Dari Kalimat "Nggak usah balik ke Indonesia!"

06:52


It's such a shame that we know so little about our own country, that we can't find it in our hearts to love our own kind. Instead we admire those who show our country disrespect and betray its people - Orhan Pamuk- Recepient of 2006 Nobel Prize in Literature.


Kasus Archandra Tahar yang dicopot dari jabatan Menteri Sumber Daya dan Mineral memancing banyak komentar dan kritik dari masyarakat Indonesia. Bagaimana tidak? Seorang pribadi yang bisa dikatakan mumpuni dalam bidang tersebut, dicopot lantaran masalah kewarganegaraan. Archandra disinyalir memiliki kewarganegaraan ganda, yakni Indonesia dan Amerika Serikat. Di mana Amerika Serikat mengakui kewarganegaraan ganda, tetapi Indonesia tidak.


Banyak orang yang mempertanyakan: pengangkatan jabatan setingkat menteri, kok bisa begini cerobohnya?


Tapi kita tidak akan menelusuri siapa yang paling salah. Entah presiden, BIN, atau kementerian terkait. Yang akan kita bahas adalah perihal respon sebagian masyarakat Indonesia yang kurang lebih berbunyi seperti ini: nggak usah balik ke Indonesia, mending ke luar negeri, karena di sana orang pintar lebih dihargai.


Memang sih, ada banyak birokrasi berbelit dalam negara ini. Menyusahkan banyak orang kreatif dan inovatif. Tapi yah, respon tersebut seolah menegaskan kalau yang tersisa di negeri ini adalah orang-orang yang kurang atau tidak pintar. Makanya tidak heran kalau banyak orang Indonesia yang mengejar kesempatan untuk kuliah atau bekerja di luar negeri bukan karena mau menuntut ilmu atau menggapai passionnya, tapi karena ingin dianggap pintar saja.


Archandra, Habibie, dan mungkin banyak orang lain dari Indonesia, kemampuannya lebih dihargai saat mereka berada di luar negeri. Tapi ada pula orang-orang yang kemampuannya akan lebih berguna dan lebih dihargai saat mereka berada di dalam negeri. Tidak patut untuk dianggap rendah atau dianggap tidak sepintar orang-orang yang punya kesempatan mengembangkan kemampuannya di luar negeri. Sungguh pikiran yang sangat naif,karena setiap manusia berbeda-beda bukan?


Apakah kita akan menganggap,orang-orang yang misalnya, membuat usaha di Indonesia, menjadi budayawan di Indonesia, memiliki organisasi non-profit di Indonesia, membuat perusahaan start-up, menjadi dokter di Indonesia, membuka warung, menjadi seniman, sebagai orang-orang yang tidak lebih baik ketimbang mereka yang karirnya cemerlang di luar negeri? Yang karirnya lebih diakui di luar negeri? Kan memang peluang dan ruang orang untuk sukses itu berbeda-beda. Ada yang memang bidang yang dia minati lebih dihargai di luar. Ada pula yang memang lebih dihargai di Indonesia. Ada yang mampu menembus birokrasi negara asing, ada pula yang lebih mampu beradaptasi dengan birokrasi Indonesia yang berbelit-belit.


Negara kita memang masih banyak kekurangannya, tetapi bukan berarti mereka yang bertahan tetap di sini juga sama kurangnya. Dan yang terakhir,tulisan ini tidak bermaksud untuk mencerca orang yang berkarir di luar negeri. Tidak sama sekali. Saya sangat bangga dengan putra-putri bangsa yang memutuskan untuk berkarir di luar, berdedikasi tinggi dan semangat mengejar impiannya di luar negeri. Tapi sekali lagi, untuk tinggal ataupun beranjak dari negara ini, adalah masalah pilihan dan bukannya masalah lebih pintar ataupun lebih bodoh.


Mungkin memang semestinya kita harus belajar untuk tidak selalu kesal dengan negara kita sendiri.

__Foto: Flickr.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe