Semesta Kecil Perseus - Mnemosyne [Bagian Dua]

08:57



Cerita: @intankirana
Foto: @aristian97
Ilustrasi: @ichalramzy

Sebentar lagi Natal tiba. Ibuku menghias pohon cemara di toko kue dan memberikan sentuhan ornamen Natal di tiap dinding. Toko kueku berada tepat di sebelah rumah kami yang cukup strategis. Yang dikelilingi oleh kedai-kedai makan lain, restoran es-es buah, dan oleh-oleh gethuk lindri khas Magelang. Di belakang, ada sebuah jalan masuk menuju deretan rumah-rumah.

Kalau pergi ke Magelang, orang-orang akan selalu melewati toko kue kami. Entah sekadar lewat atau singgah. Maka dari itu menurut Ibu, toko kue harus dihias sedemikian indah dan menyenangkan.

Kami tidak merayakan Natal. Tetapi perayaan selalu mengingatkanku pada acara berkumpul keluarga. Pada lebaran terakhir yang dilewatkan oleh kami di rumah sakit, menjaga Kakek.

Mengenai perayaan keagamaan, Ibu dan Kakek sedikit beda pendapat. Ibuku berpikir semesta ini seperti kue. Semisal Tuhan ada, Tuhan hanya membuat semesta ini. Seperti Ibu yang membuat kue. Ibu mencampurkan bahan-bahan sedemikian rupa, sebaik mungkin, tetapi Ibu tak ambil pusing dengan proses-proses yang dialami oleh bahan-bahan tersebut hingga jadi kue yang matang, lalu habis dimakan. Dan soal Tuhan dan kue alam semesta, Tuhan tak ambil pusing akan apa yang terjadi di dalam alam semesta. Yang penting, ia membuat alam semesta sesempurna dan sepresisi mungkin.

Lalu seperti bagian kue yang dimakan perlahan dan perlahan, seperti itulah pikiran ibuku tentang kematian.




Tapi Kakekku, adalah seseorang yang taat dalam beragama. Sebuah hal yamg tak biasa. Pasalnya, seperti stereotip ilmuwan pada umumnya, mereka tak menganut satu agama pun. Entah tak percaya Tuhan, atau Panteisme: Tuhan ya Alam Semesta ini. Bukan Dzat yang memberi firman lewat kitab-kitab suci.


Ketika kutanya tentang hal ini, Kakekku tertawa. Kakek bilang, kakek sholat bukan karena surga dan neraka. Kakek sholat, untuk berhubungan dengan alam semesta. Dengan Zat yang ada di atas dimensi kita ini.

"Alam semesta ini luas. Tetapi semuanya seperti saling berhubungan, satu sama lain. Pernahkah ada yang bisa menjelaskan mengapa keindahan-keindahan itu bisa hadir dalam sebuah ruang yang gelap, yang senyap, tanpa ada apapun di baliknya?"

Pernyataan itu kemudian mengingatkanku pada pernyataan Kakek menjelang kematiannya, "Kakek tidak pernah, pergi. Nanti, kita akan bertemu dan melihat alam semesta seperti melihat film dalam bioskop. Kakek janji. Kakek akan menunggu, ya?"

Dan kematian Kakek, selalu membuatku berharap kalau apa yang Kakekku katakan benar dan bukan yang dikatakan oleh Ibuku. Aku selalu berharap kematian manusia bukan seperti komputer yang mati total. Aku berharap jauh di dalam organ tubuh kita ada sebuah jiwa yang tidak pernah mati. Yang selalu melihat dan menanti. Untuk itu, setiap doa selalu kuawali dengan salam kepada Kakekku.



Tapi ketidaktahuan selalu merisaukan. Dua hujan meteor, bulan baru, dan sebentar lagi tahun baru, musti kulewati tanpa Kakek. Ini berat, seberat langkah-langkah kaki pertamaku menuju observatorium. Sudah lama aku tak berkunjung ke sana. Selain karena masalah ujian, aku juga takut tersesat di angkasa tanpa Kakek.

Observatorium Kakekku selalu ramai saat liburan. Terutama usai senja seperti saat ini. Waktu Kakek masih ada, aku selalu senang menyaksikan anak-anak sekitar rumah berinteraksi dengan antusias, bergantian bertanya tentang apa saja: mulai dari Aurora Borealis hingga katai-katai di galaksi. Tapi kini setelah Kakek tak ada, aku malas bertemu orang. Terutama yang mengenal Kakek.

Saat masuk observatorium, orang pertama yang kujumpai adalah Lik Umono. Ia dulu sempat menjadi supir Kakek. Setelah Kakek kembali, ia membantu Kakek mewujudkan rumah impiannya ini. Lalu saat Ibu buka toko, Lik Umono menjadi tukang pesan-antar kue ke rumah-rumah. Karena Kakek sudah jarang pergi-pergi,Lik Umono menjaga observatorium Kakek, bergantian dengan Kakek menjaga anak-anak yang ingin mencoba teropong bintang di malam hari.

Waktu Kakek di rumah sakit, Lik Umono dan Ibu bergantian menjaga Kakek. Pada suatu waktu, Kakek pernah berkata, "Aku titip omah lintangku, yo No. Yen aku wis ora ono...". Lik Umono lantas menangis sesegukkan. "Kedah kiat, Pak...", ujarnya terbata-bata. Meskipun sepertinya tak ada hubungan darah di antara mereka, dengan jarak usia 20 tahun, tetapi Kakek dan Lik Umono sudah seperti Ayah dan Anak. Lik Umono bahkan tak tahu siapa Ayah dan Ibunya. Maka apabila orang bertanya, ia akan menjawab kalau Ayahnya adalah Kakekku.

Lik Umono seorang tua yang menyenangkan. Kepolosannya suka membuatnya melontarkan kata-kata yang lucu. Tapi kepolosan Lik Umono saat ini, adalah hal yang membuatku agak malas datang ke observatorium. Masalahnya, Lik Umono tak henti-henti mengenang Kakek. Aku tidak suka. Aku tidak mau menangis di depan orang lain dan terlihat lemah

"Sudah tiga bulan...", ujar Lik Umono saat aku akan mencoba teropong bintang -semacam Schmidt-  mengingat-ingat bagaimana cara untuk memotret galaksi. Aku sedang ingin sendirian. Kuharap Lik Umono tidak membuat lensa teropong basah oleh air mataku.

"Ya yaya, sudah tiga bulan. Aku rindu Kakek..", ujarku, menampakkan wajah sendu sejenak lalu berpura-pura sibuk. Kemudian tak ada lagi komentar dari Lik Umono. Aku agak tenang, setidaknya sekarang. Aku tidak tahu sedang ada momen astronomi apa lagi di penghujung tahun ini, selain hujan meteor Leonids dan Geminids yang lalu. Tapi aku mau melihat taburan bintang di galaksi, yang menurut mitologi adalah air susu Hera yang tumpah saat tahu kalau Herakles, bayi yang disusui adalah anak dari istri lain Zeus. Menarik sekali melihat bintang mengingat banyak cerita tersimpan di dalamnya. Mulai dari mitos, hingga dugaan agak nyata kalau kita semua, terbuat dari bintang. Bila begitu, menyenangkan melihat nenek moyang kita di atas sana.

Lagipula, kabarnya orang-orang yang telah tiada, akan pergi ke dimensi lain. Jauh, jauh di atas sana. Kadang aku berharap saat melihat bintang, aku bisa menemukan dimensi itu melalui lubang cacing atau lubang hitam. Lalu ada kilasan wajah Kakek, di atas sana. Pengharapan yang indah semacam itu kadang bisa jadi penghibur bagiku.

Tapi nyatanya, aku malah jadi ingin menangis.

Lantas aku merogoh-rogoh saku. Mencari sapu tangan. Seperti Kakek, kubawa sapu tangan ke mana saja. Warnanya biru muda dan abu-abu. Namun saat aku tengah merogoh saku, kutemukan satu benda. Kunci Kakek.

Dan juga, sebuah pintu. Aku tidak tahu apakah momen ini adalah deus ex-machina, tetapi terkadang, ada bagian dari cerita di alam semesta yang begitu mudah untuk diselesaikan.
***
Jadi, Kakek memperbolehkan aku dan siapa saja untuk melakukan apa saha yang berkaitan dengan astronomi di tempat ini. Namun, ada satu hal yang dikunci rapat-rapat oleh Kakek. Sebuah pintu, yang terletak tak jauh dari teropong pengamat galaksi. Namun pintu itu agak menjorok ke dalam, sehingga bagi yang tak memperhatikan, ia paling hanya melihat dinding dan tepian beranda saja.

Aku orangnya suka ingin tahu. Ketika aku tahu pintu itu terkunci, aku mencari tahu dengan bertanya pada Kakek: "Itu apa Kek? Perpustakan Kakek ya? Aku mau ke sana ya? Kuncinya mana?"

Tapi Kakek bilang, belum waktunya aku ke sana
"Lalu kapan Kek?", tukasku setengah memaksa
"Di waktu yang tepat."
"Tepat itu maksudnya apa? Gimana caranya biar aku tepat? Memangnya aku nggak tepat sekarang ini? Apa aku harus rangking satu biaf jadi tepat? Dapat nilai sertus?"
Kakekku tertawa. Kata Kakek, aku punya bakat masuk filsafat. Waktu itu, aku belum tahu filsafat itu apa.

Kemudian aku iseng memasukkan kunci Kakek ke lubang pintu itu. Aku menghitung detik demi detik ketika aku memasukkan kunci, sehingg tanganku seperti kaku dan hidup seolah diperlambat. Seperti film aksi. Aku lantas membayangkan aku yang sekarang dan aku yang bisa membuka pintu. Ini aneh dan bodoh, dan tidak jelas, tetapi ketika menyambut sesuatu yang mendebarkan, aku selalu seperti itu. Dan tidak lupa, aku menengok ke belakang depan samping, melihat apakah Lik Umono ada di dekatku. Apakah anak-anak lain ada yang mengekor.

Tapi Kakek betul soal waktu yang tepat.

Kunci terputar, terdengar suara klik yang tak begitu nyaring. Sementara itu tak jauh dari tempatku berdiri masih terdengar riuh suara, anak-anak yang sibuk melihat diorama, ada pula yang melihat-lihat tiruan asteroid dan teropong lensa 102 mm yang bisa dibawa-bawa dan sederhana. Aku senang, ternyata waktu punya momen khusus yang bisa dibilang tepat, tetapi sayangnya, mengapa saat yang tepat adalah saat ketika Kakek sudah tiada.

Satu hal yang kulakukan saat memasuki ruangan adalah menganga lebar. Bukan karena ruangan itu indah atau bagaimana. Ada satu meja. Tanpa buku tanpa apapun. Juga ubin yang sama dengan ubin lain di bangunan ini. Dinding yang sama. Namun ada satu hal yang berbeda. Teropong bintang

Di tengah ruangan itu, berdiri megah sebuah teropong bintang yang besar. Begitu besar, hingga teropong schmidt yang kukira terbesar di observatorium ini jadi seperti anaknya yang masih balita. Warnanya ungu metalik. Seperti gambaran nebula. Tapi tanpa bintang gemerlap. Di sebelahnya, ada sebuah peta langit yang menyala dalam gelap. Dilekatkan di atas meja kecil. Peta langit dengan fosfor. Indah sekali. Aku merasa takjub, ngeri, sekaligus penasaran dalam waktu yang sama.

Dan tanpa buang-buang waktu lagi, aku segera mendekati teropong itu. Kakek selalu mengajariku, 'lihat, lihatlah Peta Langit sebelum meneropong. Angkasa itu seperti wanita yang cantik. Indah, tetapi membingungkan dan sulit diterka." Tetapi entah kenapa, aku tidak tertarik melihat Peta Langit. Mungkin karena itu buang waktu, atau mungkin, aku ingin tersesat di dalam dunia Kakek. Aku ingin tersesat dan ditolong Kakek. Kakek selalu menolongku dalam ketidaktahuan.




Tapi aku melihat keindahan. Teropong di dalam kamar rahasia Kakek menunjukkan kepadaku butir-butiran bintang yang cerah, cemerlang, jelas, terasa dekat. Aku betul-betul jatuh cinta. Kakek menghadiahkan kepadaku sebuah teropong yang memberiku salah satu sisi festival semesta yang begitu agung. Dalam teropong manapun di sini, di Bosscha, di manapun Kakek pernah mengajakku, aku tak pernah melihat keindahan seperti ini.

Namun tiba-tiba, aku diserang rasa kantuk yang amat sangat. Sedetik kemudian aku merasa seperti di dalam buaian. Tidur, tidur yang begitu tenang. Sesuatu menyanyikan Nina Bobo dalam gelap.
bersambung ke bagian 3

Lihat bagian 1: Kunci Kakek



You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe