Betapa Nikmatnya Lari Dari Dunia Nyata

10.47



Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya.” – Goethe


Kalimat ini adalah pembuka dari novel filsafat berjudul "Dunia Sophie" karya Jostein Gaarder, dan diutarakan oleh Johann Wolfgang Von Goethe, seorang penulis dan juga filsuf Jerman pada abad ke-18. Seketika saya mengingat banyak orang yang tidak bisa mengambil pelajaran dari masa lalu: tak perlu lama-lama 3000 tahun, tapi masa lalu di hari kemarin, minggu kemarin, dan bulan kemarin.

Banyak teman saya yang pemabuk. Banyak juga yang di antara mereka adalah pengguna narkoba (tak rutin, namun cukup untuk digrebek polisi). Tak ubahnya seperti para selebriti yang silih berganti tertangkap tengah mengonsumsi narkoba.

Penggunaan narkoba adalah sebuah hal yang merugikan. Klise memang, tapi sudah jelas kerugiannya. Sudah banyak sekali orang yang kehidupannya memburuk karena ketergantungan alkohol dan terutama, narkoba. Tak hanya kesehatan yang memburuk, tapi juga citra. Seketika citramu akan hilang saat kamu tertangkap tengah mengonsumsi narkoba. Padahal citra adalah senjata utama bagi para selebriti untuk tetap bertahan di dunia hiburan. Seperti kasus penangkapan Gatot Brajamusti pada Hari Senin lalu di sebuah hotel, tengah menggunakan sabu, misalnya. Esok hari dia tak akan lagi jadi ketua Parfi, main cult movie macam Azrax, atau dipercaya sebagai seorang guru spiritual.



Sayangnya, mereka sama sekali tak pernah mengambil pelajaran. Jangankan 3000 tahun, yang belum setahun pun mereka tak peduli. Mungkin karena terlalu banyak pikiran, entah. Tapi memang dunia hiburan adalah dunia yang sinarnya menyilaukan hingga membuatmu mau tak mau menggunakan kacamata palsu untuk bisa bertahan. Terus menerus begitu. Maka banyak di antara mereka yang kemudian menggunakan narkoba, atau ketergantungan alkohol. Alkohol dan narkoba dianggap jalan lari sementara dari rasa muak, rasa tertekan. Seperti kamu yang muak dengan tugas sekolah/kuliah/kantor, lantas memutuskan untuk tidur siang, lari dari kenyataan. Bedanya, saat tidur kamu hanya tidur saja, mimpi pun acak. Sementara itu narkoba dan minuman keras akan menimbulkan efek melayang. Entah di mana asyiknya. Kata mereka yang telah mencoba sih, asyik. Seperti ke langit. Macam Lucy In The Sky with Diamond, barangkali.

Tapi tidak selamanya kamu bisa lari dari kenyataan. Kenyataannya adalah, hidup terus berjalan. Kenyataannya juga, kalau kamu mau lari dari palsunya dunia hiburan, kamu hanya harus betul-betul keluar dari dunia tersebut. Meninggalkan 'teman-temanmu' dan segala persyararan fisik serta ekonomi yang ada untuk dapat berkawan dengan mereka. Menurunkan standar hidup dan tidak terus menerus memaksa untuk menghidupi hidup yang tak bisa betul-betul kamu capai.



Tapi manusia butuh pengakuan. Dan kebanyakan pengakuan itu ingin mereka dapatkan langsung. Banyak manusia yang ingin tampil dan merepresi kemuakkan dalam diri mereka atas segala hal yang palsu. Mereka menekan dalam-dalam rasa lelah dan ketidaksanggupan untuk menjalani kehidupan hedon agar mereka tetap tampil. Tanpa mereka sadari, kebutuhan untuk tampil itu disalahartikan sebagai kebutuhan dasar mereka dan kehidupan yang harus mereka perjuangkan. Padahal apa yang mereka perjuangan hanyalah semu belaka. Sesuatu yang sebetulnya tak membuat mereka nyaman.

Maka dari itu, mereka sebetulnya tak betul-betul ingin lari. 'Pelarian' pada hal-hal semacam konsumsi alkohol berlebihan, atau narkoba hanyalah sebuah usaha untuk menekan dalam-dalam keinginan untuk lari. Dan begitulah, mengapa kita seolah melihat banyak selebriti yang tak pernah lelah dengan drama narkoba dalam kehidupan mereka. Karena sepertinya, lari dari keinginan sejati diri mereka merupakan pilihan mereka sendiri. Kilaunya panggung yang membuat mereka bersinar mungkin sulit untuk dilupakan.


Foto: Kapanlagi.com
pixabay.com

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe