PNS Selalu Menjadi Tokoh Antagonis

10.52



People are sheeps. TV is the shepherd- Jess C. Scott


Kita tahu sih PNS itu memang pelayan publik. Namanya juga pegawai negeri sipil. Maka dari itu, wajar kalau rakyat cukup banyak menuntut dan memperhatikan PNS. Keeping an eye on them. Begitu istilahnya.


Lagipula, kebanyakan PNS punya jam kerja yang asyik (kalau dibandingkan dengan sebagian besar pegawai swasta). Maka dari itu, tes CPNS selalu diikuti oleh banyak orang. Selain itu juga, PNS tidak perlu takut kalau perusahaannya bangkrut.


Dan tiap tahun, usai lebaran, kita akan selalu menemukan wacana semacam ini di media massa: PNS terlambat kerja usai lebaran. Atau PNS tidak masuk kerja di hari pertama setelah cuti lebaran. Kemudian berita itu akan menjadi sasaran empuk banyak komentator (yang entahlah kerjanya juga becus atau tidak).


Di sini, saya tidak bermaksud membela PNS. Saya sendiri pun bukanlah seorang PNS. Tapi berita semacam ini selalu provokatif. Mengapa hanya PNS? Toh banyak pegawai swasta yang juga terlambat di hari pertama kerja usai cuti lebaran. Atau tidak masuk karena sakit/masih terjebak macet/berbagai alasan lain. Itu adalah hal yang sangat wajar. Meskipun memang, dalam jumlah banyak, akan mengganggu kinerja. Lembaga negara sebagai pelayan publik juga kinerjanya akan terganggu bila usai cuti lebaran, banyak Pegawai Negeri Sipilnya yang belum masuk kerja. Tapi sekali lagi, itu bukan cuma Pegawai Negeri Sipil.


Sayangnya, bukan media kalau tidak suka menyalakan kompor. Media jaman sekarang menganggap kalau isu yang memancing banyak kemarahan dan kebencian adalah isu yang seksi dan berbobot. Ada beberapa oknum yang terlihat dianggap "musuh" oleh media, dianggap antagonis bak Voldemort, Sauron ataupun Adriana-nya sinetron stripping "Anak Jalanan", dan dituliskan sebagai sosok jahat dalam tiap pemberitahan. PNS adalah salah satunya. PNS itu antagonis. Pemerintah juga antagonis. Mereka berkongsi bak Sauron dan Saruman. Sementara itu, rakyat miskin protagonis.


Kita memang tidak boleh menutup mata bahwa banyak PNS dengan kinerja asal-asalan dan punya birokrasi rumit. Tapi sekali lagi, sesungguhnya bukan hanya PNS yang begitu. Dan tidak semua PNS begitu. Tapi kita toh, seperti anak-anak, tidak suka bukan melihat tokoh antagonis punya sisi baik? Coba bayangkan, seandainya kamu menerima fakta bahwa dalam pewayangan Rama Shinta, Rama sebetulnya egois dan tidak punya inisiatif, sedangkan Rahwana punya sifat penyayang dan menghormati perempuan, kamu pasti tak akan terima bukan? Karena sejak kecil, kamu diajarkan bahwa si antagonis tak punya sisi baik sedikitpun.


Dan dongeng semacam ini, sayangnya mulai jadi bahan jualan media kita. Yang membuai kita layaknya anak kecil yang mendengar cerita pendongeng.

Sumber Foto:
Antarfoto
Flickr

You Might Also Like

0 komentar

Our Shop

Subscribe