Olahraga, Perlombaan Paling Objektif

21:21




I must achieve internal consistency - Edmund Husserl

Sudah sedari dulu dunia memang ditakdirkan untuk menjadi arena perlombaan bagi makhluk hidup. Seleksi alam namanya, sejak era di mana burung-burung langka berada di Pulau Galapagos yang sunyi, hingga era modern seperti saat ini, ketika penyebaran informasi begitu cepat dan mudah. Siapa yang kuat, siapa yang mampu bertahan, siapa yang mampu beradaptasi, dialah yang menang.



Selain perlombaan alamiah ini, yang di mana jurinya adalah alam, ada pula lomba-lomba buatan manusia, dengan para manusia sebagai jurinya. Lomba-lomba ini diselenggarakan dengan berbagai macam hadiah, mulai dari piala, medali, piagam, hingga uang dan kebutuhan primer-sekunder-tersier. Dan sudah menjadi hal yang umum apabila elemen terpenting dalam perlombaan adalah objektivitas juri.



Tapi apakah semua lomba mengandung objektifitas?



Kita sering mendengar lomba-lomba semacam lomba menyanyi, lomba menulis, kontes kecantikan, dan lomba-lomba lain yang tidak diukur berdasarkan skor. Semua juri lomba-lomba itu mengklaim bahwa mereka sangat objektif dalam menilai. Memang setiap lomba memiliki standardisasi penilaian. Tapi apakah, standardisasi itu, sekali lagi, objektif?



Mungkin, tidak ada manusia yang benar-benar objektif. Setiap manusia menilai dengan dasar pengalaman hidup mereka, dan hal itu mempengaruhi objektifitas tentunya. Objektifitas pun menjadi sebuah mitos, karena objektifitas sendiri adalah upaya yang tidak tergantung pada segala hal dari subjek yang menyelidikinya. Tidak mungkin sekelompok manusia memberi penilaian atau membuat standardisasi yang objektif, karena manusia adalah makhluk yang penuh dengan pengalaman dan punya kemampuan berimajinasi.



Maka dari itu, perlombaan yang menurut saya paling objektif adalah olahraga. Olahraga adalah perlombaan yang dinilai dengan menggunakan skor, sesuai dengan apa yang bisa kita tangkap dengan pandangan. Sebuah tim sepakbola, -tak peduli bagaimana skill-nya, keberuntungannya, dan lain sebagainya- akan dianggap menang apabila mereka mampu mencetak gol lebih banyak. Hal yang sama juga terjadi pada atlet bulu tangkis, atlet renang, dan semua atlet yang kini tengah berlaga di Olimpiade Rio de Janeiro 2016.



Perlombaan selain itu? Menurut saya, penilaiannya tergantung selera. Semisal Oscar, ajang pencarian bakat, semuanya tergantung selera. Tidak ada skor yang pasti dalam menilai keindahan sebuah film ataupun suara. Begitupun tulisan, misalnya, dalam lomba menulis. (Inilah mungkin alasan mengapa saya tak pernah lagi mengikuti lomba. Karena saya bukan olahragawan, dan saya sering mempertanyakan baik kekalahan maupun kemenangan saya.)



Mungkin untuk memutuskan sebuah karya baik atau buruk, kita masih bisa menggunakan penilaian tertentu. Tapi untuk memutuskan siapa juaranya di antara dua karya yang indah, ini lagi-lagi sudah bukan perkara objektivitas. Kembali lagi pada selera penilai. Saat menonton American Idol misalnya. Yakinkah kalau si juara satu punya suara yang lebih indah ketimbang si juara tiga? Atau dalam Oscar, apakah film yang memenangkan Oscar memang seutuhnya lebih baik ketimbang film yang hanya masuk nominasi?



Untuk itu, semestinya kita tahu bukan mengapa olahraga adalah hal yang menarik untuk ditandingkan? Karena juri bersifat paling objektif saat mereka menilai kemenangan dan kekalahan seseorang dalam olahraga. Dan penonton pun menjadi saksi bagi kemenangan tersebut.


Foto: Liputan 6.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe