Pernikahan Itu, Tidak Selalu Bisa Menyatukan Perbedaan (yang Mendasar)

14.22



Kebanyakan orang membahas tentang kemungkinan Brad Pitt berselingkuh atau main mata lagi dengan lawan mainnya, yang menyebabkan dilayangkannya gugatan cerai oleh sang istri, Angelina Jolie. Kita semua tentu masih ingat dengan kisah pertama mereka bertemu. Waktu itu, Brad Pitt masih menjadi suami Jennifer Aniston dan perannya di Mr. and Mrs. Smith bersama Angelina Jolie, dikabarkan menjadi penyebab retaknya pernikahan mereka berdua. 

Tentang perselingkuhan keduanya, bukan hal itu yang akan dibahas di sini. Karena tidak akan artinya membicarakan perselingkuhan yang telah berlangsung lama sekali. Lagipula, sudah mutlak perselingkuhan menjadi hal yang dibenci oleh banyak orang, dan pelakunya akan mendapatkan sanksi moral hampir seumur hidupnya.

Satu hal yang menurut saya lebih menarik ketimbang isu kalau Brad Pitt memang tak bisa setia adalah, bahwa perceraian keduanya juga disebabkan oleh perbedaan pandangan hidup antar keduanya. Awalnya memang dua selebriti ini terlihat sepadan. Yang satu aktris papan atas, yang satu juga aktor ternama. Sepertinya gaya hidup mereka pun sama, jadi tidak ada kesenjangan di antara keduanya.

Tapi, belum lama ini saya menemukan beberapa artikel di media-media entertainment Amerika Serikat yang menyebutkan bahwa ada perbedaan pandangan hidup antara keduanya. Angelina Jolie, yang kita ketahui sudah lama terlibat dalam kegiatan-kegiatan kemanusiaan, ingin mundur dari dunia hiburan dan pindah dari hingar bingar kota. Sayangnya, hal tersebut tidak berlaku bagi Brad Pitt. Dikabarkan bahwa Brad Pitt masih ingin menjadi Hollywood's Golden Boys, berada di tengah-tengah gemerlap panggung keartisan.


Pernikahan adalah sebuah institusi untuk menyatukan dua pribadi yang berbeda. Tapi tetap, perbedaan ini tidak bisa disatukan apabila telah menyangkut visi dan misi. Kamu yang anak rumahan, tidak mungkin bisa menikahi seseorang yang sangat suka hangout, clubbing hingga tengah malam. Kamu yang fanatik politik, tidak mungkin bisa menikahi orang-orang skeptis yang golput seumur hidup. Kamu yang relijius, tidak mungkin bisa menikahi orang yang sama sekali tidak relijius dan mementingkan hal-hal duniawi. Kalaupun kamu tetap nekat, kemungkinan hubungan tersebut tidak akan berjalan kecuali ada salah satu di antara kalian yang memutuskan untuk berubah dan menyamakan kebiasaan, visi, misi, dan persepsi.

Hubungan yang dipaksakan dengan tetap mempertahankan perbedaan prinsip yang mendasar, merupakan bom waktu yang suatu saat bisa meledak. Mungkin bukan sekarang. Bukan saat nafsu sedang bergelora setinggi-tingginya, tapi ketika kedua belah pihak mulai menyadari bahwa hubungan juga butuh kenyamanan, bukan sekadar "kamu keren, kamu cantik". Suatu saat akan ada titik jenuh yang membuat kita merasa bahwa mengakhiri semuanya lebih baik ketimbang meneruskan dengan segala perbedaan yang membuat kita tidak betul-betul menjadi diri sendiri. 

Cinta itu tidak bisa menyatukan semua perbedaan. Toh awalnya, cinta itu juga hadir karena ada persamaan. Kita awalnya jatuh cinta pada seseorang yang merepresentasikan keinginan kita. Jadi tidak mungkin dalam sebuah pernikahan, ada dua tujuan yang berbeda. Lebih tidak mungkin dari adanya dua pemimpin berbeda dalam sebuah perusahaan, karena institusi pernikahan lebih sakral dan melibatkan lebih daripada masalah ekonomi belaka. Perbedaan pandangan tidak akan menimbulkan chemistry dari sepasang suami istri. 

Karena seperti kata Nietzsche: "It is not a lack of love, but a lack of friendship that makes unhappy marriage"

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe