Selebriti dan Hubungan Dengan Keluarga

12.05



Educating the mind without educating the heart is no education at all - Aristotle

Saya tidak akan pernah lupa dengan adegan saat seorang ibu-ibu, yang dulunya fans berat Aa Gym, membuat semua souvenir yang bergambarkan Aa Gym setelah santernya pemberitaan tentang Aa Gym yang menikah lagi. Kepada media, ibu-ibu tersebut berkata kalau dia tidak akan pernah lagi menonton acara Aa Gym dan mengoleksi barang yang berhubungan dengan uztadz tersebut.

Hal yang sama juga berlaku kepada Ahmad Dhani. Usai bercerai dengan Maia Estianty dan menikah dengan Wulansari (Mulan Jameela/Mulan Kwok/whatever), Ahmad Dhani tidak lagi menjadi figur yang dikagumi oleh banyak orang (ya tentunya selain karena faktor degradasi lagu -dari yang selevel Roman Picisan menjadi semacam Perempuan Paling Cantik di Negeriku Indonesia). Bahkan, segala tentang Ahmad Dhani sepertinya salah saja. Sementara itu, Mulan menjadi perempuan paling "dibenci" oleh Ibu-Ibu di seluruh Indonesia lantaran dicap sebagai pelakor -alias perebut laki orang-.

Kejadian macam ini, ditinggalkan penggemar, mungkin sebentar lagi akan menimpa Mario Teguh. Saat ini, dia sudah menjadi public enemy  banyak orang karena sempat tidak mengakui pernikahan pertamanya, dan sekarang berkata kalau anak dari pernikahan pertamanya bukanlah anak kandungnya. Dan jangan harap orang-orang akan menggemari tayangan motivasinya seperti dulu. Apalagi dengan sikap Mario Teguh yang terlihat temperamen dan juga perkataannya yang kurang konsisten.

Dari ketiga kasus tersebut, kita bisa melihat bahwa ada peran keluarga dalam pembentukan citra seorang figur publik. Orang mungkin bisa bilang "bedakan antara kehidupan pribadi dan karyanya". Tapi tetap saja, kehidupan pribadi membawa dampak besar, terutama untuk meraup penggemar yang banyak. Apalagi bila figur publik tersebut sering mengijinkan media untuk menyorot kehidupan pribadinya: seperti Mario Teguh yang senantiasa berbagi foto-foto dan hal pribadi lain seperti chat misalnya, untuk menunjukkan betapa mesranya dia dan sang istri (juga semacam mentasbihkan diri sebagai couple of the decade)



Masyarakat menganggap bahwa figur publik yang punya hubungan stabil dengan keluarga adalah figur publik yang baik dan patut dicontoh. Pasalnya, semua berawal dari keluarga. Keluargalah faktor utama pembentuk kepribadian, setelah itu baru diikuti pendidikan dan lingkungan sekitar. Maka dari itu, tak mengherankan bahwa banyak tokoh yang menunjukkan kedekatan mereka dengan keluarga: contohlah Ridwan Kamil, Joko Widodo, juga selebriti seperti Darius Sinatrya, Arie Untung, dan lain sebagainya. Dan hal itu terbukti berhasil meraup simpati masyarakat.

Figur publik yang kedapatan mendua, selingkuh, dan melanggar perjanjian pernikahan akan selalu dibully oleh netizen, oleh Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak yang sedang makan saat jam istirahat, oleh anggota forum gosip, dan penikmat gosip di akun gosip Instagram. Sanksi sosial, bisa kita sebut begitu. Mau dibilang salah, juga sulit. You get what you pay. Sekali sosokmu memasuki kehidupan pribadi masyarakat, selamanya kamu akan jadi milik masyarakat. Apalagi kalau kerjamu adalah menyemangati masyarakat, seperti motivator misalnya. Mau tidak mau kamu akan dinabikan, kamu akan dianggap lebih baik daripada mereka, dan sekali kamu berbuat dosa, itu adalah dosa tak termaafkan. Apalagi bila itu menyangkut keluarga.

Maka sebuah kehancuran besar pada karir saat Mario Teguh memutuskan untuk keluar, berbicara dengan nada halus tapi penuh dengan tekanan baik di setiap intonasi dan urat wajah di salah satu channel televisi, sambil berkata bahwa anak terdahulunya bukan anak kandung. Tak cuma meniadakan keberadaan akte yang jelas-jelas jadi penanda hubungan orangtua-anak, tapi juga memperlihatkan kalau citra pemaaf, ikhlas, dan family man yang selama ini dia sanding menjadi seperti peran main-main di panggung teater. Pecahlah imajinasi masyarakat terhadap sosok motivator botak kebapakan: toh dia tak mengakui anak (yang punya akte asli dengan namanya), menjelek-jelekkan adik kandung sendiri, dan menghina profesi anak yang dia klaim sebagai anak bukan kandung.

Singa yang kejam pun bahkan sangat protektif terhadap keluarganya. Itulah yang masyarakat tangkap, dan figur publik yang tidak mementingkan makna keluarga akan dianggap lebih rendah daripada hewan. Kalau sama keluarga saja kejam, bagaimana terhadap orang lain? Begitulah, karirmu akan selalu ditentukan oleh bagaimana hubunganmu dengan keluargamu.

Foto: Pixabay.com, Detik.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe