Seandainya Terdakwa Pembunuhan Itu Bukan Jessica

20:35


Seandainya saja terdakwa kasus pembunuhan kopi sianida bukanlah Jessica dan tidak dilakukan di Olivier, serta tidak menjadikan seorang Mirna sebagai korban, mungkin proses persidangan tidak akan berlarut-larut seperti ini dan tidak disiarkan di televisi sampai puluhan episode, bak sinetron tentan anak tiri yang jadi asisten rumah tangga di sebuah stasiun televisi.

Cerita tentang pembunuhan, selalu ada setiap hari. Yang lebih rumit dari pada Jessica-Mirna-Kopi ini juga banyak. Tapi tidak ada yang sidangnya sepanjang dan seheboh ini. Sampai menghadirkan banyak saksi ahli dari berbagai daerah dan bahkan negara. Seolah kasus ini begitu rumit dan penuh dengan trik pembunuhan kelas tinggi. Lebih sulit dipecahkan ketimbang kasus pembunuhan di desa bintang-nya Detektif Kindaichi jilid 2.

Ini bukan sekadar masalah "hukum itu tumpul ke atas, tajam ke bawah". Tapi masalahnya, Jessica adalah seseorang yang berpendidikan. Dan tak cuma berpendidikan, dia tahu betul langkah-langkah yang harus dia lakukan untuk lepas dari hukuman, atau setidaknya meringankan hukumannya, bersalah ataupun tidak. Dia tahu harus bersikap seperti apa di persidangan, pengacara siapa yang harus dia sewa, dan hal-hal lain yang tidak diketahui oleh masyarakat yang kita sebut "orang-orang kecil". Dia tahu sebagai terdakwa, dia punya hak.

Misalkan yang melakukan pembunuhan bukanlah Jessica, yang notabene pernah bersekolah di Australia itu, misalkan saja yang melakukan pembunuhan adalah orang di desa yang hanya punya latar belakang pendidikan hingga SMP, dia tidak akan tahu kalau membuang pisau bekas pembunuhan di belakang rumah adalah hal bodoh untuk menghilangkan barang bukti. Dia tidak tahu cara berkilah dari hal tersebut. Dia tidak tahu bahwa meskipun dia bersalah, aparat tidak punya hak untuk melakukan kekerasan supaya dia mengaku. Kalaupun dia tahu, siapa yang mau mendengar?



Bayangkan saja kalau misalnya Jessica dipaksa untuk mengakui kejahatannya dengan cara dipukul, dan ditindak dengan menggunakan kekerasan lain, pastilah segenap keluarga dan tim pengacaranya akan sangat marah dan mengabarkan hal ini kepada media. Lagipula, media hampir 24 jam mengawasi kasus Jessica ini (tentu saja, ini kasus favorit karena melibatkan "orang-orang berada kelas atas, sosialita" di Indonesia. Bak film bioskop tentang konspirasi). Akan ketahuan bila aparat menggunakan tindak kekerasan, dan kita tahu sendiri akan seperti apa reaksi masyarakat yang memang sudah sedari dulu sentimen terhadap aparat.

Bukan pikiran orang pandai atau bijak , melainkan perkataan orang awamlah yang menciptakan hukum, begitu kalimat yang pernah diucapkan oleh Eugen-Rosenstock Huessy, seorang filsuf sosial dan sejarah dari Jerman. Demi keadilan para orang awamlah, maka hukum tercipta. Tapi bagaimana kalau bahasa dan trik-trik dalam hukum tak dipahami oleh orang awam? Masihkah hukum dibuat bagi nasib orang-orang awam?

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe