Menjual Label Cantik, Masih Jaman?

11.56


Kalau saja ada tren yang tak pernah bisa hilang, mungkin itu adalah tren yang berkaitan dengan perempuan cantik. Contohnya seperti polwan cantik, atlet cantik, dosen cantik, dan sebagainya. Sebetulnya semua perempuan memang cantik. Tapi menyematkan kata cantik dalam sebuah wacana, seperti berita atau post-post di media sosial, seolah menegaskan bahwa tidak semua perempuan pantas disebut cantik;hanya beberapa di antara mereka yang cantik, dan bahwa cantik adalah sebuah hal yang sangat menjual dan pantas diperbincangkan.

Tidak hanya berita atau post tentang seseorang dengan profesi tertentu yang cantik, akun-akun instagram tentang kumpulan foto anak cantik di universitas tertentu pun juga sama: menjadikan kecantikan sebagai nilai utama. Hanya mereka yang cantik yang pantas masuk ke dalam Instagram tersebut. Tentunya dengan ukuran cantik ala Indonesia, yang berarti berbadan langsing, bermata besar, berhidung mancung, dengan bibir yang tidak tebal tapi juga tidak tipis, wajah simetris, dan kebanyakan berkulit putih (hanya sedikit yang berkulit hitam, bahkan hampir tidak ada). Semacam sedikit berkiblat pada bangsa Eropa.

Terkait Bangsa Eropa, pada masa Victorian, kulit putih pucat menjadi dambaan para perempuan dan menjadi tanda tingginya kasta perempuan tersebut. Pasalnya, perempuan dengan kulit putih pucat adalah perempuan yang tak perlu bekerja di bawah terik matahari, para perempuan kelas atas yang tak perlu menjadi pesuruh orang lain. Maka dari itu, banyak dijual bedak-bedak yang dapat memberikan ilusi kulit putih pucat.

Alat kosmetik dan perawatan tubuh sebagai piranti untuk menunjang kecantikan akan selalu ada dari masa ke masa, dan tentunya mengikuti tren kecantikan yang ada pada masa itu. Misalnya, pada awal abad ke 20, di mana make-up mulai menjadi tren bagi perempuan. Make-up, yang pada masa Victorian menjadi hal yang tidak pantas dipakai oleh perempuan kelas tinggi (karena make-up identik dengan para PSK dan juga pemain teater yang dianggap berada di kelas bawah). Dan pada saat ini, pipi yang kencang dan tirus, serta alis yang tebal dan simetris menjadi tolok ukur kecantikan. Untuk itu, tidak mengherankan apabila banyak salon yang menyediakan fasilitas sulam alis dan juga perawatan pengencangan wajah.


Make-up dan produk kecantikan memang sangat berguna untuk membuat perempuan lebih kreatif dalam berpenampilan. Sayangnya, beberapa iklan dan media merusak esensi dari hal tersebut. Banyak iklan dan media yang melebih-lebihkan dan mengkotak-kotakkan makna cantik, semacam cantik itu harus putih, cantik itu harus tirus, cantik itu ya seperti si polwan cantik, si anak UI cantik, anak UGM cantik. Mereka yang kulitnya putih, yang pipinya tirus, juga yang punya alis tebal melengkung. Yang tidak begitu, bukanlah perempuan cantik.

Keinginan untuk menjadi "cantik" seperti "orang lain" ini akan mengubah perlakuan mereka pada piranti seperti make-up dan produk perawatan: yang semestinya digunakan untuk menampilkan kecantikan terberi mereka, menjadi hal untuk mengubah kecantikan mereka menjadi seperti orang lain. Yang kemudian dapat berujung pada commodity fetishism, sebuah persepsi tentang hubungan ekonomi antara komoditas dalam pasar, dan uang yang dimiliki oleh konsumen. Commodity fetishism yang menjadi kritik ekonomi politik Karl Marx, mengubah sesuatu yang subjektif menjadi seolah objektif. Konsumen "dihipnotis" agar percaya bahwa sesuatu itu memang dibutuhkan dan punya nilai intrinsik khusus. Kalau perlu, hingga tataran kebutuhan primer.



Entah kenapa banyak pihak yang begitu trga mengemas kecantikan dengan definisi yang sempit dan murahan. Yang jelas, bukan salah produk kecantikan itu sendiri, terlebih produk-produk yang memang bertujuan untuk merawat tubuh perempuan. Bukan salah para perempuan yang ingin menjadi cantik seperti orang lain, karena saban kali dia membuka handphone, menyalakan televisi, dan lain sebagainya, dia akan dihadapkan pada wacana-wacana kecantikan yang banal. Mungkin juga bukan salah lelaki yang kemudian mengubah seleranya terhadap perempuan karena terlalu banyak mengonsumsi media tertentu. Lalu salah siapa, yang berhasil menghipnotis ribuan orang untuk memiliki pemikiran yang serupa, tapi inferior dan begitu mencintai sosok orang lain ketimbang dirinya sendiri?

Sumber:
http://static.guim.co.uk/sys-images/Observer/Pix/pictures/2009/12/23/1261568371934/Hedy-Lamarr--femme-fatale-001.jpg
__http://a3.files.fashionista.com/image/upload/c_fit,cs_srgb,dpr_1.0,q_80,w_620/MTMwMTA3NDg3Nzg0MzIzMDgy.jpg
http://mensinterestmag.com/wp-content/uploads/2012/06/femme-fatale.jpg
Kompleks Industri Kecantikan: sebuah kritik sosio filosofis, skripsi oleh Dian Paramita
Capital: Critique of Political Economy oleh Karl Marx__

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe