


Yang pertama, soal kasus videotron di bilangan Antasari, Jakarta Selatan, yang entah mengapa tiba-tiba menayangkan video porno selama hampir satu jam. Saat ditanya terkait hal ini, Ahok marah-marah dan berkata bahwa videotron di seluruh Jakarta sebaiknya dicopot saja, tidak perlu dipasang lagi supaya tidak ada kejadian semacam ini. Selain itu, Ahok juga menyinggung masalah izin beberapa videotron.


Logikanya, bila hanya ada satu videotron yang bermasalah,kenapa harus mencopot semuanya? Lagipula,videotron adalah salah satu media informasi bagi masyarakat. Selain itu, polisi pun juga mengatakan bahwa ada peretasan dalam kasus tersebut. Dan pelakunya sudah ditangkap per tanggal 5 Oktober 2016.


Kemudian, masalah ijin. Kalau memang ada banyak videotron yang bermasalah dalam izin, mengapa baru setelah ada kasus, Gubernur DKI Jakarta tersebut mempermasalahkannya? Mengapa tidak kemarin-kemarin? Ini tak ubahnya penggusuran Kalijodo yang baru diadakan setelah adanya peristiwa tabrakan di sana.


Dan yang kedua, pernyataan Ahok tentang Sandiaga Uno yang diduga mengemplang pajak. Oke, mungkin Sandiaga bukan orang yang bersih. Mungkin saja. Namanya pun ada dalam dokumen Panama Paper. Tapi bukan hal yang bijak ketika Ahok, yang akan menjadi lawan dari pasangan Anies-Sandiaga di Pemilihan Gubernur Jakarta tahun 2017, untuk menjelek-jelekkan lawannya. Tak perlu. Apalagi bila belum benar-benar terbukti.


Ini tak ubahnya anak-anak SD yang tahu kalau si anak yang ranking 1 ternyata mencontek saat UAS, dan mereka mengadu kepada guru supaya anak itu tidak jadi ranking 1. Begitulah saat Ahok menyerang lawannya. Kita mungkin tidak bisa menilai orang hanya dari ucapannya saja. Tetapi ucapanlah yang menjadi media bagi orang lain untuk memahami maksud kita. Lewat ucapanlah, kita bisa berkomunikasi.


Kalau Ahok bukan pemimpin dan calon pemimpin pada tahun 2017 mendatang, mungkin "cara komunikasi yang buruk" ini masih bisa ditolerir. Tak apa-apa cara komunikasinya buruk asal orangnya baik. Ya memang. Tapi pemimpin, dengan cara apa dia berkomunikasi dengan masyarakatnya kalau tidak dengan komunikasi? Pemimpin tak hanya harus baik, tapi juga bisa menenangkan masyarakat dan juga harus bisa berkomunikasi dengan baik. Rakyat tak mungkin harus mengkaji sifat dan maksud pemimpinnya. Ini masalah kepemimpinan, bukan skripsi.


Sekali lagi, Ahok mungkin baik dan tegas, juga jujur. Tapi mungkin dia harus sedikit mempelajari metode filsafat Zen,sebuah filsafat dari Asia Timur yang berbicara tentang kebebasan sejati melalui meditasi dan kejernihan pikiran. Supaya batinnya lebih tenang, lebih bijaksana dan membuat orang lain juga merasa tenang. Karena tak sekadar butuh ketulusan dan kejujuran untuk memimpin, pasalnya rakyat juga butuh diayomi oleh sang pemimpin.

Sumber Foto: Dari Berbagai Sumber

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe