Adakah Cinta Sejati Dalam Aplikasi Pencari Jodoh?

09.51



Tadi siang, saya melihat sebuah episode Law and Order: Criminal Intent, yang berkisah tentang pembunuhan di sebuah perusahaan aplikasi hubungan romantis seperti Tinder. Selain masalah pembunuhan, salah satu hal yang menarik dalam episode tersebut adalah pertanyaan penyidik, bahkan pemilik perusahaan, tentang masih adakah cinta sejati yang bisa ditemukan lewat jejaring sosial.


Tagline semacam "cinta sejati bisa ditemukan di mana saja" ini seolah menjadi motto bagi perusahaan aplikasi pencarian jodoh. Ya memang, jodoh bisa berasal dari mana saja, termasuk dari internet. Tapi toh pada kenyataannya, lebih banyak mereka yang menemukan "teman ranjang"  di aplikasi-aplikasi pencarian jodoh, ketimbang "teman hidup". Bahkan banyak orang yang bilang kalau mereka yang menginstall aplikasi-aplikasi semacam itu adalah mereka yang ingin hook up, hubungan seksual yang biasanya terjadi sekali atau beberapa kali saja, kemudian berpisah, dan bukannya yang mau serius untuk hubungan jangka panjang.


Hal ini terutama terjadi pada lelaki. Perempuan, berbeda dengan lelaki, lebih mencari kenyamanan, baik psikologis maupun finansial saat berhubungan, sehingga tidak banyak di antara perempuan yang langsung tertarik dan bersemangat untuk berkenalan di aplikasi pencari jodoh. Lagipula, sudah menjadi budaya kalau lelakilah yang mulai duluan dalam sebuah perkenalan.


Sementara itu, lelaki akan selalu bersemangat saat melihat perempuan dengan foto menarik di aplikasi pencarian jodoh. Tidak mengherankan apabila kita memasang foto seksi di Tinder dan aplikasi serupa, maka kita akan mendapatkan ribuan ajakan kenalan sekaligus hook-up"l. Dalam riset GlobalWebIndex (GWI) pun, disebutkan bahwa pengguna aplikasi Tinder adalah pria sebanyak 62%, dan perempuan sebanyak 38%. Terbukti bahwa pria menikmati kencan yang dimulai dari perkenalan online. Pasalnya, sebagian besar pria pun merasa tak masalah kalau hubungan itu tidak berjangka panjang: cukup menjadi kencan juga tak apa-apa.


Lalu di manakah motto cinta sejati yang biasa diusung oleh aplikasi-aplikasi ini saat beriklan? Entah di mana. Hampir tidak ada cinta sejati dari perkenalan yang diawali dengan "sekadar iseng". Bahkan bila kita bertemu seseorang di dunia nyata pun, belum tentu orang itu cocok dengan kita.


Lagipula, dari mana chemistry akan berasal saat kedua orang bertemu secara daring, online? Satu hal yang tidak pernah bisa disediakan oleh dunia maya. Saat kita bertemu seseorang dalam dunia nyata, kita bisa mendapatkan sebuah chemistry, sebuah perasaan tertarik dan kecocokan yang murni, tak artifisial layaknya di dunia maya. Pasalnya, di dunia maya, kita tidak bisa melihat mimik dan gestur tubuh seseorang saat berbincang dengan kita. Seseorang bisa punya kosa kata yang sopan, dengan susunan kata yang baik di dunia maya, tetapi itu tidak menjadikannya orang yang baik. Apakah semua orang yang terlihat arif di dunia maya betul-betul arif? Tidak. Apakah selebtwit yang gemar melucu di Twitter itu betul-betul lucu? Belum tentu. Bisa jadi di dunia nyata dia adalah orang yang dingin. Dunia maya memberikan kita topeng yang sempurna: tidak ada mimik dan gestur, tidak bisa kita dinilai secara utuh.


Untuk itu, berhentilah mencari cinta sejati di internet. Kalaupun ada yang bisa, itu hanyalah satu dua orang saja, dan itu merupakan keberuntungan. Kebanyakan kalau tidak berakhir di hotel, ya berakhir dengan kasus-kasus buruk seperti penculikan dan pembunuhan. Berhentilah menjadi naif seolah cinta sejati bisa ditemukan di dunia di mana mudah sekali kita membentuk citra diri yang baru. Mungkin memang betul, kalau keberadaan teknologi dan media ini terkadang menjebak manusia-manusia naif, dalam sebuah simulacra yang sebetulnya jauh berbeda dengan kenyataan yang ada. Padahal, Plato sendiri pernah berkata bahwa dunia yang kita pijaki sekarang sejatinya bukan dunia nyata, hanya refleksi atas sesuatu. Lantas bagaimana dengan dunia maya?

Dan barangkali. sudah saatnya juga bagi para pembuat aplikasi pencarian jodoh ini berhenti untuk menciptakan sebuah dunia palsu yang dangkal, superficial, dan menjual cerita tentang cinta sejati tanpa temu muka. Tidak ada cinta sejati di sana, kebohongan jelas ada. Tapi bagaimana lagi, kebohongan-kebohongan itulah yang menjadi ladang uang bagi para pembuat aplikasi ini. Mereka tak peduli kalau nantinya pengguna akan mengalami hal buruk dengan orang-orang yang mereka temui di sana, karena mereka akan berdalih: baca Syarat & Ketentuan sebelum menggunakan. Mereka tidak akan berhenti sebelum perusahaan mereka bangkrut dan investor berhenti memberikan pendanaan.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe