Masihkah Kamu Cinta Mati Pada Idolamu?

17:33



Setiap kali ada pemilihan pemimpin baru di Indonesia, baik dalam skala kota, provinsi, maupun nasional, kita akan selalu menemukan sekelompok fans garis keras yang akan membela calon pemimpin pilihannya, apapun yang terjadi. Contohnya Pemilihan Gubernur DKI Jakarta yang baru akan berlangsung pada 2017 mendatang. Ada sekumpulan fans garis keras Basuki Tjahaja Purnama dan Tri Rismaharini yang turut meramaikan perseteruan keduanya. Bagi fans Basuki, yang akrab disapa Ahok, pastilah mereka akan mati-matian memasang badan (dan juga komentar online) di segala media sosial, kolom komentar, dan media lain yang menyinggung masalah ini. Sementara itu, hal yang sama juga dilakukan oleh fans keras Risma, begitu panggilan akrab walikota Surabaya ini. Bahkan ada pecinta Risma yang berada di Jakarta dan mati-matian menginginkan Risma untuk menjadi gubernur DKI Jakarta, hingga membentuk sebuah..mungkin bisa disebut fans club.

Sebelumnya, permasalahan Ahok vs Risma ini berawal dari komentar Ahok tentang Surabaya yang hanya sebesar Jakarta Selatan. Waktu itu, seorang pewarta menunjukkan pada Ahok tentang bagaimana Risma mampu membenahi Jakarta. Meskipun Ahok telah mengklarifikasi ucapannya tersebut, tetapi masalah ini terlanjur membuat Risma naik pitam.

Baik calon pemimpin, pemimpin, penyanyi, selebtwit, selebgram, dan juga publik figur lainnya, semua memang terlihat peduli pada orang lain. Peduli pada rakyat. Peduli pada penggemar. Memang sih ada yang betul-betul peduli. Tapi berapa persen dari mereka? Dan seberapa kadarnya?

Sisanya? Saya tidak yakin mereka betul-betul peduli. Kepedulian, buat sebagian besar dari mereka, seperti yang sudah menjadi rahasia umum, hanya menjadi komoditas untuk meningkatkan nilai jual dan melanggengkan karir mereka. Ya memang sih hal itu wajar. Tapi seharusnya kita tahu hal itu, dan mulai berhenti mengagumi figur.




Banyak figur publik yang memiliki pemikiran bagus. Pemikiran yang patut untuk dikagumi. Juga karya yang bagus. Tapi tetap saja, karya dan pemikiran itu tidak menggambarkan diri dia seutuhnya. Ada bagian-bagian dari dirinya yang tak terkandung dalam karya dan pemikirannya. Maka dari itu, saya meraaa muak dengan orang-orang yang menuhankan dan memuja sesosok orang hanya karena dia punya pemikiran dan karya yang menakjubkan. Untuk apa? Dia toh tetap manusia biasa yang punya kekurangan.

Maka mungkin benar tentang apa yang dikatakan oleh Paul Beatty, seorang penulis Amerika kontemporer, dalam bukunya yang berjudul Slumberland: Heroes. Idol. They are never who you think they are. Shorter. Nastier. Smellier. And when you finally meet them, there is something that makes you want to choke the shit out of them. Para fans garis keras terlalu dibutakan oleh citra idolanya di media sosial dan juga televisi. Di sana, jelas mereka terlihat seperti lebih dari sekadar manusia. Di dunia asli? Banyak di antara mereka yang kadang kelakuannya tidak manusiawi.

Ini tentunya juga berlaku pada fans garis keras yang membela selebriti junjungannya di media-media seperti Instagram, Forum, dan sebagainya. Seolah idolanya tidak bersalah? Seorang lugu yang sering difitnah sana-sini? Seorang yang sempurna? Saya suka merasa kasihan dengan orang-orang lugu seperti ini. Hanya karena idolanya bersinar di panggung, lantas dia tak boleh punya dosa. Padahal, idolanya juga tak peduli dan terkadang malah menganggap rendah para fans.

Tidak tahu kan kalau banyak selebriti dan publik figur yang kamu idolakan mati-matian, yang kamu bela mati-matian bak pejuang yang membela negaranya itu mungkin sering membicarakanmu bersama teman-temannya? Bukan pembicaraan yang positif. Tapi mungkin pembicaraan semacam "kesel gue sama alay-alay yang minta difolbek di Instagram".

Iya, kamu tidak lebih dari kremi yang tak terlalu penting bagi hidup mereka. Untuk itu, ketimbang kamu terlihat menyedihkan bak punguk merindukan bulan, lebih baik berhentilah mengidolakan seseorang, dan cukup kagumi karya dan pemikirannya saja.

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe