Antara Oknum Dokter, Pasien, dan Relasi Kuasa

21:07


Saya masih ingat betul, saat masih kecil dulu, banyak teman-teman saya yang bercita-cita menjadi dokter. Hanya sedikit di antara mereka yang ingin jadi dokter karena profesi tersebut adalah profesi mulia. Kebanyakan ingin menjadi dokter supaya terlihat keren.

Konotasi keren dalam profesi dokter memang sudah turun temurun dan mendarah daging hadir dalam masyarakat kita, lantaran dokter dianggap sebagai profesi yang penting terutama bagi kesehatan dan hidup mati kita. Jas putih dan stetoskop dianggap sebagai dua benda keramat, yang akan menaikkan kastamu di mata masyarakat dan mertua.

Sejujurnya, saya pun juga tak akan bisa hidup tanpa adanya dokter. Dokterlah yang nanti akan membantumu saat melahirkan, saat kamu sakit, dan juga menua. Kebetulan juga, saya punya banyak pengalaman menyenangkan dengan dokter. Salah satunya adalah dokter anak langganan saya sejak kecil, yang praktek di Semarang, bernama Dokter Harsoyo. Dia adalah dokter yang sangat baik dan ramah. Sampai saat ini, saya masih mengingat ornamen di ruang prakteknya: pengukur tinggi badan bergambar kartun, perlak di bawah kasur pemeriksaan, hingga hiasan-hiasan di meja yang bernuansa balita.

Berkat dia, saya pun memiliki anggapan dan pengalaman bahwa semua dokter baik. Sayangnya, beberapa waktu yang lalu saya merasa kurang senang saat berobat ke seorang dokter. Kali ini saya sudah dewasa, dan alih-alih berobat ke dokter anak, saya pun berobat ke dokter kandungan.

Saya tidak perlu menyebutkan nama dokter dan rumah sakit tersebut. Tetapi dokter itu kurang ramah dan kurang senyum. Coba bayangkan, bagaimana perasaan Anda saat berobat ke dokter lelaki yang tidak ramah dan tidak terbuka?

Tapi bukan itu yang jadi pokok masalah saya. Puncaknya adalah ketika dokter tersebut bertanya tentang bagaimana awalnya saya yakin kalau saya hamil. Kepadanya saya berkata bahwa saya melakukan tes urin dengan testpack, dan hasilnya positif (garis dua, walau beberapa testpack menunjukkan salah satu garis yang agak pudar). Kepada saya dia bertanya apakah saya yakin bahwa itu testpack. Tentunya saya yakin, bahwa itu testpack. Testpack itu nama pengukur kehamilan dengan urin bukan? Lalu saya tunjukkan kepadanya beberapa testpack yang saya bawa.

Dan jawaban dia membuat saya merasa bodoh dan kesal di waktu yang sama: "Testpack itu merk testpack. Cuma itu yang akurat", dengan nada yang agak tinggi.

Saya berkuliah sastra selama 4,5 tahun dan bukannya kedokteran umum, lalu mengambil spesialisasi obstetri dan ginekologi. Selama ini, testpack yang saya ketahui adalah nama alat, bukannya merk. Dan entah Google saya yang rusak atau bagaimana, setiap kali saya mengetik kata testpack, yang muncul adalah merk semacam Sensitif, Akurat, Directtest, dan sebagainya. Mana mungkin saya tahu ada testpack dengan merk testpack?

Kemudian saya jadi teringat tentang salah satu teori dari Michel Foucault, seorang filsuf asal Prancis: kekuasaan bersifat omnipresent. Kekuasaan tidak hanya perkara raja-rakyat, atau presiden-warga negara saja. Kekuasaan itu tersebar di mana-mana. Dan salah satu faktor mengapa seseorang merasa berkuasa, kemudian membentuk relasi kuasa, adalah pengetahuan.

Dalam sebuah interaksi di ruang praktek, dokter memiliki pengetahuan yang lebih daripada kita tentang kesehatan kita, sehingga ada beberapa oknum dokter yang merasa jumawa, kemudian menganggap rendah pasien dan berpikir bahwa dirinya punya kekuasaan terhadap tubuh pasien tersebut. Pasien pun dianggap awam, dan dengan keawaman itu, pasien berhak untuk "dipandang sebelah mata".

Padahal, pasien berhak untuk mendapatkan informasi lengkap dan perlakuan baik dari dokter yang menanganinya. Semestinya seorang dokter memiliki etika dan mampu memahami sang pasien, serta membuat pasien nyaman dalam sakitnya. Bila seorang dokter sejak awal terlihat jumawa, terlihat sombong dan menjaga jarak, bagaimana bisa pasien mendapat pemahaman tentang kondisi tubuhnya? Saya pun kemarin merasa malas bertanya lebih jauh, mengingat muka masam dokter lelaki tersebut membuat saya mual.

Karena tak semestinya seorang pasien dianggap rendah hanya karena dia tak mengetahui apa yang terjadi dengan tubuhnya sendiri.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe