Antara Tubuh Katy Perry dan Pemilihan Presiden

21:33



Siapa bilang selebriti itu tak doyan politik? Salah besar. Ini bukan sekadar para selebriti yang terjun ke dunia politik, tetapi mereka yang secara terang-terangan memihak calon tertentu dan berkampanye atas pemilihan umum. Di Indonesia, sudah banyak selebriti yang melakukan hal demikian.

Tapi yang kita bahas kali ini bukanlah selebriti dari Indonesia, melainkan selebriti Amerika Serikat. Kita tentunya sudah tahu tentang persaingan sengit antara Hillary Clinton dan Donald Trump. Kebanyakan figur publik pun membela Hillary Clinton lantaran Trump dianggap rasis dan kurang bijaksana. Termasuk Katy Perry.

Oh ya, seakan tidak mau dianggap apatis, Katy Perry pun tidak hanya sekadar memperlihatkan dukungannya pada Clinton, tetapi juga membuat sebuah video kampanye tentang cara pemilihan di Amerika Serikat. Katy Perry menyebutkan bahwa semua orang bisa pergi ke tempat pemilihan umum dengan mengenakan baju apa saja, tak perlu rapi. Boleh dengan baju tidur, boleh dengan baju yang kotor, bahkan telanjang pun boleh. Sebuah hal yang hiperbola tentunya. Dan Katy Perry menjadi subjek yang memamerkan ketelanjangan itu: dengan sensor pada bagian dada dan kelamin.

Tentu, orang punya hak untuk berkampanye dengan cara apa saja, selama tidak melanggar undang-undang. Dan selama tidak memamerkan kelamin, Katy Perry tidak melanggar hukum di Amerika Serikat. Tetapi tetap saja Katy Perry menjadikan ketelanjangan sebagai penarik utama kampanye itu. Mengapa harus telanjang? Kita tidak tahu apa alasan Katy Perry membuat kampanye dengan tema itu. Namun jelas, banyak orang yang kemudian tertarik dengan ide tentang ketelanjangan itu, meskipun mungkin saja saat pembuatan video tersebut, Katy tidak betul-betul telanjang.

Sering sekali kita menyimak film, video, iklan, atau apapun yang menjadikan ketelanjangan sebagai tema utama. Contohlah video klip Blurred Line-nya Robin Thicke yang menampilkan secara eksplisit ketelanjangan tiga wanita. Dan juga dalam wacana lain. Ketelanjangan selalu identik dengan wanita. Mengapa bukan pria?

Namun bila kita mempertanyakan hal ini, orang-orang pun kemudian akan berkata "mereka kan punya hak untuk melakukan apapun dengan tubuhnya. Kalian jangan berpikiran jorok". Pikiran jorok memang akan selalu ada saat melihat tubuh telanjang. Baik pria dan wanita memiliki titik-titik rangsang tertentu, misal pria di bagian penis dan selangkangan, sementara itu wanita di bagian vagina dan puting. Berbeda dengan pria, puting wanita akan berubah apabila dia terangsang, maka mungkin itu yang menyebabkan puting wanita tidak sebebas itu diumbar, layaknya pria. Dan pikiran jorok sebetulnya adalah persepsi kita sendiri yang dipengaruhi oleh masyarakat. Sebagian besar manusia di dunia ini diajarkan bahwa seks adalah sesuatu yang tabu, seperti yang dikatakan oleh Michel Foucault dalam Histoire de la Sexualité (The History of Sexuality) bahwa pada abad ke-17, doktrin membuat manusia menganggap bahwa seks dan segala hal terkait kelamin adalah hal yang tabu. Tidak seperti pada masa Greco-Roman di mana seks dianggap sebagai sebuah seni dan kebahagiaan.

Tapi secara tak sadar, mereka yang menggunakan tema ketelanjangan wanita dalam karya yang mereka buat, juga menganggap bahwa tubuh wanita itu tabu. Tubuh wanita itu objek yang tabu, dan tabu itu adalah penarik bagi banyak orang. Kalau mereka merasa bahwa payudara wanita tidak tabu, sama seperti pria, maka mereka tidak akan menggunakan wanita sebagai penarik. Justru karena mereka menganggap itu tabu, maka terjadilah objektifikasi tubuh itu. Katy Perry, dalam hal ini, menjadikan tubuhnya sebagai objek. Mengapa bukan tubuh kekasihnya, Orlando Bloom, yang jadi objek utama (meskipun ada cerita tentang pria telanjang di video itu, tapi bukan pusat cerita), karena ketelanjangan pria tidaklah semenarik ketelanjangan wanita. Ketelanjangan wanita dianggap sebagai sebuah hiburan, objek yang bisa dinikmati layaknya cokelat, atau film kartun dewasa. Apalagi Katy Perry yang telanjang, pastilah amat fenomenal, meski ketelanjangan itu mungkin hanya ilusi semata.

Tak perlulah menyembunyikan maksud itu dengan kampanye sok-sok berkorban dan persamaan gender. Kita semua tahu bahwa mereka tahu kalau tubuh mereka dan tubuh wanita lain adalah objek yang menarik. Ini tak ada bedanya dengan lowongan sebagai sales atau penjaga stand yang mewajibkan pelamar berjenis kelamin perempuan, dengan tinggi dan berat tertentu, serta berpenampilan menarik. Wanita, sekali lagi hanya dijadikan sebagai objek penarik, seperti tulisan "SALE" pada akhir tahun di butik-butik. 

Yang sayangnya, hal ini juga dilakukan oleh para wanita secara sadar, baik terhadap tubuh mereka sendiri maupun tubuh wanita lain.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe