Semesta Kecil Perseus - Kunci Kakek [Bagian Satu]

14:21





Cerita: @intankirana
Ilustrasi: @ichalramzy
Foto: @aristian97


Beberapa saat sebelum Kakek meninggal, Kakek memberikan kepadaku sebuah kunci. Tak istimewa seperti di film kolosal: warnanya abu-abu, bergerigi dan berkepala bulat. Tipikal kunci rumahan.

Ia tak menjelaskan itu kunci untuk pintu apa. Tetapi kakek berkata kepadaku dengan terbata-bata berkata, "Ketika kamu sudah siap, kamu akan tahu pintu mana yang akan terbuka olehnya"


Tak lama setelah itu, Kakekku menghembuskan nafas terakhir. Aku menangis meraung-raung. Ada dua hal yang membuatku menangis, yakni karena aku begitu menyayangi Kakek, dan yang kedua, karena jauh di lubuk hati Kakek, aku tahu dia ingin meninggal dengan cara yang lebih megah. Seperti meledak di dalam pesawat ruang angkasa. Sayangnya Kakek meninggal dunia di atas tempat tidurnya. Beberapa saat setelah ia keluar dari rumah sakit.


***
Kakekku dimakamkan di Magelang, tak jauh dari rumahku. Ini juga permintaan kedua bila jasadnya memang tidak bisa terburai di angkasa luar. Setelah melewatkan banyak waktu di kota-kota dunia, bergabung dalam berbagai proyek yang berkaitan dengan luar angkasa, dan proyek terakhir yang kata Kakek, bertujuan untuk mencari fenomena memuainya alam semesta ketika masih kanak, Kakekku memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya, kampung halaman kami.




Di sini, ia sedikit merenovasi rumah. Mengecat beberapa bagian yang lusuh dan menurunkan foto-foto Nenek. Kakekku begitu mencintai Nenek hingga memutuskan untuk melupakannya, setelah ia meninggal lima tahun sebelum Kakek kembali ke Magelang. Setelah renovasi usai, ia membeli tanah di ujung perumahan, yang paling tinggi, yang paling sunyi.Lalu membangun sebuah bangunan baru


Ibu dan paman-bibiku mengira kalau rumah itu akan jadi semacam gazebo atau peristirahatan kecil yang menghadap persawahan, ditemani temaran lelampun rumah penduduk di sekitar. Namun rupanya, yang Kakekku buat jauh dari itu.


Kakekku begitu jatuh hati dengan luar angkasa. Karena yang ia bangun adalah sebuah Observatorium, semacam Bosscha mini. Tempat di man teropong bintang berada, dan dinding-dindingnya dihiasi diorama alam semesta. Seperti rasi polaris yang terlihat jelas di belahan bumi utara, dan juga miniatur tata surya. Serta anggota alam semesta lain yang tak kuketahui pasti. Melalui rumah itu, Kakek bilang ia ingin tetap dekat dengan rumah keduanya (angkasa raya) dan memberikan akses bagi anak-anak sekitar untuk lebih mengenal astronomi.

Aku tertawa ketika Kakek bilang kalau luar angkasa adalah rumah keduanya. Pasalnya Kakekku adalah astronom dan bukan astronot. Kakekku memuja dan mengenal jengkal demi jengkal luar angkasa tanpa pernah menyentuhnya. Ini seperti kakak perempuanku yang mengaku kalau ia sangat mengenal Zayn Malik dari One Direction, padahal keduanya belum pernah bertemu.


Tapi memang sepanjang hidup Kakekku yang singkat, tujuh puluh tahun, luar angkasa adalah hal terbesar yang membuatnya tetap merasa hidup.

***


Waktu Kakekku sudah betul-betul pergi, Ibuku adalah anak Kakek yang kurasa paling kehilangan dan berduka. Tentu saja, Ibu adalah orang yang paling sering bertemu dengan Kakek semenjak Kakek kembali ke Magelang. Sementara itu, Kakak dan Adik Ibu tinggal di kota-kota besar Indonesia, bekerja di gedung-gedung tinggi pusat kota, dan hanya pulang saat lebaran saja.

Dari aku lahir hingga TK besar, kami juga tinggal di Ibukota, di Bandung. Ibuku bekerja sebagai juru masak di sebuah hotel, sementara Ayahku pulang pergi Jakarta-Bandung. Tapi perceraian Ibu dengan Ayah menjadi titik balik dari kehidupan kami. Setahun kemudian Ayah menikah lagi dan Ibu, dengan impiannya memiliki toko kue kecil di kota tempat ia bertumbuh, kembali ke Magelang.

Di antara semua anak Kakek, Ibu lah yang menurut Kakek memiliki jalan pikiran yang sama dengannya. Memiliki ketertarikan akan sesuatu dan hidup karena sesuatu. Walaupun Kakek jatuh cinta dengan angkasa dan Ibu lebih membumi: makanan-makanan penutup. Tapi ketika Ibu kembali ke Magelang, Kakekku malah mempertanyakan hal itu. Kata Kakek, dia senang Ibu kembali, tapi Ibu kembali terlalu cepat.

Baru setelah aku agak besar, naik kelas tiga, aku tahu kalau Kakek ingin Ibu melesat jauh terlebih dahulu lalu kembali: "Mungkin membuat Semifreddo untuk kedai kelas atas di Rivierra. Atau menjadi jenius makanan manis di acara Sweet Genius. Bukan masalah uang, tapi seberapa jauh kamu mengejar mimpi itu."

Tapi menurut Ibu, impian bukan kembang api. Ia tak harus melesat tinggi agar terlihat indah. Seperti kue, kecil dan sederhana, tetapi bisa diraih, dan mengenyangkan. Kalau Kakekku ingin ikut dalam misi Apollo, Ibuku ingin menjadi kue. Sesederhana itu.



Namun di samping perbedaan pendapat yang kecil itu, Ibuku begitu kehilangan. Kata Ibu, rasa kehilangan itu hadir bukan hanya karena Kakek adalah ayah dari Ibu. Tapi Ibu telah begitu terbiasa dengan kehadiran Kakek hingga ketika ia harus pergi, ada sebuah lubang dalam keseharian Ibu yang begitu dalam dan menganga lebar. Lubang itu menimbulkan rasa kosong dan sunyi. Seperti yang aku rasakan.

Dan setiap malam, selama tiga bulan, aku mendengar suara isak tangis Ibu di kamar. 

***
Sudah menginjak bulan keempat semenjak Kakek pergi. Namun terkadang aku masih suka mengenang hari-hari lebar yang kulewati bersama Kakek. Setiap kali aku pulang dari sekolah, Kakekku selalu mengajakku pergi ke perpustakaan dan menceritakan kepadaku tentang bintang-bintang

Bulan depan, usiaku baru akan menginjak sepuluh tahun. Aku suka dengan bintang tetapi aku rasa, aku tidak secerdas Kakek. Padahal, untuk memandang bintang lewat teropong saja, kita harus memahami rumus fisika yang sekarang membuatku pusing kepala. Belum lagi memahami energi gelap yang menaungi alam semesta. Hal-hal semacam itu memang indah untuk didengarkan, tetapi tak mudah untuk diteliti.

Dan aku belum begitu punya keinginan untuk melakukan pencarian alam semeata. Aku hanya suka memandangi rasi-rasi lewat teropong atau peta langit elektronik milik Kakek, dan mengetahui kalau rasi-rasi itu punya cerita dalam beberapa mitologi. Atau, menyimak cerita Kakek tentang kita yang hanya setitik kecil dalam sebuah tata surya, sebuah galaksi, kluster, dan juga superkluster. Juga kemungkinan adanya lubang cacing dan semesta paralel.

Keajaiban dongeng yang mungkin hadir dalam dunia nyata ini, membuatku merasa senang. kadang kala kutulis pula versi semestaku sendiri dalam tugas mengarang dan akan kudapatkan nilai tinggi lantaran hal itu. Tapi kupikir, kalau aku senang dengan cerita demikian, aku lebih pantas jadi pendongeng ketimbang astronom atau astronot. Dan lewat nama Pata yang diberikan oleh Kakek saat aku lahir, yang bermakna Bintang dalam bahasa sansekerta, kurasa Kakek ingin aku jadi seseorang yang berkutat dengan bintang-bintang.

Dan semenjak Kakek pergi, aku jadi lebih sering mengenang Kakek. Lebih rajin menyambangi perpustakaan Kakek dan melihat koleksi-koleksi bukunya yang sebagian besar tak kupahami. Aku jadi ingat. Waktu Kakek masih ada, kalau sesuatu tak kupahami, aku tinggal bertanya. Tapi kali ini, aku tak tahu harus bertanya kepada siapa. 

Jadilah, hari-hari yang kuhabiskan di perpustakaan Kakek hanya bertujuan untuk mengenang Kakek. Melihat foto-foto Kakek saat berada di observatorium. Melihat pertemuan astronom dunia yang pprnah dihadiri Kakek. Kakek yang pergi ke NASA. Kakek dengan teropong besar. Juga membayangkan Kakek yang berkutat dengan buku-buku berbahasa asing yang lusuh, menguning, dan penuh rumus. Mengenang Kakek di hari-hari ini begitu menyakitkan. 

Sudah dua hujan meteor berlalu tanpa kehadiran Kakek dan aku merasa betul-betul kesepian. Aku rindu dengan cerita-cerita Kakek, observatorium mini yang Kakek bangun dan malam panjang yang kami habiskan bersama teropong. Rasanya juga, air mataku selalu berlinang setiap kali aku memandangi barang-barang Kakek. Tapi aku sendiri kecanduan rasa sedih itu. Aku tak mau melupakan Kakek. Kenangan tentangnya kelewat berharga. Meskipun mungkin bila aku lupa, aku akan merasa lebih baik.

Lantas aku jadi teringat kalau Kakek pernah memberikanku sebuah kunci. Kesedihan dan kesibukan ujian semester di sekolah membuatki agak lupa dengan kunci itu. Aku pun tak bilang-bilang pada Ibu, karena kupikir, Kakek memberikannya hanya kepadaku, dan hanya aku yang harus mencari tempat apa yang bisa dibuka dengan kunci itu. Kupandangi lantas laci-laci dan dua buah lemari di dalam perpustakaan Kakekku. Laci-laci dan lemari itu tak pernah sekalipun dibuka oleh Kakek di hadapanku. 

Aku lantas bergegas untuk mengambil kunci dan mencocokkannya pada tiap lubang di lemari dan laci. Namun yang kudapati justru kekecewaan. Bukan karena lemari dan laci-laci tersebut tetap terkunci, tetapi karena mereka memang tak pernah terkunci. Bodohnya aku adalah menganggap kalau semua yang tertutup itu terkunci.

Namun yang lebih bodoh dari diriku adalah kebiasaan melupakan tujuan awal. Melihat banyaknya barang-barang yang terdapat dalam lemari dan laci Kakek, aku merasa penasaran. Kubuka satu demi satu album foto dan map-map yang ada di dalamnya. 

Ada banyak rekaman kenangan. Beberapa penghargaan, piagam, juga ppang-orang besar. Salah satunya presiden negara yang sering muncul di surat kabar. Tetapi yang paling menghangatkan hatiku adaah foto Nenek. Nenekku persis seperti jalan-jalan di Magelang: sederhana, tak banyak ornamen, klasik, tetapi teduh dan menyenangkan. Nenekku cantik tanpa perlu banyak polesan. Ia bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit negeri. Dari dirinya, Ibuku mendapatkan kemampuan untuk mengerjakan banyak pekerjaan dalam satu waktu sekaligus mengingat dengan tepat letak-letak barang. Hal itu menyenangkan karena aku selalu dapat mengandalkan Ibi, tetapi kalau aku sedang bermain, Ibu suka marah-marah karena banyak barang yang tak diletakkan di tempat yang tepat.

Ah Nenek. Aku rasa mungkin kini ia sudah bertemu Kakek. Mengingat selalu hal tersebut, kadang membuat rasa kehilanganku memudar. Kakek sudah lebih bahagia. Namun aku egois, sama seperti Ibu dan manusia lain. Kata Ibu: "Misalkan Ibu ditanya, apakah Ibu mau menggantikan Kakek mati, Ibu akan menjawab 'ya'. Tapi bukan karena Ibu rela berkorban. Pasalnya, Ibu tidak mau merasakan kehilangan. Biar orang lain saja yang merasakan itu. Dan ya, itu adalah sisi egois dari yang biasa dinamakan rela berkorban."

Dari lemari dan laci-laci Kakek, kutemukan juga beberapa hal yang mwnyenangkan. Ada bintang, betul-betul bintang, bukan bintang berkepala berlengan dan berkaki runcing yang biasa dijadikan simbol. Sebuah benda bulat yang saat dinyalakan, akan memancarkan cahaya putih kebiruan. Ini seperti bintang di peta langit elektronik yang indah itu. Aku jadi ingin menelannya bulat-bulat.

Lalu kutemukan pula secarik kertas, sobek di beberapa bagian dan telah menguning. Tanda yang menunjukkan kalau ia telah renta. Ketika kubuka, kulihat tulisan latin khas Kakek yang miring ke samping kiri dan huruf-huruf yang tinggi panjang berlenggok seperti kaum Peri sedang menari. Kupicingkan mata dan kubaca satu demi satu huruf yang ada di sana. 


Saya selalu mengingat Marni seperti mengingat seluruh hidup saya. Maka ketika dia pergi, saya merasa seperti kehilangan hidup saya. 

Selama penemuan tentang dimensi lain di luar empat dimensi tempat kita berada belum benar-benar sahih, selama itu pula saya tak mudah percaya dengan konsep bahwa Marni  bisa melihat saya, di suatu tempat. Jauh di atas sebelas dimensi alam semesta. Mungkin saja dia terpecah dan turun ke dunia ini dalam bentuk serpihan, debu angkasa, sehingga ia bukan Marni yang saya kenal. Jadi saya ragu, apabila kerinduan saya dalam doa, dapat tersampaikan.

Sampai pada suatu waktu, saya bergabung dengan Proyek Lou. Sudah saya ceritakan mengenai proyek ini sebelumnya. Proyek antara saya, Matthew, Dati, dan Igorov yang masih berhubungan dengan luar angkasa. Awal mula proyek ini hanyalah mencari tahu analog bumi di belahan galaksi lain. Mencatat tiap-tiap eksoplanet yang dicurigai punya kehidupan.


"Teleskop pemberian Lou", begitu ujar  Matthew. Yang juga memberi alasan mengapa ini adalah Proyek Lou. Saya sendiri tak terlalu mengistimewakan Michael Lou. Tapi kami memang membutuhkan banyak dana. Walaupun kami tak terlalu membutuhkan teleskop dan Lou tetap memberikan itu kepada kami.

Pada saat itulah kami temukan sebuah hal yang tak kami duga.

Awalnya, kami mencoba mencari alasan paling logis. Mungkin kami terlalu lelah, berpikir tentang bintang-bintang. Mungkin juga ada semacam obat yang dihirup lantas menimbulkan halusinasi. Tapi Teleskop Lou bersih. Kami telah memeriksa semua bagian teleskop ungu raksasa itu, dan tak ada apa-apa. Putus asa, kami kaitkan ini semua dengan Tuhan, mulai goyahlah Igorov dan Dati dengan kepercayaan mereka bahwa keberadaan Tuhan tidak relevan dengan konsep kekekalan energi. 
"Lewat teleskop itu, kami melihat ratusan kehidupan. Ratusan kiamat. Ratusan tata surya yang tamat dalam beberapa tahun. Detik-detik kematian. Namun tahun-tahun yang berlalu itu hanya seperti puluhan detik di dunia kami. Ini kebalikan dari  egala konsep tentang perjalanan ke luar angkasa yang berjarak ratusan tahun cahaya. "

Cahaya menempuh jarak lebih lama bila kita bepergian ke luar angkasa. Itu bila tubuh kita betul-betul pergi ke sana dengan pesawat yang mendekati kecepatan cahaya. Tapi betulkah kami pergi ke sana?  Ataukah konsep teropong ini mungkin seperti teropong bergambar (yang gambarnya bisa diganti-ganti, seolah kau melihat sesuatu yang jauh, padahal gambar-gbar tersebut sudah tersimpan di sana sebelumnya).

Tapi yang kami rasakan nyata. Kami mengarungi luar angkasa. Melewati hal-hal yang hanya bisa ditempuh dengan imajinasi dan film-film fiksi ilmiah dengan kecepatan cahaya. Tanpa pesawat luar angkasa. Tanpa udara. 

Apakah ini berarti perjalanan psikis? Bahwa ruh benar adanya, atau ia sebentuk...graviton? Loop string yang bisa menembus berbagai dimensi ..

Belakangan kemudian, kami menamai teleskop itu Mnemosyne. Salah satu dewi ingatan dalam mitologi Yunani. Mungkin seperti teropong gambar, yang biasa dijadikan oleh-oleh saat pulang dari Haji, teleskop itu menyimpan kenangan, kami tak tahu...

Pasalnya, dalam perjalanan saya ke beberapa kluster galaksi dan tata surya, saya menemui rasi-rasi bintang. Sebagian besar membentuk rasi-rasi yang kami, para astronom, kenal. Tapi ada satu rasi yang membentuk sesuatu yang hanya dikenal oleh saya. Wajah Marni. Tergambar di tengah energi gelap semesta raya. 

"Mungkin kenyataan tak mesti hal-hal yang sesuai dengan premis kehidupan. Sesuatu yang kita rasakan bersama orang lain, barangkali bisa disebut kenyataan..."

Usai membacanya, aku mengernyitkan dahi. Aku tidak tahu surat atau apakah yang ditulis Kakekku ini. Namun mengingat nama Nenekku (Marni) disebutkan di awal, kupikir Kakek sedang mencoba romantis. Cinta bisa membuat orang menjadi apa saja, kan? Termasuk bila seorang astronom ingin menjadi pengarang romantis.
***

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe