Vaping, Liquid, dan Masyarakat Konsumeris

20.57


Beberapa waktu belakangan ini, aktivitas Vaping atau merokok dengan rokok elektrik memang sedang menjadi tren. Alasannya beragam. Yang pertama, Vaporizer atau alat untuk Vaping beserta liquid atau isinya, dianggap lebih tidak berbahaya ketimbang rokok. Yang kedua, rasanya bermacam-macam, tidak seperti rokok yang itu-itu saja. Rasanya bervariasi bak varian Pocketbac, hand sanitizer buatan Bath&Body Works.ulai dari rasa buah-buahan, kue, hingga susu.

Selain itu, untuk memberi daya pada mesin Vaping, kamu hanya tinggal men-charge mesin tersebut, seperti handphone. Hemat dan praktis bukan? Tapi belum tentu.

Di sini, kita tidak akan membahas dampak vaping pada kesehatan. Kita akan membahas apakah vaping betul-betul digunakan oleh orang untuk berhenti merokok, atau menjadi gaya konsumsi baru? Karena kalau dilihat dari harga, vaping cukup menguras tabunganmu. Untuk satu liquid yang digunakan sebagai isi dari Vaporizer, kamu harus mengeluarkan kocek sekitar 50-180ribu (atau mungkin ada yang lebih dari itu?) . Kalau kamu memang ingin vaping sebagai bentuk "terapi" untuk lepas dari rokok, atau kalau kamu memang orang yang hemat, kamu bisa menghabiskan satu botol liquid selama satu setengah minggu (yang di mana bisa lebih murah daripada rokok). Tapi, kalau kamu melakukan vaping secara aktif, terlebih kamu doyan berkumpul dan bervaping ria dengan teman-temanmu maka kamu bisa menghabiskan satu botol liquid selama 3-7 hari. Hitung saja berapa biaya yang harus kamu keluarkan untuk vaping.



Meskipun banyak orang yang melakukan kegiatan vaping karena memang suka/ingin berhenti dari rokok, tak bisa dipungkiri bahwa saat ini banyak orang yang membeli vaporizer dan liquid hanya karena teman mereka membeli hal itu. Suka atau tidak, butuh atau tidak, urusan belakangan. Yang penting punya vaporizer paling mahal, dengan watt terbesar, dan rasa liquid paling unik. Dan selamat, bila kamu seperti ini, maka kamu pantas untuk dinobatkan sebagai salah satu anggota masyarakat konsumeris.

Seperti yang pernah dikatakan oleh Anthonny Giddens, seorang sosiolog asal Inggris, mengatakan bahwa konsumerisme adalah sebuah dampak simultan yang dihasilkan oleh krisis identitas akibat keberagaman komunitas, nilai, dan pengetahuan dalam masyarakat post-tradisional. Konsumerisme bukan didasarkan pada "oh saya suka barang ini" apalagi kebutuhan, sudah jauh dari itu. Konsumerisme adalah sebuah pola konsumsi yang didasarkan oleh masyarakat lain. Karena orang lain suka, saya juga jadi suka. Tapi belum tentu kita suka, apabila orang lain tidak.

Tren memang mau tidak mau akan selalu ada dalam kehidupan manusia, dan itulah yang memanusiakan seorang manusia. Tapi kalau terlalu tergantung pada tren? Kalau kamu terpaksa harus makan mie setiap hari demi beli liquid yang habis hanya dalam waktu empat hari? Kalau uang tabunganmu habis hanya karena kebutuhan yang berawal dari sekadar ikut-ikutan? Mungkin kamu butuh menjauh dulu dari lingkunganmu, dan menanyakan pada dirimu apa yang betul-betul kamu butuhkan dan inginkan, karena kamu sudah menjadi bayang-bayang dari orang lain.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe