Gelembung-Gelembung Startup, Kapan Akan Pecah?

15:56



Hell of simulation, which is no longer one of torture, but of subtle, maleficent, elusive twisting of meaning - Jean Baudrillard.

Ada sebuah tren yang sering dibicarakan oleh orang-orang, terutama kaum muda di Indonesia beberapa tahun belakangan ini: start-up. Sebetulnya, istilah ini makin santer terdengar di 2016. Tentu saja karena makin banyak pemberitaan terkait start-up, dan makin banyak start-up yang dibutuhkan oleh masyarakat. Contohnya,Go-Jek dan Grab Bike.

Start-up sebetulnya merupakan istilah dari perusahaan yang baru berdiri kurang dari 5 tahun dan sarat akan penggunaan teknologi. Perusahaan-perusahaan start-up ini biasanya belum melepas sahamnya ke publik dan meskipun banyak yang sudah menuai keuntungan, tetapi masih bergantung pada pendanaan segar dari investor.

Tidak ada yang salah dari dibangunnya sebuah startup. Bahkan hal ini positif, mengingat dengan adanya geliat start-up ini, generasi muda menjadi lebih kreatif, lebih inovatif, dan juga membuka lapangan-lapangan kerja baru. Tapi ada sisi buruk juga dari semakin menjamurnya startup di Indonesia ini: kemungkinan terjadinya startup bubble. Mungkin saat ini belum. Hanya saja, berkaca pada bubble dot com pada akhir abad ke-20, di mana internet mulai digunakan untuk lahan usaha dan investor begitu getol menanamkan saham pada situs-situs internet, terlalu banyaknya perusahaan yang dibuat, dan investor yang melakukan investasi tanpa berpikir panjang, akan membuat perusahaan mati satu persatu, dan hilang dari peredaran, entah dilikuidasi, atau merger dengan perusahaan lain.

Layaknya gelembung, saat kita bermain sabun, awalnya gelembung makin bertambah dan bertambah besar serta banyak. Namun seiring berjalannya waktu,gelembung-gelembung itu akan pecah satu persatu. Memang tidak diharapkan, tapi suatu saat, seandainya ada terlalu banyak startup di Indonesia, maka satu persatu akan lenyap, seperti selayaknya seleksi alam.



Lagipula, semakin banyak startup yang tumbuh, semakin banyak pula startup-startup yang memiliki visi misi tak jelas. Kegunaannya pun tak jelas dan seolah dipaksa-paksakan ada. Visi misi yang tak jelas dan serupa dengan ribuan startup lain yang sebelumnya telah ada itupun disamarkan dan dikemas sedemikian rupa sehingga terlihat menarik, dan investor pun tertarik tanpa berpikir apakah startup itu betul-betul membawa keuntungan ataupun tidak.

Dan, satu lagi. Startup memang identik dengan pendanaan dari investor. Dan sudah mulai banyak startup yang lebih berpikir tentang "Bagaimana cara mendapatkan dana yang lebih dan lebih lagi dari investor?" ketimbang bagaimana cara untuk mencari untung dari masyarakat. Pasalnya, tak jelas pula kegunaan produk mereka, dan tak jelas pula bagaimana masyarakat akan membutuhkan produk mereka.

Untuk menutupi hal itu, dan tentunya dengan alasan "menciptakan brand awareness terlebih dahulu baru mencari untung",mereka bak membuat-buat sebuah "kebutuhan" baru yang sebetulnya tak dibutuhkan oleh masyarakat. Misalnya saja, startup yang berfokus pada pencarian pacar. Betulkah masyarakat butuh itu? Betulkah kita kekurangan orang untuk dijadikan pacar di dunia nyata? Sehina itukah kita sampai mencari jodoh pun harus dibantu oleh aplikasi? Sudah cukup Tinder menjadi aplikasi pencari pacar yang paling banyak diunduh, rasanya masyarakat ini tidak semenyedihkan itu hingga butuh lebih dari satu aplikasi, entah untuk cari jodoh yang betul-betul berakhir ke pelaminan, atau cinta satu malam saja.

Atau startup tentang asisten pribadi yang bisa membantu semua hal. Semua hal. Ya, kita semua butuh penolong. Tapi tidak juga dalam semua hal, karena kita masih punya tangan dan kaki. Startup macam itu terlihat seperti ingin memanjakan pelanggan dan mengemis perhatian dari pelanggan hingga seolah akan melakukan apa saja untuk pelanggan. Padahal tidak. Pelanggan hanya komoditas. Pelanggan hanya sekadar angka-angka, key performance indicators. Semakin banyak pelanggan, semakin mereka dilirik investor. Semakin banyak pelanggan, semakin kuat brand awareness. Dan entah sampai kapan pelanggan akan bertahan. Tak mungkin pelanggan terus-terusan terhipnotis dengan sebuah hal yang sejatinya bukanlah kebutuhan.

Tidak ada yang salah dari membuat sebuah usaha. Tapi pikirkan lagi, apakah usaha itu akan berkelanjutan? Apakah visi dan misinya sudah kuat? Bisnis memang perkara untung rugi, tapi bila kita hanya memikirkan untung rugi sementara dan tidak pakai hati, ya selamat, suatu saat mungkin kamu adalah satu dari sekian gelembung yang akan pecah atau bubar di tengah jalan. Atau melekat dengan gelembung lain, alias merger. Dan dari sana, akan banyak pegawai yang dikorbankan.

Foto: Pixabay

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe