Mengapa Kematian Mesti Mengejutkan?

20.27



Bayangkan bila kamu adalah seorang terdakwa di tengah persidangan. Kamu berharap bahwa hakim akan memberikanmu belas kasihan. Tapi tak disangka, dia malah menjatuhkan hukuman mati kepadamu.

Atau tempatkan dirimu dalam posisi di mana kamu adalah seorang pasien yang baru saja divonis oleh seorang dokter, bahwa hidupmu tinggal beberapa tahun lagi. Apa yang kamu rasakan? Kebanyakan di antara kita, bahkan hampir semuanya, akan merasa cemas, takut, dan menderita.

Padahal kalau dipikir-pikir lagi, manusia pasti akan mati. Entah esok hari atau beberapa belas tahun lagi. Kita tidak pernah tahu pasti atau mengira-ngira kapan kita akan mati. Kecuali ya kalau kita mendapatkan vonis dokter bahwa umur kita tidak panjang (itupun tidak akurat) atau dijatuhi hukuman mati oleh hakim.

Padahal bukankah biasanya kita suka dengan kepastian? Saat masih bersekolah, kita selalu ingin tahu apakah kita naik kelas dan berapa nilai kita. Begitupun saat kuliah. Di tempat kerja, kita selalu ingin tahu kontinuitas tempat kerja kita, kapan kita naik gaji, kapan kita naik jabatan, dan sebagainya. Tapi perihal kematian, kenapa kita seolah tak pernah ingin tahu? Mengapa segala informasi yang berhubungan dengan kematian selalu menakutkan?

Manusia merasa bahwa kematian adalah pembatas dari keberadaan mereka. Insting dasar manusia adalah bertahan hidup, terus melanggengkan keberadaannya. Manusia pun takut dengan misteri dari kematian. Maka dari itu, manusia ingin hidup selama mungkin. Padahal karena manusia mengada di dunia ini, maka kematian adalah salah satu hal yang harus ada untuk menegaskan keberadaannya tersebut.

Meminjam istilah Martin Heiddeger, filsuf Jerman pada abad ke-20, manusia adalah Dasein, atau being there, mengada. Karena manusia mengada pada kehidupan ini, maka ada awal dan akhir untuk menegaskan keberadaannya tersebut. Semua yang mengada mengalami waktu. Waktu terdiri atas permulaan dan akhir. Maka, bila manusia tidak mati, maka dia mengingkari takdirnya sendiri sebagai sesuatu yang mengada.



Kematian itu mutlak.

Tapi karena kematian adalah hal yang sangat misterius, maka manusia menakutinya. Kita selalu takut pada hantu, karena kita tidak tahu sosoknya seperti apa. Apakah dia benar-benar ada atau hanya rekaan. Kita juga takut pada masa depan karena belum pasti. Banyak yang bilang kalau setelah kematian pasti ada kehidupan lagi (akhirat). Ada pula yang bilang bahwa setelah mati, segalanya adalah kekosongan, karena kita akan kembali pada ketiadaan. Namun dari berbagai teori yang ada, tidak ada yang betul-betul kita ketahui pasti. Kematian tetap menjadi misteri, dan menjadi jalan satu arah. Tidak ada kata kembali dan mengulang dalam kematian.

Manusia selalu ingin hidup ribuan tahun lagi. Vonis mati seperti yang beberapa waktu lalu diberlakukan pada Freddy Budiman, misalnya, hanya akan mematahkan harapan manusia untuk hidup selama mungkin. Barangkali juga, apabila kita melakukan riset, sebagian besar manusia ingin hidup sampai usia seratus tahun. Atau lebih. Jadi, mereka tidak ingin cepat-cepat mengetahui kapan mereka akan mati. Apalagi bila mereka masih berada dalam rentang usia 20-40 an tahun. Hal tersebut akan mematahkan harapan mereka.

Padahal, harapan adalah salah satu bahan bakar manusia untuk tetap bertahan hidup. Bukankah sering kita lihat manusia yang kehilangan harapan, nampak sakit-sakitan dan tak bisa apa-apa -kendati semua organ mereka masih berfungsi dengan baik-?

Foto Heiddeger: Wikipedia

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe