What to Know: Konsep Trilema Ekonomi

18:43



Masyarakat bisa dengan mudah menuntut negaranya untuk memiliki sistem ekonomi yang sempurna. Dengan nilai tukar asing yang stabil, kebijakan moneter yang independen, dan mudahnya mendapatkan arus modal dari luar. Seolah hal-hal tersebut tak sulit untuk dilakukan. Tapi nyatanya, setiap pemerintahan hanya bisa memilih dua di antara tiga hal tersebut.

Memaksakan untuk memilih ketiga kondisi ekonomi tersebut akan berujung pada suatu hal yang buruk. Contohnya, seperti yang terjadi pada tahun 1997-1998, di mana negara-negara di Asia mencoba untuk menggunakan tiga hal tersebut sekaligus, dan berdampak pada Krisis Asia TImur, seperti yang tertulis dalam riset berjudul "Asia Confronts the Impossible Trinity" oleh Ila Pathnaik dan Ajay Shah dari New Delhi's National Institute.

Pada saat itu, negara-negara Asia Timur mengizinkan bebasnya arus modal, membuat kebijakan independen guna menurunkan depresi, dan juga menjangkarkan mata yang ke US dolar. Saat investor menarik uang karena keseimbangan perdagangan yang bergeser, krisis pun akhirnya terjadi. Tidak sulit bagi investor untuk menarik uang karena nilai tukar yang telah dijangkarkan pada dollar Amerika Serikat. Hal ini pun membuktikan bahwa tidak mungkin suatu negara atau daerah memilih tiga kebijakan tersebut sekaligus untuk diterapkan



Ketidakmungkinan memilih ketiga kondisi ekonomi tersebut dinamakan Trinitas yang Mustahil, atau Trilema Ekonomi. Indonesia sendiri memilih untuk mengorbankan stabilitas mata uang dan mempertahankan kebijakan moneter independen, serta kemudahan mendapatkan arus modal dari luar. Maka dari itu, tidak mengherankan apabila nilai tukar rupiah seringkali fluktuatif, tergantung kepercayaan negara lain terhadap rupiah. Namun ini adalah pilihan yang telah diambil oleh pemerintahan kita, mengingat Indonesia tengah membangun sektor riil dan juga bisnis, sehingga dibutuhkan adanya aliran arus modal serta kemampuan mengatur kebijakan moneter sendiri.

Sementara itu, ada pula yang memilih untuk mengorbankan kemampuan untuk mengatur kebijakan moneter secara independen, yakni Uni Eropa. Uni Eropa menggabungkan mata uang anggota negaranya menjadi Euro, supaya nilai tukar stabil dan arus modal tetap kuat. Namun resikonya, mereka tidak bisa mengatur kebijakan moneter negara mereka masing-masing. Semua harus ditanggung secara bersamaan. Mungkin itu alasan mengapa dulu, Inggris memutuskan untuk tetap menggunakan Poundsterling walau menjadi bagian dari Uni Eropa. Meskipun alasan itu sudah tidak berarti lagi mengingat lebih dari separuh rakyat Inggris Raya telah memutuskan Brexit (Britain Exit - Keluar dari Uni Eropa), dalam referendum yang digelar beberapa waktu lalu.

Pada dasarnya, tidak ada kebijakan ekonomi yang sempurna. Jadi agak lucu apabila orang awam terus mengkritik dan mempertanyakan mengapa Indonesia tidak bisa punya mata uang stabil, mengapa terlalu banyak investor asing, dan lain sebagainya. Karena mengambil keputusan dalam kebijakan ekonomi tidaklah semudah memutuskan akan makan apa hari ini.

Tidak mungkin pemerintah mengambil tiga pilihan sekaligus dalam sebuah kebijakan ekonomi, kecuali kalau pemerintah berani menanggung resiko krisis besar di kemudian hari.

Sumber:
Asia Confronts The Impossible Trinity, by Ila Patnaik and Ajay Shah
hendriyono.com
zenius.net

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe