"Kiri" Itu Hebat, Yakin?

18.28



Seringkali kita menemukan berita atau artikel terkait pemimpin atau tokoh-tokoh dengan paham komunisme. Dan seringkali pula kita temukan komentar-komentar netizen yang terlihat sangat mengagumi dan menginginkan dipimpin oleh tokoh-tokoh tersebut. Lenin misalnya.

Seperti Lenin, saya menyukai beberapa pemikiran Karl Marx. Menyenangkan untuk dibaca, terutama tentang teori kelas. Tapi bukan berarti saya menginginkan hal-hal semacam komunisme ada di negara saya. Terutama komunisme anarkis (bentuk komunisme yang sepertinya masih bisa saya tolerir sepertinya adalah komunisme agamis, tapi bila disalahgunakan pun akan menimbulkan kekuasaan otoriter sebuah lembaga agama, yang tentunya akan menodai aturan-aturan agama itu sendiri).

Sayangnya, hal ini tidak berlaku bagi hanyak orang di forum-forum itu. Yang begitu ingin dipimpin oleh pemimpin macam Lenin, Zedong, dan juga Kim Jong-Un. Kata mereka, pemimpin-pemimpin itu tegas sekali. Indonesia butuh pemimpin tegas, bukan yang lembek.


Komunisme sendiri, diambil dari kamus filsafat Oxford, pada dasarnya sebuah sistem yang didasarkan pada kepemilikan dan produksi barang bersama, communal self-government, dan terkadang kehidupan bermasyarakat yang komunal. Dalam komunisme, tidak ada sistem tukar menukar dalam mekanisme pasar, karena slogan dari komunisme sendiri adalah "dari satu untuk yang lain sesuai dengan kemampuan mereka, dan sesuai kebutuhan masing-masing orang". Jadi semua orang sama. Tapi kesamaan itu harus dibentuk oleh seorang diktator. Karena tanpa adanya diktator, maka tidak ada yang mengatur masyarakat untuk bisa sama rata sama rasa.

Padahal, manusia berbeda-beda. Sekeras apapun usaha kita untuk menyamakan manusia, suatu saat mereka akan memberontak. Mungkin tidak semuanya. Tapi sebagian itu akan menggerakkan hampir semua orang untuk memberontak. Semacam efek domino.

Jadi, jangan bayangkan dipimpin Jong-Un akan menyenangkan dan keren seperti orkestra lagu "Hills of Manchuria". Epic. Tidak seperti itu. Apalagi dengan kebiasaanmu membagikan pemberitaan tentang pemerintahan dan memberikan komentar pedas. Mungkin besok akan jadi hari terakhirmu menghirup oksigen. Yang mereka tumpas bukan hanya korupsi, seperti yang diharapkan para agan-agan di forum saat membaca thread tentang Jong-Un.

Menjadi pengagum diktator, mencintai komunisme, berkoar-koar di bio Facebook, Twitter, dan Instagram bahwa kamu adalah "kiri" nampaknya membuatmu jadi anti-mainstream. Apalagi kalau kamu disandingkan dengan ababil-ababil pencinta sebangsa Awkarin dan Reza Arap. Kamu akan terlihat intelek dan militan sekali. Tapi yakin, kamu siap kalau ditakdirkan lahir di negara berbasis komunisme dengan pemimpin tiran? Yakinkah? Sementara itu, di kantor pun kamu sering merasa muak dengan bosmu.

Asal kamu tau, di kantor, kamu sudah jadi bagian dari komunisme. Tak peduli kantormu itu korporat kapitalis atau apapun, kamu tetap jadi masyarakat komunal selama kamu wajib singgah dan pulang dengan aturan tertentu, apalagi pakai seragam. Ya tentu saja, kantormu itu menganut paham komunis terhadap bawahannya, kalau tidak, meja kantormu itu bisa kamu cat dan kamu corat-coret seperti yang kamu mau. Nyatanya tidak kan? Nah, kalau sekadar menjadi warga di wadah komunis macam kantor saja sudah tidak betah, jangan harap kamu betah dipimpin manusia-manusia salju macam Jong Un itu.


(Artikel ini tidak menunjukkan kalau saya berpihak pada neoliberalisme atau kapitalisme. Saya juga tidak suka dengan keduanya. Saya tidak suka dengan -isme yang terlalu fanatik, karena tidak ada aliran yang benar-benar positif. Komunisme membunuh, begitupun dengan kapitalisme. Yang menjadi korban pada ujungnya toh orang-orang kecil lagi, baik mereka yang tak punya modal ataupun tak punya keberanian untuk menjadi pemimpin.)

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe