Tubuh dan Perkara Objektifikasi

16.11



The body is our general medium for having a world - Maurice Merleau-Ponty

Kalau ada yang bilang "buka bokep itu adalah hal yang wajar", mungkin lebih baik kamu tampar wajah orang itu dengan panci, atau sebaiknya, tak perlu kamu pedulikan lagi orang itu.

Manusia memang tak bisa menghindari diri dari keinginan besar terhadap seks. Menonton hal-hal porno juga merupakan implementasi dari hal tersebut. Toh manusia juga punya keingintahuan yang besar. Tapi jangan salah, ada dampak lain yang ditimbulkan oleh aktivitas tersebut. Sangat klise mungkin kalau saya bilang bahwa dampak lain tersebut adalah degradasi moral. Walau memang hal tersebut betul adanya.

Ada sebuah candu dalam kebiasaan menonton film porno. Candu itu membuat kita terus menerus ingin kembali dan menonton. Meskipun pada akhirnya kita merasa menyesal, tapi kita begitu ketergantungan pada proses tersebut. Dan tak hanya ketergantungan, kita juga menganggap bahwa sebenar-benarnya seksualitas adalah apa yang ada di dalam konten-konten porno tersebut. Sebutlah BSDM, threesome, gang-bang, kegiatan mengintip, dan hal-hal semacam SSI –merayu para perempuan untuk berfoto tak senonoh-.

Di internet, ada forum-forum tempat para penggemar pornografi berkumpul. Dan di sana tak sekadar disajikan foto-foto telanjang yang biasa saja, tetapi juga foto-foto telanjang dalam pose yang aneh, foto-foto telanjang yang didapatkan dari proses yang aneh, seperti proses SSI misalnya, juga video-video anak-anak di bawah umur, gang-bang, dan lain sebagainya. Ada pula forum yang berisi kumpulan orang-orang yang doyan mengintip aktivitas mandi, ganti baju, dan lain sebagainya. Orang-orang yang bisa membawakan video atau foto dengan tema tersebut, akan dianggap sebagai “suhu”, seseorang yang jago dan pantas dihormati serta diberi cendol.

Mungkin kalian semua masih ingat dengan video viral tentang penjaga toko yang kedapatan akan merekam diam-diam aktivitas di kamar mandi toko menggunakan ponsel. Untungnya, perempuan yang akan masuk ke dalam kamar mandi tersebut merasa curiga dan menemukan bahwa memang ada ponsel yang tengah merekam di sana. Aktivitas seperti itu jelas tak bisa disebut sebagai naluri yang wajar. Hal semacam itu adalah bentuk objektifikasi bagi manusia. Melanggar otoritas manusia atas tubuh mereka. Menjadikan tubuh mereka sebagai objek yang bisa disebar melalui internet.

Mempersoalkan tubuh, memang tak pernah ada habisnya. Banyak pihak yang bilang bahwa tubuh telanjang bukanlah pornografi, tetapi sebuah seni. Bahwa alasan kita menganggap bahwa ketelanjangan adalah pornografi, karena kita terbiasa dengan stigma masyarakat bahwa alat kelamin dan lain sebagainya adalah hal yang tabu. Tapi sekali lagi, kita tidak mungkin lantas mengijinkan ketelanjangan ditampilkan secara terbuka hanya untuk mengajarkan anak cucu kita bahwa ketelanjangan adalah hal yang wajar dan tidak akan menimbulkan nafsu seksual yang berlebihan. Ya tidak bisa. Mau bagaimanapun, ketelanjangan akan menunjukkan bagian-bagian di tubuh kita yang peka akan rangsang, bagian tubuh kita yang merupakan alat kelamin. Jelas alat kelamin adalah bagian tubuh dengan fungsi seksualitas.

Untuk itu, tidak tepat bila ada yang berkata bahwa kita mesti membiasakan seseorang dengan ketelanjangan agar dia tidak mengobjektifikasikan tubuh seperti halnya para pecandu pornografi. Bagian-bagian tubuh tertentu memang selayaknya tak ditampilkan seenak jidat, sebebas itu, mengingat fungsi-fungsinya yang memang berhubungan dengan seksualitas. Semestinya kita mengajari orang-orang untuk menyadari bahwa tubuh orang lain tidaklah pantas untuk dijadikan objek, apalagi dengan cara seperti mengintip, candid photo dan sebagainya.


Dan semestinya pun kita menyadari bahwa tubuh kita tak selayaknya dijadikan objek bagi orang lain.

Foto: flickr.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe