Kerja dan Keterasingan

19.59

kerja dan keterasingan

Dalam sebulan, kita diberi jatah cuti selama kurang lebih 12 hari. Setiap hari, ada waktu satu jam yang diberikan oleh kantor sebagai hak kita untuk beristirahat. Rata-rata, perkantoran swasta di kota-kota besar, terutama Jakarta, menerapkan sistem kerja 8 jam per hari. Masuk jam 8, pulang jam 5. Atau masuk jam 9, pulang jam 6. Bahkan banyak perusahaan yang sering memberikan lembur hingga karyawannya pulang melebihi jam kerja.

Sementara itu, pelayanan publik juga kebanyakan buka pada jam kerja, sehingga mau tidak mau para pekerja harus mengambil cuti atau memperpanjang waktu istirahatnya apabila ingin mengurus dokumen tertentu. Misalnya ketika ingin mengurus Kartu Keluarga, dokumen untuk menikah, dan sebagainya. Pelayanan saat weekend penuh dengan keterbatasan sehingga mau tidak mau kita harus mengorbankan hari kerja untuk mengurus dokumen-dokumen tersebut.

Memang sih, tidak setiap hari kita harus mengurus dokumen. Tapi mengambil cuti tidaklah semudah itu. Belum tentu kita diperbolehkan mengambil cuti saat beban kerja kita sedang banyak-banyaknya, atau tidak ada pengganti. Lagipula, cuti-cuti yang seharusnya bisa dipakai untuk berlibur itu akhirnya harus dikorbankan untuk mengurus dokumen-dokumen penting terkait kependudukan. Waktu kerja setahun, cuti 12 hari, libur Sabtu-Minggu, pulang kelewat sore. Tidak ada waktu untuk diri sendiri.

Banyak orang yang berkata bahwa kerja merupakan proses aktualisasi diri. Tapi Karl Marx pernah berkata bahwa dalam aktivitas kerja, banyak manusia yang terasing dari dirinya. Kerja dianggap sebagai aktivitas yang memisahkan antara dia dan kebahagiaan, yang menjadi beban bagi hidupnya. Para pekerja membuat konsep produk bukan karena dia menyukai produk tersebut, tapi karena dia dibayar untuk itu.

Sebetulnya tak ada yang salah dengan membayar orang untuk membuat sebuah produk bagi diri kita sendiri. Tapi "mengurung" seorang pekerja dalam waktu berjam-jam, dengan ataupun tanpa pekerjaan yang banyak, hanya karena masalah peraturan, tak ubahnya seperti mengasingkan mereka dari dunia, sebagai manusia. Bagaimana mereka bisa betul-betul membuat produk yang bagus bagi kita, bila mereka merasa jenuh dan merasa "dikerjain"?

Perkara passion pun tak bisa kita jadikan tameng. Banyak orang yang lulus sekolah/kuliah dengan passion yang tinggi atas sesuatu. Kenyataannya, mungkin mereka tak punya cukup modal untuk mengejar passion mereka, atau sialnya, tak punya kesempatan untuk bekerja di tempat yang sesuai dengan passion mereka. Lapangan kerja begitu sempit, orang semakin banyak saja, sehingga orang-orang pun terjebak dalam pekerjaan dan dalam rutinitas kantor yang membuat mereka muak. Jangankan terasing terhadap diri sendiri. Terhadap hak mereka pun, mereka terasing. Bukankah mengurus surat-surat kependudukan adalah hak mereka?

Seandainya saja para kapitalis tidak mengejar untung terlalu besar, jam kerja mungkin bisa dikurangi, dan dalam jam kerja ideal tersebut, para pekerja dapat dibayar untuk membuat produk-produk dengan kesehatan dan mental yang lebih optimal. Sayangnya, untuk bisa bersaing di dunia yang dipenuhi para kapitalis raksasa itu, mau tidak mau kita hanya bisa menjadi dua hal: penjilat yang nantinya juga akan menjadi kapitalis dengan ketidakpedulian yang sama, atau pekerja yang terasing dari banyak hal. Mungkin pindah ke tempat yang lebih sunyi adalah solusinya. Sebuah tempat tanpa ribuan hiu kapitalis sosiopat dan ambisius. Tapi masihkah ada?

Sumber: Pijar-Pijar Filsafat oleh Frans Magnis-Suseno
Foto: dok. Pribadi

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe