Cerita Inspiratif dan Kebiasaan Menyombongkan Diri

15:54



Saya rupanya terlalu sering mendengarkan cerita motivasi. Bukan, bukan seperti yang diutarakan oleh Mario Teguh atau Tung Desem Waringin. Tapi cerita-cerita motivasi yang disampaikan oleh orang-orang yang dianggap berhasil. Contoh besarnya ya seperti buku-buku yang diterbitkan dan memuat perjalanan hidup orang-orang sukses dimulai dari nol. Contohlah, buku Sepatu Dahlan atau Si Anak Singkong.

Dalam skala yang lebih kecil, dengan jabatan yang tentunya tak setinggi Dahlan Iskan ataupun Chairul Tanjung, banyak orang yang membagikan kisah-kisah inspiratif mereka di blog atau laman Facebook. Yang kemudian, dibagi oleh banyak orang. Kisah inspiratif kuliah gratis ke luar negeri. Kisah inspiratif keberhasilan memenangkan lomba tertentu.

Tidak ada yang salah dari berbagi. Berbagi sangatlah dianjurkan, karena dengan berbagi, orang-orang mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Berbagi juga sama dengan memberikan ilmu pada orang lain.

Tapi berbagi dengan cara seperti apa?

Banyak yang kemudian berbagi tidak untuk menginspirasi, atau memberikan informasi, tetapi sekadar untuk pamer. Dari mana tolok ukurnya? Dari interaksi. Contohnya, seseorang yang getol berbagi tentang kesuksesan mereka di jejaring sosial. Saat ditanya mengenai informasi-informasi tertentu terkait hal tersebut, supaya orang lain juga dapat meniru jejaknya, dia tidak membalas. Tetapi saat dipuji, dia membalas. Tak hanya itu saja. Banyak mereka yang seolah niat berbagi, tapi yang diceritakan hanyalah yang menyoal diri mereka saja. Tidak informatif sama sekali. Menginspirasi mungkin, tapi bahasa yang penuh dengan kesombongan, dengan keangkuhan bahwa mereka dapat melewati banyak hal, lebih spesial daripada orang lain, tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa mereka ingin memamerkan keberhasilan mereka.



Setiap orang butuh pengakuan. Pengakuan dapat membuat kita dikagumi. Pengakuan pun adalah salah satu kapital simbolik yang dapat melanggengkan keberadaan. Tapi sudah terlampau banyak orang yang berusaha meraih pengakuan dengan cara yang vulgar dan mengganggu. Orang-orang semacam itu dengan jelas membuat sebuah kelas, di mana yang bisa masuk di sana hanyalah yang sepadan dengan mereka. Di mana yang pantas hidup dan dikenang hanyalah yang punya usaha sama.

Maka dari itu, tak mengherankan kalau kata-kata,baik yang keluar dari mulut maupun tulisan adalah salah satu senjata utama bagi kita untuk sukses. Kesuksesan nampaknya tak lagi bisa bekerja dalam diam. Alih-alih mencari, orang-orang lebih suka mendengar atau membaca yang ada saja di hadapan mereka. Kemudian kita temukan kenyataan bahwa mereka yang pintar bicara dan merangkai kata tentang kesuksesan dan eksistensi diri mereka sendiri, terutama secara positif, sudah cukup untuk dianggap sebagai tolok ukur orang sukses.

Sayang sekali memang mendapati fakta bahwa kita berbagi bukan untuk menginspirasi, tapi untuk memproklamirkan bahwa kita adalah orang sukses, dan banyak di antara mereka yang tidak bisa jadi sesukses kita. Maka, persetanlah dengan semua buku-buku biografi kesuksesan tokoh, yang begitu narsisnya membanggakan banyak hal dari mereka dan bukannya memberi pelajaran atau informasi. Persetan juga dengan kebanggaan atas diri yang dibagi dengan mudahnya melalui media sosial. Betapa kesombongan saat ini bukanlah sebuah hal yang negatif, tapi justru dianggap inovatif

Foto: Pixabay

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe